Imam Muhammad al-Jawad as berkata,
“Barangsiapa menziarahi makam bibiku di Qum maka surga balasannya.”
📚Mizanul hikmah, jil.2, hal.1200.
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Barangsiapa menziarahi makam bibiku di Qum maka surga balasannya.”
📚Mizanul hikmah, jil.2, hal.1200.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Ali ar-Ridho as berkata,
“Barangsiapa berziarah kepadanya(Sayyidah Fatimah Ma'shumah as) dengan mengetahui hak-haknya, maka surga baginya."
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Barangsiapa berziarah kepadanya(Sayyidah Fatimah Ma'shumah as) dengan mengetahui hak-haknya, maka surga baginya."
http://Telegram.me/TahukahAnda
Wahai Fatimah, syafaatilah aku di surga, karena engkaulah pemilik kedudukan mulia di sisi Allah!
(Petikan Doa Ziarah Sayyidah Fatimah Ma'shumah as)
http://Telegram.me/TahukahAnda
(Petikan Doa Ziarah Sayyidah Fatimah Ma'shumah as)
http://Telegram.me/TahukahAnda
Dinukilkan oleh almarhum Shihabuddin al-Mar'ashi al-Najafi—pemilik perpustakaan besar di Qom dan dimakamkan di sana—bahwa ayahnya, Ayatullah al-Allamah Sayyid Mahmud al-Mar‘ashi, yang tinggal di Najaf, sangat ingin mengetahui lokasi makam neneknya, Fatimah az-Zahra as.
Karena itu, ia menyendiri untuk beribadah dan bertawassul di makam Imam Ali bin Abi Talib as selama empat puluh malam.
Pada malam keempat puluh, ia melihat dalam mimpi bahwa Imam berkata kepadanya: “Aku tidak dapat menyalahi wasiat az-Zahra untuk merahasiakan makamnya. Namun jika engkau ingin memperoleh pahala ziarahnya, maka ziarahilah Karimatu Ahlulbayt (wanita mulia dari Ahlulbait).”
Sayyid al-Mar‘ashi bertanya: “Siapakah wanita mulia dari Ahlulbait itu?”
Maka Imam menjawab: “Ia adalah Fatimah binti Musa bin Ja‘far as yang dimakamkan di Qom,” yaitu Fatimah al-Ma'sumah.
Kemudian Ayatullah Shihabuddin al-Mar‘ashi berkata: Ayahku memerintahkanku untuk pergi menziarahi “nenekku” di Qom. Maka aku berhijrah dari Najaf ke Iran untuk menziarahi Imam kedelapan, Imam Ali al-Ridha as, dan saudarinya Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as.
Lalu, atas dorongan pendiri hauzah ilmiah, Abdul Karim Hairi Yazdi, aku menetap di Qom. Aku pun merasa tenteram tinggal di dekat Sayyidah al-Ma‘sumah, dan kini selama enam puluh tahun aku terus menjadi peziarahnya.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Karena itu, ia menyendiri untuk beribadah dan bertawassul di makam Imam Ali bin Abi Talib as selama empat puluh malam.
Pada malam keempat puluh, ia melihat dalam mimpi bahwa Imam berkata kepadanya: “Aku tidak dapat menyalahi wasiat az-Zahra untuk merahasiakan makamnya. Namun jika engkau ingin memperoleh pahala ziarahnya, maka ziarahilah Karimatu Ahlulbayt (wanita mulia dari Ahlulbait).”
Sayyid al-Mar‘ashi bertanya: “Siapakah wanita mulia dari Ahlulbait itu?”
Maka Imam menjawab: “Ia adalah Fatimah binti Musa bin Ja‘far as yang dimakamkan di Qom,” yaitu Fatimah al-Ma'sumah.
Kemudian Ayatullah Shihabuddin al-Mar‘ashi berkata: Ayahku memerintahkanku untuk pergi menziarahi “nenekku” di Qom. Maka aku berhijrah dari Najaf ke Iran untuk menziarahi Imam kedelapan, Imam Ali al-Ridha as, dan saudarinya Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as.
Lalu, atas dorongan pendiri hauzah ilmiah, Abdul Karim Hairi Yazdi, aku menetap di Qom. Aku pun merasa tenteram tinggal di dekat Sayyidah al-Ma‘sumah, dan kini selama enam puluh tahun aku terus menjadi peziarahnya.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Seorang ulama dan khatib terkemuka, Syekh Jawanmard, menulis tentang karamah yang terjadi melalui perantaraan Sayyidah Fatimah al-Ma'sumah as kepada salah satu putrinya. Ia berkata:
Pada tahun 1984, Allah menganugerahkan kami seorang anak perempuan yang kami beri nama Asma’. Baru dua bulan setelah kelahirannya, ia terserang penyakit sesak napas dan sulit bernapas.
Awalnya kami mengira penyakit itu adalah asma atau radang paru-paru, maka kami membawanya ke dokter spesialis anak. Diagnosis awal menyatakan bahwa ia menderita asma. Kami pun memasukkannya ke rumah sakit Ayatullah Golpaygani, dan ia dirawat di sana sekitar dua belas hari, bahkan ditempatkan dalam inkubator. Namun, tidak ada perkembangan dari pengobatan tersebut.
Setelah itu kami membawanya ke dokter spesialis tenggorokan dan hidung, tetapi obat yang diberikan juga tidak memberikan hasil. Kemudian kami pergi ke Teheran dengan harapan diagnosis yang lebih tepat. Setelah berpindah-pindah rumah sakit, akhirnya ia dirawat di rumah sakit “Ikhwan Teheran” yang khusus menangani anak-anak.
Selama sebulan penuh ia dirawat, hidup dengan bantuan alat pernapasan dan cairan infus. Setelah berbagai pemeriksaan, dokter menduga ada benda asing di paru-parunya yang menyebabkan sesak napas, dan menyarankan operasi endoskopi. Namun alat tersebut tidak tersedia di rumah sakit, dan operasi itu sendiri berisiko tinggi bagi bayi sekecil itu.
Kami pun kembali ke Qom dalam keadaan putus asa, sementara kondisi anak semakin memburuk, ia tidak mampu makan maupun tidur.
Karena desakan ibunya, kami kembali lagi ke Teheran dan memasukkannya ke rumah sakit Mofid. Setelah dirawat selama dua belas hari dan menjalani pemeriksaan, ternyata paru-parunya sehat. Dokter kemudian menduga bahwa otot tenggorokannya lemah, yang menyebabkan sesak napas tersebut.
Kami pulang ke Qom tanpa hasil, dalam kondisi sangat putus asa. Dua atau tiga hari kemudian, ibunya memutuskan untuk berpuasa dan memohon pertolongan di makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as.
Pada malam hari, ia membawa bayinya ke makam suci. Sang ibu telah meminta salah satu anaknya untuk datang ke makam suci pada pukul dua belas malam agar menjemputnya pulang.
Pada waktu yang telah ditentukan, anak itu datang ke makam suci untuk menjemput ibunya. Namun ibunya berkata: “Sampai sekarang belum ada hasil apa pun. Pulanglah, aku akan tetap di sini sampai pagi.”
Sang ibu menceritakan: Aku tetap berada di makam suci hingga pagi hari, terus-menerus berdoa dan menangis. Aku mengikat bayi itu dengan sehelai kain di dekat makam Sayyidah Fatimah al-Ma'sumah as, dalam kondisi sesak napas yang sangat parah, sehingga siapa pun yang melihatnya merasa seolah-olah kematian sudah sangat dekat.
Sesekali aku memasukkan sesendok air bercampur gula ke mulut bayi itu. Beberapa wanita yang berada di sana berkata kepadaku: “Jangan menyakiti bayi itu, biarkan saja.”
Ketika azan Subuh berkumandang, aku meninggalkan bayi itu sejenak dan menjauh sedikit dari makam. Setelah aku menunaikan salat subuh, aku diliputi perasaan yang berbeda dan mulai bertanya dalam diriku: “Bagaimana aku akan pulang dengan bayi ini tanpa hasil?” Lalu aku berkata: “Ya Allah, tidak ada lagi harapanku selain makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah, dan hingga saat ini belum ada hasil apa pun.”
Aku pun menangis sejenak, lalu kembali kepada bayi itu untuk membuka kain yang mengikatnya. Betapa terkejutnya aku, bayi itu tertidur, padahal sebelumnya ia tidak mampu tidur. Aku tidak memberi tahu siapa pun, lalu membuka ikatan itu. Aku pun dipenuhi kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa, kemudian membawa bayi itu pulang.
Bayi itu terus tidur hingga siang hari. Setelah itu ia bangun dan minum susu dalam keadaan sehat sepenuhnya. Allah Swt telah menganugerahkan kesembuhan total kepada anakku melalui keberkahan makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as, putri Imam Musa bin Ja'far as
Pada tahun 1984, Allah menganugerahkan kami seorang anak perempuan yang kami beri nama Asma’. Baru dua bulan setelah kelahirannya, ia terserang penyakit sesak napas dan sulit bernapas.
Awalnya kami mengira penyakit itu adalah asma atau radang paru-paru, maka kami membawanya ke dokter spesialis anak. Diagnosis awal menyatakan bahwa ia menderita asma. Kami pun memasukkannya ke rumah sakit Ayatullah Golpaygani, dan ia dirawat di sana sekitar dua belas hari, bahkan ditempatkan dalam inkubator. Namun, tidak ada perkembangan dari pengobatan tersebut.
Setelah itu kami membawanya ke dokter spesialis tenggorokan dan hidung, tetapi obat yang diberikan juga tidak memberikan hasil. Kemudian kami pergi ke Teheran dengan harapan diagnosis yang lebih tepat. Setelah berpindah-pindah rumah sakit, akhirnya ia dirawat di rumah sakit “Ikhwan Teheran” yang khusus menangani anak-anak.
Selama sebulan penuh ia dirawat, hidup dengan bantuan alat pernapasan dan cairan infus. Setelah berbagai pemeriksaan, dokter menduga ada benda asing di paru-parunya yang menyebabkan sesak napas, dan menyarankan operasi endoskopi. Namun alat tersebut tidak tersedia di rumah sakit, dan operasi itu sendiri berisiko tinggi bagi bayi sekecil itu.
Kami pun kembali ke Qom dalam keadaan putus asa, sementara kondisi anak semakin memburuk, ia tidak mampu makan maupun tidur.
Karena desakan ibunya, kami kembali lagi ke Teheran dan memasukkannya ke rumah sakit Mofid. Setelah dirawat selama dua belas hari dan menjalani pemeriksaan, ternyata paru-parunya sehat. Dokter kemudian menduga bahwa otot tenggorokannya lemah, yang menyebabkan sesak napas tersebut.
Kami pulang ke Qom tanpa hasil, dalam kondisi sangat putus asa. Dua atau tiga hari kemudian, ibunya memutuskan untuk berpuasa dan memohon pertolongan di makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as.
Pada malam hari, ia membawa bayinya ke makam suci. Sang ibu telah meminta salah satu anaknya untuk datang ke makam suci pada pukul dua belas malam agar menjemputnya pulang.
Pada waktu yang telah ditentukan, anak itu datang ke makam suci untuk menjemput ibunya. Namun ibunya berkata: “Sampai sekarang belum ada hasil apa pun. Pulanglah, aku akan tetap di sini sampai pagi.”
Sang ibu menceritakan: Aku tetap berada di makam suci hingga pagi hari, terus-menerus berdoa dan menangis. Aku mengikat bayi itu dengan sehelai kain di dekat makam Sayyidah Fatimah al-Ma'sumah as, dalam kondisi sesak napas yang sangat parah, sehingga siapa pun yang melihatnya merasa seolah-olah kematian sudah sangat dekat.
Sesekali aku memasukkan sesendok air bercampur gula ke mulut bayi itu. Beberapa wanita yang berada di sana berkata kepadaku: “Jangan menyakiti bayi itu, biarkan saja.”
Ketika azan Subuh berkumandang, aku meninggalkan bayi itu sejenak dan menjauh sedikit dari makam. Setelah aku menunaikan salat subuh, aku diliputi perasaan yang berbeda dan mulai bertanya dalam diriku: “Bagaimana aku akan pulang dengan bayi ini tanpa hasil?” Lalu aku berkata: “Ya Allah, tidak ada lagi harapanku selain makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah, dan hingga saat ini belum ada hasil apa pun.”
Aku pun menangis sejenak, lalu kembali kepada bayi itu untuk membuka kain yang mengikatnya. Betapa terkejutnya aku, bayi itu tertidur, padahal sebelumnya ia tidak mampu tidur. Aku tidak memberi tahu siapa pun, lalu membuka ikatan itu. Aku pun dipenuhi kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa, kemudian membawa bayi itu pulang.
Bayi itu terus tidur hingga siang hari. Setelah itu ia bangun dan minum susu dalam keadaan sehat sepenuhnya. Allah Swt telah menganugerahkan kesembuhan total kepada anakku melalui keberkahan makam Sayyidah Fatimah al-Ma‘sumah as, putri Imam Musa bin Ja'far as
Sepuluh tahun telah berlau sejak peristiwa itu. Kini anak tersebut berada di kelas empat sekolah dasar, menjadi murid yang berprestasi, serta taat dalam salat dan ajaran agama. Semua ini termasuk dari kebaikan dari karimatu Ahlulbait as.
📚فاطمة المعصومة قبس من أشعة الزهراء
http://Telegram.me/TahukahAnda
📚فاطمة المعصومة قبس من أشعة الزهراء
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw bersabda,
“Perbandingan dunia terhadap akhirat hanyalah seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat dengan apa jarinya itu kembali.”
Maknanya:
Perbandingan kenikmatan dunia dengan akhirat sangatlah kecil. Ibarat setetes air yang menempel di jari dibandingkan dengan luasnya lautan, begitulah dunia dibanding akhirat.
📚Bihar al-Anwar jur 73, hal 119.
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Perbandingan dunia terhadap akhirat hanyalah seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat dengan apa jarinya itu kembali.”
Maknanya:
Perbandingan kenikmatan dunia dengan akhirat sangatlah kecil. Ibarat setetes air yang menempel di jari dibandingkan dengan luasnya lautan, begitulah dunia dibanding akhirat.
📚Bihar al-Anwar jur 73, hal 119.
http://Telegram.me/TahukahAnda
قَالَ الإِمَامُ عَلي عَلَيْهِ السَّلَامِ:
إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ التُّجَّارِ وَ إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيْدِ وَ إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ شُكْرًا فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ.
Imam Ali as berkata,
“Sekelompok orang menyembah Allah karena menghasratkan ganjaran; ini adalah ibadah pedagang. Kelompok lain beribadah karena takut; ini adalah ibadah budak. Suatu kelompok lagi menyembah Allah karena rasa syukur dan terima kasih; ini adalah ibadah orang merdeka.”
📚Nahjul balaghah, hikmah ke-238.
http://Telegram.me/TahukahAnda
إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ التُّجَّارِ وَ إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيْدِ وَ إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوْا اللهَ شُكْرًا فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ.
Imam Ali as berkata,
“Sekelompok orang menyembah Allah karena menghasratkan ganjaran; ini adalah ibadah pedagang. Kelompok lain beribadah karena takut; ini adalah ibadah budak. Suatu kelompok lagi menyembah Allah karena rasa syukur dan terima kasih; ini adalah ibadah orang merdeka.”
📚Nahjul balaghah, hikmah ke-238.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Dari atas istana, Nabi Yusuf as melihat seorang pemuda yang mengenakan pakaian sederhana sedang melewati istana. Malaikat Jibril bertanya, "Apakah Anda mengenal pemuda itu?"
Nabi Yusuf as berkata, "Tidak." Malaikat Jibril berkata, "Dialah bayi yang pernah memberikan kesaksian atas kesucian Anda di hadapan raja Mesir." Nabi Yusuf berkata, "Pemuda itu memiliki hak atasku."
Kemudian Nabi Yusuf meminta agar pemuda itu dipanggil menghadap beliau. Nabi Yusuf as memberi pemuda itu pakaian yang mewah dan megah, serta memberikan kebaikan-kebaikan yang amat melimpah. Melihat kejadian itu, malaikat Jibril tersenyum.
Nabi Yusuf as bertanya, "Apakah kebaikanku (kepada pemuda ini) kurang? Mengapa Anda tersenyum?”
Malaikat Jibril menjawab, "Saya tersenyum lantaran kebaikan Anda yang melimpah terhadap pemuda ini, sementara Anda adalah makhluk (Allah) yang hendak membalas kebaikan pemuda itu atas kesaksiannya akan kesucian Anda. Lantas, apakah Allah yang Mahabesar tidak akan membalas kebaikan seorang hamba yang sepanjang hidupnya memberikan kesaksian akan keesaan-Nya?"
http://Telegram.me/TahukahAnda
Nabi Yusuf as berkata, "Tidak." Malaikat Jibril berkata, "Dialah bayi yang pernah memberikan kesaksian atas kesucian Anda di hadapan raja Mesir." Nabi Yusuf berkata, "Pemuda itu memiliki hak atasku."
Kemudian Nabi Yusuf meminta agar pemuda itu dipanggil menghadap beliau. Nabi Yusuf as memberi pemuda itu pakaian yang mewah dan megah, serta memberikan kebaikan-kebaikan yang amat melimpah. Melihat kejadian itu, malaikat Jibril tersenyum.
Nabi Yusuf as bertanya, "Apakah kebaikanku (kepada pemuda ini) kurang? Mengapa Anda tersenyum?”
Malaikat Jibril menjawab, "Saya tersenyum lantaran kebaikan Anda yang melimpah terhadap pemuda ini, sementara Anda adalah makhluk (Allah) yang hendak membalas kebaikan pemuda itu atas kesaksiannya akan kesucian Anda. Lantas, apakah Allah yang Mahabesar tidak akan membalas kebaikan seorang hamba yang sepanjang hidupnya memberikan kesaksian akan keesaan-Nya?"
http://Telegram.me/TahukahAnda
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Pada hari Jumat tidak ada amalan yang lebih baik dari salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad."
📚Ta'wil al Ayat azh Zhahirah, hal 454.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Disunahkan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya pada hari Jumat sebanyak seribu kali dan pada hari yang lain sebanyak seratus kali."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌺Imam Ja'far Shadiq as berkata,
"Pada akhir hari Kamis dan malam Jumat, sekelompok malaikat turun dari langit dengan membawa pena dari emas serta papan dari perak, dan pada akhir hari Kamis serta malam Jumat, juga hari Jumat sampai matahari terbenam, mereka tidak mencatat sesuatu apa pun selain bacaan salawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya."
📚Ushul al Kafi, 3/416.
🌹اَللّهُمَّ صَلِّ عَلی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ🌹
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Muhammad Baqir as berkata,
"Sedekah pada Hari Jumat itu dilipatgandakan (pahalanya), karena keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain."
📚Tsawab al amal, jil.1, hal.220.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Sedekah pada Hari Jumat itu dilipatgandakan (pahalanya), karena keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain."
📚Tsawab al amal, jil.1, hal.220.
http://Telegram.me/TahukahAnda
قال الإِمَامُ عَلي عَلَيْهِ السَّلَامِ:
لاَ تَسْتَحِ مِنْ إِعْطَاءِ الْقَلِيلِ فَإِنَّ الْحِرْمَانَ أَقَلُّ مِنْهُ.
Imam Ali as berkata,
“Jangan merasa malu karena (hanya) memberi sedikit, karena sesungguhnya tidak memberi itu lebih kecil dari (yang sedikit) itu.”
📚Nahj al-Balaghah, hikmah ke-67.
http://Telegram.me/TahukahAnda
لاَ تَسْتَحِ مِنْ إِعْطَاءِ الْقَلِيلِ فَإِنَّ الْحِرْمَانَ أَقَلُّ مِنْهُ.
Imam Ali as berkata,
“Jangan merasa malu karena (hanya) memberi sedikit, karena sesungguhnya tidak memberi itu lebih kecil dari (yang sedikit) itu.”
📚Nahj al-Balaghah, hikmah ke-67.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw bersabda,
“Setiap kebaikan adalah sedekah. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan (membimbing orang lain) seperti orang yang melakukannya. Dan Allah mencintai orang yang menolong mereka yang membutuhkan.”
📚 Bihar al-Anwar, jilid 72, halaman 18.
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Setiap kebaikan adalah sedekah. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan (membimbing orang lain) seperti orang yang melakukannya. Dan Allah mencintai orang yang menolong mereka yang membutuhkan.”
📚 Bihar al-Anwar, jilid 72, halaman 18.
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Yang dapat dipahami dari Al-Quran dan riwayat-riwayat para maksum adalah bahwa yang tercela dari dunia adalah tenggelam di dalamnya dan keterikatan kepadanya, hingga ia menjadi penghalang bagi perjalanan manusia menuju Allah. Inilah yang dalam riwayat disebut sebagai ‘cinta dunia’, yang bukan sekadar memanfaatkan hal-hal duniawi, tetapi ketika hati terikat kuat padanya dan memiliki ketergantungan yang mendalam.”
📚دروس تمهيدية في تزكية النفس
http://Telegram.me/TahukahAnda
📚دروس تمهيدية في تزكية النفس
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah Muhammad saw bersabda,
"Barangsiapa yang tidak mempersiapkan diri dengan kesabaran untuk menghadapi ujian hidup, ia akan lemah."
📚Al-Kafi (Kitab al-Rawda), hlm. 214.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Barangsiapa yang tidak mempersiapkan diri dengan kesabaran untuk menghadapi ujian hidup, ia akan lemah."
📚Al-Kafi (Kitab al-Rawda), hlm. 214.
http://Telegram.me/TahukahAnda
Rasulullah saw bersabda,
"Keinginan/hasrat terhadap dunia menambah kegelisahan dan kesedihan, sedangkan bersikap zuhud (tidak rakus/tidak terikat hatinya) terhadap dunia memberi ketenangan bagi hati dan tubuh."
📚Bihar al-Anwar, Jilid 73, Halaman 120.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Keinginan/hasrat terhadap dunia menambah kegelisahan dan kesedihan, sedangkan bersikap zuhud (tidak rakus/tidak terikat hatinya) terhadap dunia memberi ketenangan bagi hati dan tubuh."
📚Bihar al-Anwar, Jilid 73, Halaman 120.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Jalan menuju Allah tidaklah mulus, jadi berusahalah agar tekad kalian tidak goyah."
(Rahbar Syahid Ali Khamenei)
http://Telegram.me/TahukahAnda
(Rahbar Syahid Ali Khamenei)
http://Telegram.me/TahukahAnda
Imam Muhammad al-Baqir as berkata,
“Tidaklah beriman seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat kikir, dengki, dan pengecut. Seorang mukmin tidak akan menjadi pengecut, rakus, dan kikir.”
📚Bihar al-Anwar, Jilid 73, Halaman 302.
http://Telegram.me/TahukahAnda
“Tidaklah beriman seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat kikir, dengki, dan pengecut. Seorang mukmin tidak akan menjadi pengecut, rakus, dan kikir.”
📚Bihar al-Anwar, Jilid 73, Halaman 302.
http://Telegram.me/TahukahAnda
"Sesungguhnya Tuhan kita, peradaban kita, agama kita, budaya kita, dan akal sehat kita meminta kita untuk mengambil pelajaran dari segala yang terjadi di dunia ini, terutama jika itu berkaitan dengan nasib kita."
(Syahid Sayyid Hassan Nasrallah)
http://Telegram.me/TahukahAnda
(Syahid Sayyid Hassan Nasrallah)
http://Telegram.me/TahukahAnda