Imam Husain as berkata,
"Tidak seorang pun akan merasa aman pada hari kiamat, kecuali orang yang semasa hidup di dunia takut kepada Allah."
📚Bihar al-Anwar, jilid 44, hlm. 192.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Tidak seorang pun akan merasa aman pada hari kiamat, kecuali orang yang semasa hidup di dunia takut kepada Allah."
📚Bihar al-Anwar, jilid 44, hlm. 192.
http://Telegram.me/TahukahAnda
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Seorang nenek yang setiap hari menyeberangi sungai...
Bukan untuk pulang ke rumah, bukan pula untuk suatu keperluan pribadi, melainkan semata-mata demi melayani para peziarah Arbain Imam Husain as.
Mungkin kakinya telah letih, tetapi hatinya tetap muda dan dipenuhi cinta kepada Imam Husain as.
Arbain tetap hidup dan abadi berkat hati-hati yang tulus seperti ini; hati yang menganggap melayani para peziarah sebagai sebuah kehormatan, dan mengerahkah seluruh kemampuan mereka untuk itu.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk para pelayan dan pecinta sejati Sayyidus Syuhada, Imam Husain as🤲🤲
http://Telegram.me/TahukahAnda
Bukan untuk pulang ke rumah, bukan pula untuk suatu keperluan pribadi, melainkan semata-mata demi melayani para peziarah Arbain Imam Husain as.
Mungkin kakinya telah letih, tetapi hatinya tetap muda dan dipenuhi cinta kepada Imam Husain as.
Arbain tetap hidup dan abadi berkat hati-hati yang tulus seperti ini; hati yang menganggap melayani para peziarah sebagai sebuah kehormatan, dan mengerahkah seluruh kemampuan mereka untuk itu.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk para pelayan dan pecinta sejati Sayyidus Syuhada, Imam Husain as🤲🤲
http://Telegram.me/TahukahAnda
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Orang-orang Irak memiliki sebuah kebiasaan yang indah. Ketika seorang peziarah melintas di depan mawkib (pos pelayanan), mereka dengan sungguh-sungguh berusaha agar peziarah itu tidak lewat begitu saja tanpa dijamu.
Desakan mereka bukan sekadar basa-basi, melainkan karena mereka menganggap melayani para peziarah Imam Husain as sebagai sebuah kehormatan.
Dalam video ini, Anda akan menyaksikan sebagian kecil dari cinta dan keramahan yang luar biasa tersebut, sebuah budaya yang setiap tahun membuat jutaan peziarah jatuh hati kepada masyarakat Irak.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Desakan mereka bukan sekadar basa-basi, melainkan karena mereka menganggap melayani para peziarah Imam Husain as sebagai sebuah kehormatan.
Dalam video ini, Anda akan menyaksikan sebagian kecil dari cinta dan keramahan yang luar biasa tersebut, sebuah budaya yang setiap tahun membuat jutaan peziarah jatuh hati kepada masyarakat Irak.
http://Telegram.me/TahukahAnda
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw bersabda,
"Barang siapa yang setiap hari bersalawat kepadaku tiga kali dengan didasari kecintaan dan kerinduan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya pada hari itu atau malam itu."
📚Biharul Anwar, 97/69; Mustadrak al Wasa'il, 5/331.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Barang siapa yang setiap hari bersalawat kepadaku tiga kali dengan didasari kecintaan dan kerinduan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya pada hari itu atau malam itu."
📚Biharul Anwar, 97/69; Mustadrak al Wasa'il, 5/331.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw dalam wasiat beliau kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersabda,
"Hai Ali! Barang siapa yang pada setiap pagi dan malam bersalawat kepadaku, maka syafaatku (pertolonganku) wajib atasnya, sekalipun dosanya termasuk dosa besar."
📚Biharul Anwar, 91/63.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Hai Ali! Barang siapa yang pada setiap pagi dan malam bersalawat kepadaku, maka syafaatku (pertolonganku) wajib atasnya, sekalipun dosanya termasuk dosa besar."
📚Biharul Anwar, 91/63.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata,
"Hamba yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah seseorang yang jujur dalam ucapannya, menjaga salat-salatnya dan apa yang diwajibkan Allah atasnya, serta menunaikan amanah."
📚Mishkat al-Anwar, jilid 1, halaman 116.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Hamba yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah seseorang yang jujur dalam ucapannya, menjaga salat-salatnya dan apa yang diwajibkan Allah atasnya, serta menunaikan amanah."
📚Mishkat al-Anwar, jilid 1, halaman 116.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Diriwayatkan dari Imam Ali bin Husain as, beliau berkata,
"Ketika kepala suci al-Husain as dibawa ke istana Yazid, dia mengadakan pesta minum-minuman arak dan meletakkan kepala tersebut di hadapannya sambil menenggak minuman.
Seorang duta Kaisar Romawi dan para pembesar negeri itu, ikut hadir pada acara tersebut. Sang duta bertanya, 'Wahai penguasa Arab, kepala siapakah ini?'
'Urusanmu dengan kepala ini?' tanya Yazid.
'Jika aku pulang ke negeriku, kaisar akan bertanya kepadaku tentang semua hal yang aku saksikan di sini. Karena itulah aku ingin sekali menceritakan pada beliau perihal kepala ini sehingga beliau ikut bergembira dengan kegembiraan Anda, jawab sang duta.
'Ini adalah kepala al-Husain bin Ali bin Thalib,' sahut Yazid.
'Siapakah nama ibunya?', tanya orang Romawi itu lagi. 'Fatimah putri Rasulullah,' jawabnya.
'Betapa rendahnya diri dan agamamu ini!' ujarnya.
Agamaku jauh lebih baik dari agamamu. Ayahku termasuk keturunan Nabi Daud as melalui banyak generasi. Orang-orang Nasrani selalu mengagungkanku dan berebut mengambil tanah yang kupijak untuk mendapat berkah karena aku masih keturunan Daud as. Tetapi kalian malah membunuh anak dari putri Nabi kalian sendiri, padahal antara dia dan kakeknya itu tak ada pemisah kecuali seorang ibu saja. Agama apa ini yang kalian peluk?'
Kepada Yazid, dia berkata lagi, 'Pernahkah kau mendengar kisah tentang gereja Hafir?'
'Ceritakanlah! Aku siap mendengarkannya,' kata Yazid.
Dia pun mulai bercerita, 'Di antara Oman (Amman) dan Cina ada sebuah lautan dengan jarak tempuh perjalanan enam bulan. Tak ada kehidupan di sana kecuali hanya satu kota di tengah laut dengan panjang delapan belas farsakh dan lebar delapan farsakh. Tak ada satu kotapun di dunia yang lebih besar dari kota ini. Kafur dan Yaqut banyak dihasilkan dari sini. Kota ini memiliki banyak perkebunan za'faran dan kayu gaharu. Penduduk kota ini beragama Kristen. Roda pemerintahan tidak dijalankan oleh raja, tapi oleh mereka sendiri.
Di kota ini terdapat banyak gereja, dengan gereja terbesar yang lazimnya disebut Hafir. Di mihrab gereja ini terdapat sebuah tempat yang terbuat dari emas dan digantungkan. Di situlah tempat Hafir. Menurut kepercayaan mereka, Hafir adalah nama seekor keledai yang biasa dinaiki oleh Nabi Isa as. Tempat itu mereka hias sedemikian rupa dengan kain sutra dan emas.
Setiap tahun umat Kristen berbondong-bondong datang menziarahinya. Mereka bertawaf mengelilinginya, menciuminya dan memanjatkan doa kepada Allah Swt di situ. Inilah yang mereka lakukan terhadap Hafir, keledai yang menurut kepercayaan mereka sering ditunggangi oleh Isa, Nabi mereka. Tetapi yang kalian lakukan terhadap anak dari putri Nabi kalian sendiri adalah pembantaian atas dirinya. Semoga Allah tidak memberkati kalian dan agama kalian.
Yazid dengan geram berteriak, 'Bunuh orang Nasrani ini, biar tidak mencoreng namaku di negerinya!'
Si Nasrani yang merasa bahwa perintah Yazid bukan main-main, segera menyahut, 'Rupanya kau juga ingin membunuhku?'
'Ya, benar,' jawab Yazid.
Lalu katanya, 'Ketahuilah, semalam aku bermimpi bertemu dengan Nabi kalian. Kepadaku beliau bersabda, 'Hai Nasrani, kau akan segera masuk surga.' Aku terkejut keheranan mendengar kata-kata beliau itu. Dan kini aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.'
Kemudian dia melompat ke tempat kepala al-Husain as, lalu mendekap dan menciuminya sambil menangis sampai dia terbunuh."
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Ketika kepala suci al-Husain as dibawa ke istana Yazid, dia mengadakan pesta minum-minuman arak dan meletakkan kepala tersebut di hadapannya sambil menenggak minuman.
Seorang duta Kaisar Romawi dan para pembesar negeri itu, ikut hadir pada acara tersebut. Sang duta bertanya, 'Wahai penguasa Arab, kepala siapakah ini?'
'Urusanmu dengan kepala ini?' tanya Yazid.
'Jika aku pulang ke negeriku, kaisar akan bertanya kepadaku tentang semua hal yang aku saksikan di sini. Karena itulah aku ingin sekali menceritakan pada beliau perihal kepala ini sehingga beliau ikut bergembira dengan kegembiraan Anda, jawab sang duta.
'Ini adalah kepala al-Husain bin Ali bin Thalib,' sahut Yazid.
'Siapakah nama ibunya?', tanya orang Romawi itu lagi. 'Fatimah putri Rasulullah,' jawabnya.
'Betapa rendahnya diri dan agamamu ini!' ujarnya.
Agamaku jauh lebih baik dari agamamu. Ayahku termasuk keturunan Nabi Daud as melalui banyak generasi. Orang-orang Nasrani selalu mengagungkanku dan berebut mengambil tanah yang kupijak untuk mendapat berkah karena aku masih keturunan Daud as. Tetapi kalian malah membunuh anak dari putri Nabi kalian sendiri, padahal antara dia dan kakeknya itu tak ada pemisah kecuali seorang ibu saja. Agama apa ini yang kalian peluk?'
Kepada Yazid, dia berkata lagi, 'Pernahkah kau mendengar kisah tentang gereja Hafir?'
'Ceritakanlah! Aku siap mendengarkannya,' kata Yazid.
Dia pun mulai bercerita, 'Di antara Oman (Amman) dan Cina ada sebuah lautan dengan jarak tempuh perjalanan enam bulan. Tak ada kehidupan di sana kecuali hanya satu kota di tengah laut dengan panjang delapan belas farsakh dan lebar delapan farsakh. Tak ada satu kotapun di dunia yang lebih besar dari kota ini. Kafur dan Yaqut banyak dihasilkan dari sini. Kota ini memiliki banyak perkebunan za'faran dan kayu gaharu. Penduduk kota ini beragama Kristen. Roda pemerintahan tidak dijalankan oleh raja, tapi oleh mereka sendiri.
Di kota ini terdapat banyak gereja, dengan gereja terbesar yang lazimnya disebut Hafir. Di mihrab gereja ini terdapat sebuah tempat yang terbuat dari emas dan digantungkan. Di situlah tempat Hafir. Menurut kepercayaan mereka, Hafir adalah nama seekor keledai yang biasa dinaiki oleh Nabi Isa as. Tempat itu mereka hias sedemikian rupa dengan kain sutra dan emas.
Setiap tahun umat Kristen berbondong-bondong datang menziarahinya. Mereka bertawaf mengelilinginya, menciuminya dan memanjatkan doa kepada Allah Swt di situ. Inilah yang mereka lakukan terhadap Hafir, keledai yang menurut kepercayaan mereka sering ditunggangi oleh Isa, Nabi mereka. Tetapi yang kalian lakukan terhadap anak dari putri Nabi kalian sendiri adalah pembantaian atas dirinya. Semoga Allah tidak memberkati kalian dan agama kalian.
Yazid dengan geram berteriak, 'Bunuh orang Nasrani ini, biar tidak mencoreng namaku di negerinya!'
Si Nasrani yang merasa bahwa perintah Yazid bukan main-main, segera menyahut, 'Rupanya kau juga ingin membunuhku?'
'Ya, benar,' jawab Yazid.
Lalu katanya, 'Ketahuilah, semalam aku bermimpi bertemu dengan Nabi kalian. Kepadaku beliau bersabda, 'Hai Nasrani, kau akan segera masuk surga.' Aku terkejut keheranan mendengar kata-kata beliau itu. Dan kini aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.'
Kemudian dia melompat ke tempat kepala al-Husain as, lalu mendekap dan menciuminya sambil menangis sampai dia terbunuh."
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya Al-Husain as adalah pelita petunjuk dan bahtera keselamatan".
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Sesungguhnya Al-Husain as adalah pelita petunjuk dan bahtera keselamatan".
http://Telegram.me/TahukahAnda
ketika karavan tawanan keluarga suci Nabi saw telah dibawa ke gerbang Masjid Besar kota Damaskus, seseorang yang sudah tua berkata: "Aku bersyukur kepada Allah karena Dia telah membunuh dan menghancurkan kalian. Memilih Yazid dibanding kalian dan menyelamatkan kota ini dari kendali orang-orang kalian!"
"Wahai orang tua, pernahkah engkau membaca al-Quran?" Tanya Imam Zain al-Abidin as.
"Tentu saja!"
"pernahkah engkau membaca ayat berikut ini:
قُل لَّاۤ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَیۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِی ٱلۡقُرۡبَىٰۗ
"Katakanlah (Wahai Muhammad saw): Aku tidak meminta imbalan apa pun dari kalian atas seruanku, kecuali kasih sayang kepada keluarga. [Surat Asy-Syura 23]
"Aku sudah membacanya!" Jawab orang tua itu.
"Kamilah keluarga itu. Wahai orang tua, apakah engkau juga telah membaca ayat ini:
وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَیۡءࣲ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ...
"Dan ketahuilah, sesunguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul dan kerabat Rasul,... [Surat Al-Anfal 41]
"Ya!" Jawab orang tua itu.
"Kami adalah kerabat itu."
Hai orang tua, apakah engkau telah membaca ayat ini?
إِنَّمَا یُرِیدُ ٱللَّهُ لِیُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَیۡتِ وَیُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِیرࣰا
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian Ahlul Bayt dan mensucikan kalian sesuci-sucinya." [Surat Al-Ahzab 33]
"Ya!" Jawab orang tua itu.
"Wahai orang tua, kamilah Ahlul Bayt as yang telah dimuliakan dengan ayat tentang kesucian dari dosa tersebut."
Pelapor peristiwa itu melanjutkan: "Orang tua itu terdiam dan menjadi malu atas apa yang telah diucapkan, lalu menatap Imam Ali Zain al-Abidin as seraya berkata: "Aku bersumpah demi Allah, beri tahu aku kalau engkau adalah keluarga yang dimaksud ayat tersebut?"
"Demi Allah, sungguh tanpa sedikit pun ada keraguan di dalamnya, kami adalah Ahlul Bayt as yang suci, dan berdasarkan hak yang dimiliki oleh kakek kami, kami adalah keluarga yang dimaksud ayat itu." Tandas Imam Ali Zain al-Abidin as.
Orang tua itu melepas surban, mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: "Ya Allah, aku nyatakan pemutusan diri darı musuh-musuh keluarga Muhammad saw baik dia adalah manusia maupun jin di haribaan-Mu!".
Kemudian dia bertanya kepada Imam as:
"Masih adakah kesempatan padaku untuk bertobat dan kembali?"
"Jika engkau bertobat, maka Allah akan mengampunimu, dan engkau akan bergabung bersama kami."
"Maka itu aku bertobat atas apa yang telah aku katakan dan aku perbuat." Periwayat berkata: "Berita pertobatan orang tua itu terdengar oleh Yazid yang segera memerintahkan untuk membunuhnya."
📚Bihar al-Anwar, Jilid 45, hal. 129.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Wahai orang tua, pernahkah engkau membaca al-Quran?" Tanya Imam Zain al-Abidin as.
"Tentu saja!"
"pernahkah engkau membaca ayat berikut ini:
قُل لَّاۤ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَیۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِی ٱلۡقُرۡبَىٰۗ
"Katakanlah (Wahai Muhammad saw): Aku tidak meminta imbalan apa pun dari kalian atas seruanku, kecuali kasih sayang kepada keluarga. [Surat Asy-Syura 23]
"Aku sudah membacanya!" Jawab orang tua itu.
"Kamilah keluarga itu. Wahai orang tua, apakah engkau juga telah membaca ayat ini:
وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَیۡءࣲ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ...
"Dan ketahuilah, sesunguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul dan kerabat Rasul,... [Surat Al-Anfal 41]
"Ya!" Jawab orang tua itu.
"Kami adalah kerabat itu."
Hai orang tua, apakah engkau telah membaca ayat ini?
إِنَّمَا یُرِیدُ ٱللَّهُ لِیُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَیۡتِ وَیُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِیرࣰا
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian Ahlul Bayt dan mensucikan kalian sesuci-sucinya." [Surat Al-Ahzab 33]
"Ya!" Jawab orang tua itu.
"Wahai orang tua, kamilah Ahlul Bayt as yang telah dimuliakan dengan ayat tentang kesucian dari dosa tersebut."
Pelapor peristiwa itu melanjutkan: "Orang tua itu terdiam dan menjadi malu atas apa yang telah diucapkan, lalu menatap Imam Ali Zain al-Abidin as seraya berkata: "Aku bersumpah demi Allah, beri tahu aku kalau engkau adalah keluarga yang dimaksud ayat tersebut?"
"Demi Allah, sungguh tanpa sedikit pun ada keraguan di dalamnya, kami adalah Ahlul Bayt as yang suci, dan berdasarkan hak yang dimiliki oleh kakek kami, kami adalah keluarga yang dimaksud ayat itu." Tandas Imam Ali Zain al-Abidin as.
Orang tua itu melepas surban, mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: "Ya Allah, aku nyatakan pemutusan diri darı musuh-musuh keluarga Muhammad saw baik dia adalah manusia maupun jin di haribaan-Mu!".
Kemudian dia bertanya kepada Imam as:
"Masih adakah kesempatan padaku untuk bertobat dan kembali?"
"Jika engkau bertobat, maka Allah akan mengampunimu, dan engkau akan bergabung bersama kami."
"Maka itu aku bertobat atas apa yang telah aku katakan dan aku perbuat." Periwayat berkata: "Berita pertobatan orang tua itu terdengar oleh Yazid yang segera memerintahkan untuk membunuhnya."
📚Bihar al-Anwar, Jilid 45, hal. 129.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata,
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menanamkan di dalam hatinya kecintaan kepada Husain as dan kecintaan untuk menziarahi beliau."
📚Wasail asy-Syiah, jilid 14, halaman 496.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menanamkan di dalam hatinya kecintaan kepada Husain as dan kecintaan untuk menziarahi beliau."
📚Wasail asy-Syiah, jilid 14, halaman 496.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Ujilah saudara-saudaramu dengan dua perkara! Jika kedua sifat itu ada pada mereka, maka jadikanlah mereka sebagai saudaramu (sahabatmu). Tetapi, jika kedua sifat itu tidak terdapat pada mereka, maka tinggalkanlah mereka, kemudian tinggalkanlah mereka, kemudian tinggalkanlah mereka!! Kedua sifat tersebut adalah:
1⃣ Menjaga salat-salat (fardu) pada waktu-waktunya, dan
2⃣ Berbuat baik kepada saudara (sahabat) di waktu sulit dan lapang."
📚Al-Kafi, jil.2, hal.672, hadis 7.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Ujilah saudara-saudaramu dengan dua perkara! Jika kedua sifat itu ada pada mereka, maka jadikanlah mereka sebagai saudaramu (sahabatmu). Tetapi, jika kedua sifat itu tidak terdapat pada mereka, maka tinggalkanlah mereka, kemudian tinggalkanlah mereka, kemudian tinggalkanlah mereka!! Kedua sifat tersebut adalah:
1⃣ Menjaga salat-salat (fardu) pada waktu-waktunya, dan
2⃣ Berbuat baik kepada saudara (sahabat) di waktu sulit dan lapang."
📚Al-Kafi, jil.2, hal.672, hadis 7.
http://Telegram.me/TahukahAnda
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Muhammad al-Baqir as berkata,
"Sedekah pada Hari Jumat itu dilipatgandakan (pahalanya), karena keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain."
📚Tsawab al amal, jil.1, hal.220.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Sedekah pada Hari Jumat itu dilipatgandakan (pahalanya), karena keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain."
📚Tsawab al amal, jil.1, hal.220.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Demi Allah! Sedekah secara rahasia itu lebih utama ketimbang sedekah secara terang-terangan. Demikian pula, demi Allah, ibadah secara rahasia itu lebih utama daripada ibadah secara terang-terangan."
📚al-Kafi, juz 4, hal.8, hadis ke-2.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Demi Allah! Sedekah secara rahasia itu lebih utama ketimbang sedekah secara terang-terangan. Demikian pula, demi Allah, ibadah secara rahasia itu lebih utama daripada ibadah secara terang-terangan."
📚al-Kafi, juz 4, hal.8, hadis ke-2.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ali bin Husain as berkata,
"Sedekah dengan sembunyi-bunyi akan memadamkan murka Allah Swt."
📚Bihar al-Anwar, jilid 93, hal.180.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Sedekah dengan sembunyi-bunyi akan memadamkan murka Allah Swt."
📚Bihar al-Anwar, jilid 93, hal.180.
http://Telegram.me/TahukahAnda
✅ Sebuah kisah nyata tentang peziarah yang diundang oleh Imam Husain as
Ia bercerita:
Suatu hari, dari kantor direktur utama maskapai penerbangan datang perintah bahwa dua orang pegawai harus berangkat ke Najaf hari itu juga untuk mengurus beberapa urusan administrasi yang sangat penting.
Kami sangat sedih, karena siapa pun penumpang yang harus diturunkan dari pesawat pasti akan sangat kecewa. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah perintah yang harus dilaksanakan.
Aku masuk ke kokpit (ruang pilot) dan memohon kepada kapten agar mengizinkan dua pegawai itu duduk di dua kursi tambahan di ruang pilot. Namun, sayangnya ia tidak menyetujuinya.
Akhirnya daftar penumpang dibawa, dan diputuskan bahwa dua nama terakhir dalam daftar harus turun dari pesawat. Setelah diumumkan, ternyata yang terpilih adalah seorang kakek dan seorang nenek.
Aku masih ingat raut wajah mereka ketika turun dari pesawat. Betapa sedih dan hancurnya hati mereka.
Pesawat pun terbang menuju Najaf. Setelah sekitar satu jam lebih, kami tiba di atas langit Najaf. Kami menunggu pengumuman dari kapten untuk mendarat, tetapi pesawat terus berputar-putar di udara.
Sekitar setengah jam kemudian, kapten mengumumkan bahwa karena badai pasir dan jarak pandang yang sangat terbatas, pesawat tidak dapat mendarat dan harus kembali ke Bandara Imam Khomeini Teheran hingga cuaca membaik.
Kami pun kembali ke Teheran. Setelah pintu pesawat dibuka, petugas koordinasi masuk ke kokpit untuk menanyakan alasan kami kembali. Lalu pilot pun memberitahukannya
Namun kami terkejut ketika petugas itu berkata:
"Bahwa bandara Najaf buka. Penerbangan tetap berlangsung, bahkan setelah pesawat Anda ada beberapa pesawat lain mendarat dan lepas landas."
Dalam hati aku berkata, "Pasti ada hikmah di balik semua ini."
Aku menemui kapten dan berkata:
"Kapten, kalau memang begitu, mungkin Allah menghendaki kita kembali untuk menjemput dua penumpang yang tertinggal itu. Seandainya tadi Anda mengizinkan mereka duduk di dua kursi tambahan di kokpit..."
Kapten menatapku lalu berkata:
"Menurutmu, apakah alasan kita kembali memang karena itu? Baiklah, pergi dan panggil mereka."
Aku sangat gembira. Aku segera menemui ketua rombongan dan bertanya:
"Apakah Anda memiliki nomor telepon pasangan lansia yang tadi diturunkan?"
Ia menjawab, "Ya."
Aku berkata, "Cepat hubungi mereka. Semoga mereka masih berada di bandara."
Allhamdulillah mereka berhasil ditemukan. Karena sangat lelah dan sedih, mereka ternyata sedang beristirahat di mushola bandara dan belum pulang ke rumah.
Semua orang menunggu dengan gembira hingga akhirnya pasangan lansia itu datang dengan wajah penuh ketenangan dan kebahagiaan.
Saat si nenek tiba di depan kami, ia berkata:
"Apakah kalian mengira urusan/nasib kami ada di tangan kalian? Apakah kalian mengira kalian bisa membatalkan izin perjalanan kami?"
Mata kami pun berkaca-kaca. Kami meminta maaf kepadanya.
Aku berkata:
"Syukurlah Ibu belum pulang ke rumah."
Ia menjawab:
"Kalau kalian yang berada di posisi kami, apakah kalian akan pulang? Dengan wajah bagaimana kami harus kembali ke rumah?"
Kemudian ia menceritakan kisah yang lebih mengharukan.
Ia berkata:
"Kami begitu sedih hingga tidak sanggup berjalan. Kami masuk ke mushola bandara untuk menenangkan diri sebelum pulang."
"Dalam hati aku berkata:
'Wahai Amirul Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib), wahai Aba Abdillah (Imam Husain), wahai Abul Fadhl al-Abbas, hari ini kalian memiliki begitu banyak tamu. Apakah hanya kami berdua yang tidak diterima?'
Lalu aku menangis hingga tertidur."
"Dalam keadaan antara tidur dan sadar, aku melihat seorang sayyid yang mulia masuk ke mushola dan berkata:
'Bukankah kalian ingin pergi ke Karbala? Lalu mengapa masih duduk di sini?'
Kami menjawab:
'Wahai Tuan, kami tidak jadi berangkat. Kami tidak diizinkan ikut.'
Beliau berkata:
'Bangunlah. Tenang saja, kalian akan pergi ke Karbala.'
Si nenek melanjutkan:
"Begitu aku membuka mata, HP suamiku berdering. Ternyata kalian menelepon kami agar segera kembali ke bandara."
http://Telegram.me/TahukahAnda
Ia bercerita:
Suatu hari, dari kantor direktur utama maskapai penerbangan datang perintah bahwa dua orang pegawai harus berangkat ke Najaf hari itu juga untuk mengurus beberapa urusan administrasi yang sangat penting.
Kami sangat sedih, karena siapa pun penumpang yang harus diturunkan dari pesawat pasti akan sangat kecewa. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah perintah yang harus dilaksanakan.
Aku masuk ke kokpit (ruang pilot) dan memohon kepada kapten agar mengizinkan dua pegawai itu duduk di dua kursi tambahan di ruang pilot. Namun, sayangnya ia tidak menyetujuinya.
Akhirnya daftar penumpang dibawa, dan diputuskan bahwa dua nama terakhir dalam daftar harus turun dari pesawat. Setelah diumumkan, ternyata yang terpilih adalah seorang kakek dan seorang nenek.
Aku masih ingat raut wajah mereka ketika turun dari pesawat. Betapa sedih dan hancurnya hati mereka.
Pesawat pun terbang menuju Najaf. Setelah sekitar satu jam lebih, kami tiba di atas langit Najaf. Kami menunggu pengumuman dari kapten untuk mendarat, tetapi pesawat terus berputar-putar di udara.
Sekitar setengah jam kemudian, kapten mengumumkan bahwa karena badai pasir dan jarak pandang yang sangat terbatas, pesawat tidak dapat mendarat dan harus kembali ke Bandara Imam Khomeini Teheran hingga cuaca membaik.
Kami pun kembali ke Teheran. Setelah pintu pesawat dibuka, petugas koordinasi masuk ke kokpit untuk menanyakan alasan kami kembali. Lalu pilot pun memberitahukannya
Namun kami terkejut ketika petugas itu berkata:
"Bahwa bandara Najaf buka. Penerbangan tetap berlangsung, bahkan setelah pesawat Anda ada beberapa pesawat lain mendarat dan lepas landas."
Dalam hati aku berkata, "Pasti ada hikmah di balik semua ini."
Aku menemui kapten dan berkata:
"Kapten, kalau memang begitu, mungkin Allah menghendaki kita kembali untuk menjemput dua penumpang yang tertinggal itu. Seandainya tadi Anda mengizinkan mereka duduk di dua kursi tambahan di kokpit..."
Kapten menatapku lalu berkata:
"Menurutmu, apakah alasan kita kembali memang karena itu? Baiklah, pergi dan panggil mereka."
Aku sangat gembira. Aku segera menemui ketua rombongan dan bertanya:
"Apakah Anda memiliki nomor telepon pasangan lansia yang tadi diturunkan?"
Ia menjawab, "Ya."
Aku berkata, "Cepat hubungi mereka. Semoga mereka masih berada di bandara."
Allhamdulillah mereka berhasil ditemukan. Karena sangat lelah dan sedih, mereka ternyata sedang beristirahat di mushola bandara dan belum pulang ke rumah.
Semua orang menunggu dengan gembira hingga akhirnya pasangan lansia itu datang dengan wajah penuh ketenangan dan kebahagiaan.
Saat si nenek tiba di depan kami, ia berkata:
"Apakah kalian mengira urusan/nasib kami ada di tangan kalian? Apakah kalian mengira kalian bisa membatalkan izin perjalanan kami?"
Mata kami pun berkaca-kaca. Kami meminta maaf kepadanya.
Aku berkata:
"Syukurlah Ibu belum pulang ke rumah."
Ia menjawab:
"Kalau kalian yang berada di posisi kami, apakah kalian akan pulang? Dengan wajah bagaimana kami harus kembali ke rumah?"
Kemudian ia menceritakan kisah yang lebih mengharukan.
Ia berkata:
"Kami begitu sedih hingga tidak sanggup berjalan. Kami masuk ke mushola bandara untuk menenangkan diri sebelum pulang."
"Dalam hati aku berkata:
'Wahai Amirul Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib), wahai Aba Abdillah (Imam Husain), wahai Abul Fadhl al-Abbas, hari ini kalian memiliki begitu banyak tamu. Apakah hanya kami berdua yang tidak diterima?'
Lalu aku menangis hingga tertidur."
"Dalam keadaan antara tidur dan sadar, aku melihat seorang sayyid yang mulia masuk ke mushola dan berkata:
'Bukankah kalian ingin pergi ke Karbala? Lalu mengapa masih duduk di sini?'
Kami menjawab:
'Wahai Tuan, kami tidak jadi berangkat. Kami tidak diizinkan ikut.'
Beliau berkata:
'Bangunlah. Tenang saja, kalian akan pergi ke Karbala.'
Si nenek melanjutkan:
"Begitu aku membuka mata, HP suamiku berdering. Ternyata kalian menelepon kami agar segera kembali ke bandara."
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ali ar-Ridha as berkata,
"Barang siapa meridhai (menyetujui) suatu perbuatan, maka ia seperti orang yang melakukannya."
📚Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 1, hlm. 273.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Barang siapa meridhai (menyetujui) suatu perbuatan, maka ia seperti orang yang melakukannya."
📚Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 1, hlm. 273.
http://Telegram.me/TahukahAnda