Sudah terlalu lama 'spirit individualistis' telah merasuki kehidupan orang percaya. Sehingga apapun firman yang datang dalam hidup mereka selalu dipahami untuk kepentingan pribadi. Tidak heran jika akhirnya 'pelayanan Tubuh Kristus' dalam cakupan gereja lokal maupun secara universal sulit untuk terwujud.
Berikut adalah manifestasi "spirit individualistis" yang bekerja dalam kehidupan orang percaya:
1. Tidak mau mengambil sikap/komitmen untuk berjemaat dalam suatu gereja lokal.
Mereka hanya mau datang untuk disegarkan, dikuatkan, dan menikmati realita Tuhan lalu pulang menjalani urusannya sendiri.
2. Sering pergi "mengembara" ke segala macam gereja dan mencampur adukkan berbagai pengajaran dengan harapan menjadi orang percaya yang "diurapi dan sakti".
Alhasil kehidupannya semakin tidak karuan dan tidak jelas. Sebab ia seperti tanaman yang terus berpindah - pindah dari satu tanah ke tanah lainnya, akibatnya pasti mati dan tidak akan pernah bertumbuh seperti yang Tuhan harapkan.
3. Senang meminta arahan dan nubuatan pada hamba Tuhan yang diurapi demi kelancaran pekerjaan, dan dapat menjalani kehidupan yang tanpa masalah, pergumulan tanpa perlu berakar dalam firman dan gereja lokal!
4. Mempunyai 1001 macam alasan untuk menunda/ menolak ketika mendengar ajakan untuk meleburkan diri dalam agenda gereja lokal; dari alasan sibuk, tidak tahu harus mulai dari mana untuk melebur, tidak tahu caranya untuk melebur dan lain-lain...
Setelah saya renungkan, ternyata untuk meleburkan diri dalam agenda gereja lokal yang terbangun secara akurat tidaklah sulit, karena pada prinsipnya DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN! Jadi jika kita sudah sekian waktu lamanya tidak berjemaat, tidak berfungsi, dan tidak berakar dengan kuat, dan tidak meninggalkan kehidupan individualistis, hal itu disebabkan karena BELUM ADA TEKAD DAN KEMAUAN YANG KUAT UNTUK MELEBUR!
Jadi ini yang perlu kita lakukan untuk menanggulangi "spirit individualistis" dan disaat yang sama menumbuhkan "corporate life"
1. Mintalah kepada Roh Kudus hati yang mencintai Tuhan lebih dari apapun juga.
Karena pada prinsipnya melebur itu merupakan ekspresi dari bentuk cinta kita terhadap Tuhan yang bergelora sehingga terbangun tekad dan kemauan yang kuat untuk berfungsi dalam gereja lokal yang akurat! Ingat, jika kita mencintai Dia, maka apa saja akan kita lakukan untuk Dia tanpa ada pertimbangan - pertimbangan manusiawi. Kebenaran akan kita lakukan tanpa penundaan, melainkan dengan sukacita dan sukarela!
2. Terus bangun tekad yang kuat untuk meleburkan diri/berfungsi.
Minta Roh Kudus untuk bekerja menumbuhkan tekad tersebut dengan cara mengimajinasikan diri kita yang telah berfungsi! Berdoalah dalam bahasa roh dan deklarasikan setiap impresi yang kita terima sampai roh kita bergelora!
3. Bertekunlah dalam pengajaran dari pemimpin gereja lokal yang membangun hidupnya secara akurat.
Ketekunan kita dalam menggali setiap firman yang disampaikan oleh sang pemimpin rohani dalam gereja lokal tersebut, akan sangat menentukan "daya lebur" kita dalam agenda gereja lokal. Semakin bertekun, pasti semakin melebur (semakin jadi satu roh, satu agenda, dan satu tujuan serta pemahaman dengan pemimpin rohani) Jika belum melebur artinya belum bertekun! Prinsip firman itu sangat sederhana: siapa yang bertekun pasti memunculkan buah (Luk 8:15) Jadi kalau belum mati - matian, gila - gilaan, dan habis - habisan bagi agenda Kerajaan Surga, artinya daya tekun kita masih kurang. Mintalah kepada Roh Kudus untuk menolong kita untuk bertekun! Ingat, DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN!!
Beberapa minggu ini terus bermunculan dalam pikiran saya alasan - alasan kenapa masih saja ada orang - orang percaya yang masih mempertahankan kehidupan invidualistis dan belum berfungsi maksimal dalam gereja lokal. Tapi 1001 alasan yang muncul langsung diruntuhkan oleh Roh Kudus dengan satu kalimat: DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN!!
Ya, sangat benar sekali. Ini hanya masalah kemauan saja!! Jika.....
Berikut adalah manifestasi "spirit individualistis" yang bekerja dalam kehidupan orang percaya:
1. Tidak mau mengambil sikap/komitmen untuk berjemaat dalam suatu gereja lokal.
Mereka hanya mau datang untuk disegarkan, dikuatkan, dan menikmati realita Tuhan lalu pulang menjalani urusannya sendiri.
2. Sering pergi "mengembara" ke segala macam gereja dan mencampur adukkan berbagai pengajaran dengan harapan menjadi orang percaya yang "diurapi dan sakti".
Alhasil kehidupannya semakin tidak karuan dan tidak jelas. Sebab ia seperti tanaman yang terus berpindah - pindah dari satu tanah ke tanah lainnya, akibatnya pasti mati dan tidak akan pernah bertumbuh seperti yang Tuhan harapkan.
3. Senang meminta arahan dan nubuatan pada hamba Tuhan yang diurapi demi kelancaran pekerjaan, dan dapat menjalani kehidupan yang tanpa masalah, pergumulan tanpa perlu berakar dalam firman dan gereja lokal!
4. Mempunyai 1001 macam alasan untuk menunda/ menolak ketika mendengar ajakan untuk meleburkan diri dalam agenda gereja lokal; dari alasan sibuk, tidak tahu harus mulai dari mana untuk melebur, tidak tahu caranya untuk melebur dan lain-lain...
Setelah saya renungkan, ternyata untuk meleburkan diri dalam agenda gereja lokal yang terbangun secara akurat tidaklah sulit, karena pada prinsipnya DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN! Jadi jika kita sudah sekian waktu lamanya tidak berjemaat, tidak berfungsi, dan tidak berakar dengan kuat, dan tidak meninggalkan kehidupan individualistis, hal itu disebabkan karena BELUM ADA TEKAD DAN KEMAUAN YANG KUAT UNTUK MELEBUR!
Jadi ini yang perlu kita lakukan untuk menanggulangi "spirit individualistis" dan disaat yang sama menumbuhkan "corporate life"
1. Mintalah kepada Roh Kudus hati yang mencintai Tuhan lebih dari apapun juga.
Karena pada prinsipnya melebur itu merupakan ekspresi dari bentuk cinta kita terhadap Tuhan yang bergelora sehingga terbangun tekad dan kemauan yang kuat untuk berfungsi dalam gereja lokal yang akurat! Ingat, jika kita mencintai Dia, maka apa saja akan kita lakukan untuk Dia tanpa ada pertimbangan - pertimbangan manusiawi. Kebenaran akan kita lakukan tanpa penundaan, melainkan dengan sukacita dan sukarela!
2. Terus bangun tekad yang kuat untuk meleburkan diri/berfungsi.
Minta Roh Kudus untuk bekerja menumbuhkan tekad tersebut dengan cara mengimajinasikan diri kita yang telah berfungsi! Berdoalah dalam bahasa roh dan deklarasikan setiap impresi yang kita terima sampai roh kita bergelora!
3. Bertekunlah dalam pengajaran dari pemimpin gereja lokal yang membangun hidupnya secara akurat.
Ketekunan kita dalam menggali setiap firman yang disampaikan oleh sang pemimpin rohani dalam gereja lokal tersebut, akan sangat menentukan "daya lebur" kita dalam agenda gereja lokal. Semakin bertekun, pasti semakin melebur (semakin jadi satu roh, satu agenda, dan satu tujuan serta pemahaman dengan pemimpin rohani) Jika belum melebur artinya belum bertekun! Prinsip firman itu sangat sederhana: siapa yang bertekun pasti memunculkan buah (Luk 8:15) Jadi kalau belum mati - matian, gila - gilaan, dan habis - habisan bagi agenda Kerajaan Surga, artinya daya tekun kita masih kurang. Mintalah kepada Roh Kudus untuk menolong kita untuk bertekun! Ingat, DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN!!
Beberapa minggu ini terus bermunculan dalam pikiran saya alasan - alasan kenapa masih saja ada orang - orang percaya yang masih mempertahankan kehidupan invidualistis dan belum berfungsi maksimal dalam gereja lokal. Tapi 1001 alasan yang muncul langsung diruntuhkan oleh Roh Kudus dengan satu kalimat: DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN!!
Ya, sangat benar sekali. Ini hanya masalah kemauan saja!! Jika.....
Ya, sangat benar sekali. Ini hanya masalah kemauan saja!! Jika seseorang mau dan bertekad untuk berfungsi, maka pasti dia akan melebur dan berfungsi serta berakar kuat!! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Ps. Steven Agustinus
This message continues from yesterday’s.
Acts 13:22b ...He raised up David to be their king, concerning whom He also testified and said, ‘I have found David the son of Jesse, a man after My heart, who will do all My will.'
In that morning prayer, Holy Spirit reminded me this: having a life that pleases God’s heart - always ready to do His will - is a choice. And that choice is something born out of a heart that truly loves Him (Deut 6:1-5, Mat 22:37, Mark 12:30, Luke 10:27).
When I keep living in the fire of first love towards Him, I will automatically be willing to do anything to please His heart. By being fully open towards God and His plan out of my love for Him, God has the freedom to reshape my life to become the person He wants me to be.
Because I love Him, I could go through whatever molding process that I have to go through without grumbling and without any clash with my personal dreams and ambitions.
5. My personal spiritual growth will also determine the extent of breakthroughs and Spirit outpouring over the congregation/spiritual sons I lead
The more my daily life is pleasing before Him because I am accurate in all aspects as follow:
conviction,
heart attitude,
routine,
lifestyle/daily activities,
money management,
social life and relationships,
response and reaction in daily life,
location of residence,
job, and
in choosing our life partner,
I find how God keeps positioning myself to become impactful for others, especially for those whom God has set for me to lead.
Something happened when the congregation is willing to position themselves accurately - positioning myself as a ‘source of grace’ in their life. Suddenly, the people experienced 'open heaven' and a series of breakthroughs in their life. The portion of grace that God poured out in my life is poured out in their lives as well.
On the other hand, for those who are supposed to be under my guidance, but chose to have their own way, or to be guided by others who are more ‘anointed’, I found nothing divine occuring in their life. I see no portion of grace being added in their life; they have to achieve everything with their natural strength.
In the atmosphere of that morning prayer, Holy Spirit reminded me once again about the moment He called me and gave me the name ‘Steven’. He emphasized that as long as I could give myself to die (from my heart desires and ambitions, from flesh, from the love of self, this world and money), then through my ministry, God will raise many Pauls that He will use to shake Indonesia.
I kept praying and asking God for His Spirit to keep enabling me to die from flesh; to bring the death of Christ in my daily life. Therefore, the power of Christ’s resurrection could keep manifesting tangibly in my daily life.
2 Cor 4:10, 12, 16-18 (NASB) always carrying about in the body the dying of Jesus, so that the life of Jesus also may be manifested in our body. So death works in us, but life in you. Therefore we do not lose heart, but though our outer man is decaying, yet our inner man is being renewed day by day. For momentary, light affliction is producing for us an eternal weight of glory far beyond all comparison, while we look not at the things which are seen, but at the things which are not seen; for the things which are seen are temporal, but the things which are not seen are eternal.
God also desires for me to keep filling myself and the congregation/spiritual sons I lead with His word. Reading, praying and declaring the word every hour should become our new routine. Disciplining ourselves to set our minds on the things of the Spirit must be built as our new nature.
All these things will condition us to function as His holy temple in the midst of the wider society (2 Cor 6:16, Rev 21:3-4).
In the context of Indonesia which is ‘struggling’ with all kinds of intolerant powers spreading in the society, this is what I believe; only the outpouring of the Holy Spirit could transform the heart of men. And there will be many occurence of Spirit outpouring in Indonesia, like the one happened in Cornelius’ house.
By becoming
Acts 13:22b ...He raised up David to be their king, concerning whom He also testified and said, ‘I have found David the son of Jesse, a man after My heart, who will do all My will.'
In that morning prayer, Holy Spirit reminded me this: having a life that pleases God’s heart - always ready to do His will - is a choice. And that choice is something born out of a heart that truly loves Him (Deut 6:1-5, Mat 22:37, Mark 12:30, Luke 10:27).
When I keep living in the fire of first love towards Him, I will automatically be willing to do anything to please His heart. By being fully open towards God and His plan out of my love for Him, God has the freedom to reshape my life to become the person He wants me to be.
Because I love Him, I could go through whatever molding process that I have to go through without grumbling and without any clash with my personal dreams and ambitions.
5. My personal spiritual growth will also determine the extent of breakthroughs and Spirit outpouring over the congregation/spiritual sons I lead
The more my daily life is pleasing before Him because I am accurate in all aspects as follow:
conviction,
heart attitude,
routine,
lifestyle/daily activities,
money management,
social life and relationships,
response and reaction in daily life,
location of residence,
job, and
in choosing our life partner,
I find how God keeps positioning myself to become impactful for others, especially for those whom God has set for me to lead.
Something happened when the congregation is willing to position themselves accurately - positioning myself as a ‘source of grace’ in their life. Suddenly, the people experienced 'open heaven' and a series of breakthroughs in their life. The portion of grace that God poured out in my life is poured out in their lives as well.
On the other hand, for those who are supposed to be under my guidance, but chose to have their own way, or to be guided by others who are more ‘anointed’, I found nothing divine occuring in their life. I see no portion of grace being added in their life; they have to achieve everything with their natural strength.
In the atmosphere of that morning prayer, Holy Spirit reminded me once again about the moment He called me and gave me the name ‘Steven’. He emphasized that as long as I could give myself to die (from my heart desires and ambitions, from flesh, from the love of self, this world and money), then through my ministry, God will raise many Pauls that He will use to shake Indonesia.
I kept praying and asking God for His Spirit to keep enabling me to die from flesh; to bring the death of Christ in my daily life. Therefore, the power of Christ’s resurrection could keep manifesting tangibly in my daily life.
2 Cor 4:10, 12, 16-18 (NASB) always carrying about in the body the dying of Jesus, so that the life of Jesus also may be manifested in our body. So death works in us, but life in you. Therefore we do not lose heart, but though our outer man is decaying, yet our inner man is being renewed day by day. For momentary, light affliction is producing for us an eternal weight of glory far beyond all comparison, while we look not at the things which are seen, but at the things which are not seen; for the things which are seen are temporal, but the things which are not seen are eternal.
God also desires for me to keep filling myself and the congregation/spiritual sons I lead with His word. Reading, praying and declaring the word every hour should become our new routine. Disciplining ourselves to set our minds on the things of the Spirit must be built as our new nature.
All these things will condition us to function as His holy temple in the midst of the wider society (2 Cor 6:16, Rev 21:3-4).
In the context of Indonesia which is ‘struggling’ with all kinds of intolerant powers spreading in the society, this is what I believe; only the outpouring of the Holy Spirit could transform the heart of men. And there will be many occurence of Spirit outpouring in Indonesia, like the one happened in Cornelius’ house.
By becoming
His temple, those who interact with us will experience an encounter with God. Holy Spirit will be poured out from our mouth and heart which is full of His words (Job 32:18-20). #iLoveGod
Ps. Steven Agustinus
Ps. Steven Agustinus
Ketika seseorang mengambil keputusan untuk meleburkan diri dalam sebuah rumah rohani, dibutuhkan suatu sikap hati tertentu sebelum orang tersebut dapat menemukan posisi & fungsinya yang maksimal dalam tatanan Tubuh Kristus di rumah rohani tersebut....
1. Dibutuhkan sikap hati/ kualitas roh yang lembut, mudah dibentuk, mudah diajar dan mau berubah.
Ingat, sebelum seseorang memutuskan untuk meleburkan diri dalam suatu rumah rohani, sudah ada aturan, kultur, nilai-nilai & kebiasaan yang terbangun didalamnya. Dengan seseorang memutuskan untuk meleburkan diri, artinya orang yang bersangkutan harus bersedia untuk menyesuaikan diri, mengubah diri demi untuk bisa beradaptasi & mengikuti nilai-nilai & kultur yang sudah ada. Seperti misalkan, di jemaat BCC, nilai-nilai pelayanan yang kita lakukan semua didasari oleh spirit voluenteer/ kerelaan untuk berkorban, jadi tidak ada istilah 'pembagian amplop putih' setelah seseorang melakukan tugas pelayanannya. Tanpa orang yang baru meleburkan diri tersebut memiliki sikap hati yang mau berubah, mau dibentuk, maka ia akan alami adanya potensi konflik yang besar! Bagi orang yang mau meleburkan diri, mungkin hal 'pembagian amplop putih' adalah sesuatu yang normal, biasa ia terima - beberapa malah merasa bahwa itu adalah haknya! Tapi bagi jemaat BCC, kesempatan untuk melayani adalah suatu kehormatan. Kami melayani/ melibatkan diri dalam suatu aktifitas di rumah rohani sebagai wujud ekspresi penyembahan kami karena kami mencintai Dia!
Nah, demi untuk bisa mengubah diri dan mengikuti nilai-nilai Ilahi yang sudah terbangun dalam suatu rumah rohani, dibutuhkan keterbukaan untuk berubah dan kemauan untuk dibentuk ulang...
2. Dibutuhkan sikap hati penundukan diri atas hirarki yang sudah terbangun dalam rumah rohani yang ada.
Di BCC, sebagai seorang pemimpin senior, saya juga mengangkat beberapa orang lain untuk ikut membantu saya dalam jajaran kepemimpinan; mereka adalah orang-orang yang saya anggap sudah mampu untuk merepresentasikan keberadaan saya (dalam suatu skala tertentu - belum sepenuhnya, karena mereka juga sedang dalam proses pertumbuhan) tapi paling tidak mereka telah menunjukkan loyalitas, integritas & kapasitas yang mereka bawa dalam hidup mereka. Jadi, terlepas dari berbagai kelemahan yang mereka masih miliki, saya mempercayakan kepada mereka suatu tanggung jawab untuk mengawasi dan mengkoordinir berbagai divisi/ departemen atau fungsi pelayanan lain didalam rumah rohani yang ada. Nah, bagi orang-orang yang baru meleburkan diri, dibutuhkan kemauan untuk menundukkan diri dibawah pengayoman orang-orang yang saya tunjuk sebagai koordinator tersebut. Mungkin orang yang baru bergabung tersebut memang memiliki kapasitas/ potensi yang lebih bagus; tapi bagaimanapun tetap dibutuhkan sikap hati yang mau menundukkan diri dan mengikuti arahan dari sang koordinaor yang ada. Tanpa adanya penundukan diri, kekacauan pasti akan terjadi di divisi yang bersangkutan.
3. Dibutuhkan sikap hati yang siap melakukan apapun yang menjadi kebutuhan didalam rumah rohani yang ada.
Selama seseorang terus 'memilih-milih' untuk dapat berfungsi dalam suatu rumah rohani, orang yang bersangkutan akan terus menghadapi kendala untuk dapat berfungsi secara maksimal. Dibutuhkan kerelaan untuk ''bertekun dalam perkara kecil' (Luk 16:10) sebelum Tuhan mempercayakan kepadanya hal-hal besar dan penting! Ingat, meskipun dalam suatu rumah rohani ada koordinator yang sudah ditunjuk, bahkan ada seoranh pemimpin senior yang bertanggung jawab penuh atas siapa-siapa saja yang diberi wewenang untuk ikut melayani, tetap ada Tuhan yang berdaulat yang bakal menetapkan siapa-siapa yang Ia ijinkan untuk melayani DiriNya!
2 Timotius 2:19-21 (TB) Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."
Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari.......
1. Dibutuhkan sikap hati/ kualitas roh yang lembut, mudah dibentuk, mudah diajar dan mau berubah.
Ingat, sebelum seseorang memutuskan untuk meleburkan diri dalam suatu rumah rohani, sudah ada aturan, kultur, nilai-nilai & kebiasaan yang terbangun didalamnya. Dengan seseorang memutuskan untuk meleburkan diri, artinya orang yang bersangkutan harus bersedia untuk menyesuaikan diri, mengubah diri demi untuk bisa beradaptasi & mengikuti nilai-nilai & kultur yang sudah ada. Seperti misalkan, di jemaat BCC, nilai-nilai pelayanan yang kita lakukan semua didasari oleh spirit voluenteer/ kerelaan untuk berkorban, jadi tidak ada istilah 'pembagian amplop putih' setelah seseorang melakukan tugas pelayanannya. Tanpa orang yang baru meleburkan diri tersebut memiliki sikap hati yang mau berubah, mau dibentuk, maka ia akan alami adanya potensi konflik yang besar! Bagi orang yang mau meleburkan diri, mungkin hal 'pembagian amplop putih' adalah sesuatu yang normal, biasa ia terima - beberapa malah merasa bahwa itu adalah haknya! Tapi bagi jemaat BCC, kesempatan untuk melayani adalah suatu kehormatan. Kami melayani/ melibatkan diri dalam suatu aktifitas di rumah rohani sebagai wujud ekspresi penyembahan kami karena kami mencintai Dia!
Nah, demi untuk bisa mengubah diri dan mengikuti nilai-nilai Ilahi yang sudah terbangun dalam suatu rumah rohani, dibutuhkan keterbukaan untuk berubah dan kemauan untuk dibentuk ulang...
2. Dibutuhkan sikap hati penundukan diri atas hirarki yang sudah terbangun dalam rumah rohani yang ada.
Di BCC, sebagai seorang pemimpin senior, saya juga mengangkat beberapa orang lain untuk ikut membantu saya dalam jajaran kepemimpinan; mereka adalah orang-orang yang saya anggap sudah mampu untuk merepresentasikan keberadaan saya (dalam suatu skala tertentu - belum sepenuhnya, karena mereka juga sedang dalam proses pertumbuhan) tapi paling tidak mereka telah menunjukkan loyalitas, integritas & kapasitas yang mereka bawa dalam hidup mereka. Jadi, terlepas dari berbagai kelemahan yang mereka masih miliki, saya mempercayakan kepada mereka suatu tanggung jawab untuk mengawasi dan mengkoordinir berbagai divisi/ departemen atau fungsi pelayanan lain didalam rumah rohani yang ada. Nah, bagi orang-orang yang baru meleburkan diri, dibutuhkan kemauan untuk menundukkan diri dibawah pengayoman orang-orang yang saya tunjuk sebagai koordinator tersebut. Mungkin orang yang baru bergabung tersebut memang memiliki kapasitas/ potensi yang lebih bagus; tapi bagaimanapun tetap dibutuhkan sikap hati yang mau menundukkan diri dan mengikuti arahan dari sang koordinaor yang ada. Tanpa adanya penundukan diri, kekacauan pasti akan terjadi di divisi yang bersangkutan.
3. Dibutuhkan sikap hati yang siap melakukan apapun yang menjadi kebutuhan didalam rumah rohani yang ada.
Selama seseorang terus 'memilih-milih' untuk dapat berfungsi dalam suatu rumah rohani, orang yang bersangkutan akan terus menghadapi kendala untuk dapat berfungsi secara maksimal. Dibutuhkan kerelaan untuk ''bertekun dalam perkara kecil' (Luk 16:10) sebelum Tuhan mempercayakan kepadanya hal-hal besar dan penting! Ingat, meskipun dalam suatu rumah rohani ada koordinator yang sudah ditunjuk, bahkan ada seoranh pemimpin senior yang bertanggung jawab penuh atas siapa-siapa saja yang diberi wewenang untuk ikut melayani, tetap ada Tuhan yang berdaulat yang bakal menetapkan siapa-siapa yang Ia ijinkan untuk melayani DiriNya!
2 Timotius 2:19-21 (TB) Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."
Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari.......
Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.
Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
Pastikan kita menyediakan tanah hati yang terbaik; pastikan kita memberi diri sepenuhnya untuk melebur & berfungsi seperti yang Tuhan inginkan dalam rumah rohani yang ada....#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
Pastikan kita menyediakan tanah hati yang terbaik; pastikan kita memberi diri sepenuhnya untuk melebur & berfungsi seperti yang Tuhan inginkan dalam rumah rohani yang ada....#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Renungan Ps. Steven Agustinus pinned «https://www.youtube.com/watch?v=cSdnGe_qnV4&t=4s»
I met Dr. Jonathan David and enrolled in the Permanent School of the Prophets in 1996. Since then, I invested 6-8 hours a day to listen again to its recording and take note again of every word principles that he taught - I did this until 1998. Only after then did I held various prophetic-apostolic ministry trainings in Indonesia.
Many fellow pastors and God’s servants who followed the trainings start to experience again the touch of the Spirit and revelations of the word that they needed for so long. They received many word revelations about church’s role in transforming cities and nations. Although new hope is in the air, one question remains: “Where’s the church that represents the prophetic-apostolic dimension like the one we've been taught?”
When they asked me the question, I was still doing my travel ministry. I could only emphasized that they have the opportunity to realize the word principles they have received. And for the next few years, the same question kept on coming from the pastors who followed my trainings.
Slowly but surely, all those questions disturbed my heart until I had to bring it into prayer. Truly, prayers never change God; prayers change our life!
Through the prayers, my heart is open and ready to listen to God’s direction. Then, I heard God said:
“In your hands are many seeds, but you don’t have land. Open your own land and sow the seeds you have received from Me. After the seeds have grown and bear fruits, let the pastors see and taste them. If they enjoyed it and hoped for their land to bear the same fruits, give them the same seeds to be sown.”
In 2004, Breakthrough City Church (BCC) is established in Gading Serpong, Tangerang. BCC’s main goal is to become a model church in the prophetic-apostolic dimension for other churches.
After the first 9 months since church planting, the people started to experience the ‘open heaven'. Enthusiastic response filled with Spirit dynamics start to manifest in the church services. Slowly but surely, the congregation starts to show aggressiveness in their response towards the word. They start to become rooted to the truth when it comes to God’s word. They start to show a heart attitude of willing to die, to believe God even when it doesn’t make sense, and willing to let go of everything for Him.
1. Many church members dedicated themselves to partake in the various visions I received from God
Some are even willing to leave their jobs only to actively participate in realizing the visions.
2. The congregation has the generosity in their heart to sow and give in BCC’s various projects
They do not give with the hope of being given a certain position in that ministry/project. They give in sincerity because Holy Spirit truly moves them to.
3. Ministers who serve, both on the platform and within the church members, started to give themselves voluntarily and passionately
They don’t expect any offering, and even most of the time, they ‘funded’ the expenses of the ministry with their own money.
4. God planted many dreams in my life to start mobilizing certain people to start influencing and transforming certain domains
Some in the world of education, some in social media, and some in youth and teenagers. Those who are interested in those domains started to show themselves. Not everyone has the necessary skills to work in that area, but that’s where I see the power of grace enabling them to function there to realize God’s agenda.
The local body of Christ in BCC has functioned maximally in responding God’s agenda. This is the maximum functioning level that most churches don’t have. Most churches have 20% active participants, while the remaining 80% are just ‘spectators’. And such is the maximum level of functioning that I received from God as a prophetic-apostolic pattern, which I desire to duplicate to many other local churches. #iLoveGod
This message continues tomorrow
Ps. Steven Agustinus
Many fellow pastors and God’s servants who followed the trainings start to experience again the touch of the Spirit and revelations of the word that they needed for so long. They received many word revelations about church’s role in transforming cities and nations. Although new hope is in the air, one question remains: “Where’s the church that represents the prophetic-apostolic dimension like the one we've been taught?”
When they asked me the question, I was still doing my travel ministry. I could only emphasized that they have the opportunity to realize the word principles they have received. And for the next few years, the same question kept on coming from the pastors who followed my trainings.
Slowly but surely, all those questions disturbed my heart until I had to bring it into prayer. Truly, prayers never change God; prayers change our life!
Through the prayers, my heart is open and ready to listen to God’s direction. Then, I heard God said:
“In your hands are many seeds, but you don’t have land. Open your own land and sow the seeds you have received from Me. After the seeds have grown and bear fruits, let the pastors see and taste them. If they enjoyed it and hoped for their land to bear the same fruits, give them the same seeds to be sown.”
In 2004, Breakthrough City Church (BCC) is established in Gading Serpong, Tangerang. BCC’s main goal is to become a model church in the prophetic-apostolic dimension for other churches.
After the first 9 months since church planting, the people started to experience the ‘open heaven'. Enthusiastic response filled with Spirit dynamics start to manifest in the church services. Slowly but surely, the congregation starts to show aggressiveness in their response towards the word. They start to become rooted to the truth when it comes to God’s word. They start to show a heart attitude of willing to die, to believe God even when it doesn’t make sense, and willing to let go of everything for Him.
1. Many church members dedicated themselves to partake in the various visions I received from God
Some are even willing to leave their jobs only to actively participate in realizing the visions.
2. The congregation has the generosity in their heart to sow and give in BCC’s various projects
They do not give with the hope of being given a certain position in that ministry/project. They give in sincerity because Holy Spirit truly moves them to.
3. Ministers who serve, both on the platform and within the church members, started to give themselves voluntarily and passionately
They don’t expect any offering, and even most of the time, they ‘funded’ the expenses of the ministry with their own money.
4. God planted many dreams in my life to start mobilizing certain people to start influencing and transforming certain domains
Some in the world of education, some in social media, and some in youth and teenagers. Those who are interested in those domains started to show themselves. Not everyone has the necessary skills to work in that area, but that’s where I see the power of grace enabling them to function there to realize God’s agenda.
The local body of Christ in BCC has functioned maximally in responding God’s agenda. This is the maximum functioning level that most churches don’t have. Most churches have 20% active participants, while the remaining 80% are just ‘spectators’. And such is the maximum level of functioning that I received from God as a prophetic-apostolic pattern, which I desire to duplicate to many other local churches. #iLoveGod
This message continues tomorrow
Ps. Steven Agustinus
The account of the user that created this channel has been inactive for the last 5 months. If the account of the creator remains inactive in the next 30 days, it will self-destruct and the channel will lose its creator.
Pada zaman Musa, Daud, dan Salomo, ketika mereka menangkap isi hati Tuhan lalu membangun kemah Allah dan bait Allah seturut dengan pola yang Tuhan tetapkan, maka kemuliaan Tuhan turun atas kemah tersebut. Pada saat ini, firman Tuhan menegaskan kepada kita, bahwa kemah Allah dan bait Allah tersebut adalah keberadaan kita sebagai orang percaya. Untuk kemah Allah tersebut dapat terbangun secara akurat, maka Tuhan memberikan pola ilahi kepada rasul dan nabi.
Tentunya ada banyak orang - orang yang bermunculan sebagai "pengkhotbah", tapi tidak semua mereka dapat menangkap pola ilahi yang Tuhan tetapkan atas gerejaNya! Sehingga mereka tidak bisa bergerak dalam dimensi profetis dan apostolik. Oleh karenanya, suka atau tidak, mau tidak mau, kita harus mencapai pembicaraan ini: siapakah orang yang sedang kita ikuti? Dan bergereja dimanakah kita saat ini? Apakah pola ilahi mengenai gerejaNya sudah kita alami dengan nyata? Apakah sampai saat ini kita hanya menjadi "tukang pemanas bangku" gereja yang hanya bertindak sebagai penonton dalam suatu gereja?
Sangat penting bagi kita untuk terkoneksi dengan orang yang membawa pola ilahi terhadap gerejaNya! Jika kita saat ini masih berada dalam suatu "gereja" yang terus berbicara tentang berkat dan kesuksesan, itu tanda kita sedang berada di tempat yang salah! Jika kita saat ini sedang berada dalam pengayoman "imam Eli" (pemimpin yang agamawi dan kedagingan), itulah tanda bahwa kepemimpinan tersebut sedang tidak memperkenan hati Tuhan! Teruslah mengejar Tuhan dan jaga hati yang mencintai kebenaran, sebab hanya itulah yang dapat menyelamatkan kita dan akan menuntun kita menemukan pola ilahi! Sehingga oleh kedaulatanNya kita dapat terkoneksi dengan orang kegerakan. Dan dengan caraNya kita dapat terhubung secara akurat!! Sehingga kita bersama sebagai satu keluarga rohani dapat dibangun secara akurat sebagai batu hidup menjadi bait Allah dan juga tubuh Kristus!
1 Petrus 2:5 (TB) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
Satu hal lagi yang harus kita pahami sampai berakar: Wujud konkrit daripada kemuliaan Tuhan yang tercurah adalah 'kebangkitan diri kita yang berfungsi sebagai anggota tubuh Kristus dalam suatu gereja lokal yang dibangun secara akurat'. Jika kita cuma memahami bahwa kemuliaan Tuhan yang tercurah hanyalah hadirat Tuhan yang membuat kita "merinding - rinding" belaka dan membuat kita nyaman serta merasa tenang, itu artinya mentalitas kita hanyalah sebagai penikmat realita dan firmanNya saja, bukan pelaku dari firman itu sendiri!! Sebab kehadiran Tuhan/FirmanNya atas hidup kita sesungguhnya akan membuat kita menjadi pelaku dari kehendakNya. Membuat kita aktif dan efektif dalam menjalankan agenda Kerajaan Surga (Ibr 4:12)
Saya yakin, waktunya sudah tiba dan sedang tiba, tubuh Kristus sedang termanifestasi di atas bumi ini melalui satu jemaat yang telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus!!
Tubuh Kristus yang juga adalah kemah Allah/bait Allah akan memainkan peranan penting untuk terjadinya perubahan nyata atas dunia ini!! (Wahyu 21, 1 Yoh 5:4) #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Tentunya ada banyak orang - orang yang bermunculan sebagai "pengkhotbah", tapi tidak semua mereka dapat menangkap pola ilahi yang Tuhan tetapkan atas gerejaNya! Sehingga mereka tidak bisa bergerak dalam dimensi profetis dan apostolik. Oleh karenanya, suka atau tidak, mau tidak mau, kita harus mencapai pembicaraan ini: siapakah orang yang sedang kita ikuti? Dan bergereja dimanakah kita saat ini? Apakah pola ilahi mengenai gerejaNya sudah kita alami dengan nyata? Apakah sampai saat ini kita hanya menjadi "tukang pemanas bangku" gereja yang hanya bertindak sebagai penonton dalam suatu gereja?
Sangat penting bagi kita untuk terkoneksi dengan orang yang membawa pola ilahi terhadap gerejaNya! Jika kita saat ini masih berada dalam suatu "gereja" yang terus berbicara tentang berkat dan kesuksesan, itu tanda kita sedang berada di tempat yang salah! Jika kita saat ini sedang berada dalam pengayoman "imam Eli" (pemimpin yang agamawi dan kedagingan), itulah tanda bahwa kepemimpinan tersebut sedang tidak memperkenan hati Tuhan! Teruslah mengejar Tuhan dan jaga hati yang mencintai kebenaran, sebab hanya itulah yang dapat menyelamatkan kita dan akan menuntun kita menemukan pola ilahi! Sehingga oleh kedaulatanNya kita dapat terkoneksi dengan orang kegerakan. Dan dengan caraNya kita dapat terhubung secara akurat!! Sehingga kita bersama sebagai satu keluarga rohani dapat dibangun secara akurat sebagai batu hidup menjadi bait Allah dan juga tubuh Kristus!
1 Petrus 2:5 (TB) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
Satu hal lagi yang harus kita pahami sampai berakar: Wujud konkrit daripada kemuliaan Tuhan yang tercurah adalah 'kebangkitan diri kita yang berfungsi sebagai anggota tubuh Kristus dalam suatu gereja lokal yang dibangun secara akurat'. Jika kita cuma memahami bahwa kemuliaan Tuhan yang tercurah hanyalah hadirat Tuhan yang membuat kita "merinding - rinding" belaka dan membuat kita nyaman serta merasa tenang, itu artinya mentalitas kita hanyalah sebagai penikmat realita dan firmanNya saja, bukan pelaku dari firman itu sendiri!! Sebab kehadiran Tuhan/FirmanNya atas hidup kita sesungguhnya akan membuat kita menjadi pelaku dari kehendakNya. Membuat kita aktif dan efektif dalam menjalankan agenda Kerajaan Surga (Ibr 4:12)
Saya yakin, waktunya sudah tiba dan sedang tiba, tubuh Kristus sedang termanifestasi di atas bumi ini melalui satu jemaat yang telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus!!
Tubuh Kristus yang juga adalah kemah Allah/bait Allah akan memainkan peranan penting untuk terjadinya perubahan nyata atas dunia ini!! (Wahyu 21, 1 Yoh 5:4) #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Shalom,
Berhubung channel ini bermasalah, maka kami mengharapkan semua Kita dapat pindah ke channel yang baru. Berikut linknya @stevenagustinus
Caranya : klik tulisan @stevenagustinus lalu pilih join.
Terimakasih
Berhubung channel ini bermasalah, maka kami mengharapkan semua Kita dapat pindah ke channel yang baru. Berikut linknya @stevenagustinus
Caranya : klik tulisan @stevenagustinus lalu pilih join.
Terimakasih