TIC [ Tholibul Ilmi Cikarang ]
2.05K subscribers
2.73K photos
86 videos
253 files
9.73K links
🌎 Meraih ridho Allah dengan senantiasa mengikhlaskan niat.

📞 Saran , kritik , masukan2 dll silahkan hubungi abu fadhillah di nomor 0857-7123-2111 [ phone , sms , wa/telegram ]
Download Telegram
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

✍🏼🌦🔌🕌 *Masalah Penting*
•┈┈┈••✵☁✵••┈┈┈•

🔌📲 *Apa Hukum Mencharge Handphone dengan Listrik Milik Masjid ?*

✍🏼 Jawab :

🔌 "Tidak boleh mencharge handphone memakai listrik masjid, karena listrik masjid tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi. Maka tidak boleh bagi seseorang misalnya, menghubungkan kabel dari listrik masjid kerumahnya.
Dan (perlu diketahui), kaidah menurut ulama bahwa; harta yang diwakafkan itu dipakai sebatas syarat dari si pewakaf jika dia mensyaratkannya.
Dan jika tidak dipersyaratkan (oleh si pewakaf), maka dipakai sesuai 'urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat tersebut.
Dan perlu diperhatikan bahwa keberadaan sambungan (jek/colokan) listrik yang (memungkinkan) digunakan untuk charge handphone di masjid, tidak menunjukkan bahwa (tempat) wakaf-wakaf tersebut telah diijinkan untuk mencharge handphone.
Jek-jek tersebut sesungguhnya hanyalah disiapkan untuk kepentingan masjid seperti vacum cleaner atau mikrofon dan semisalnya. Dan tidak benar pendapat yang megatakan bahwa keberadaan jek listrik sudah menunjukkan ijin penggunaannya.
Juga (sisi negatifnya), bahwa dibukanya pintu ini (bolehnya memakai listrik masjid) akan membebani masjid dengan anggaran yang cukup besar. Dan jangan sekali-kali ada yang mengatakan, "Sesungguhnya charge handphone itu tidak ada beban (listriknya)" dan hendaknya dia perhatikan betapa banyak orang yang menggunakan handphone."

📥📮 Rujukan :
📚 Fatwa-fatwa dan risalah risalah asy-syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (Jilid 9 halaman 70)

📚 Dan Liqa' Babil Maftuh nomer 168 bersama asy-syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin _rahimahullah_ Kamis, 22 Jumadil Akhirah 1418 H

✍🏼 Wallahu a'lam

•┈┈┈••✵☁✵••┈┈┈•
🔴مســـألة_مهمة 🔴

🎙ما حكم شحن الجوال (الهاتف النقال) من كهرباء المسجد ؟

✍🏻ج:لا يجوز شحن الجوال من كهرباء المسجد لأن كهرباء المسجد لا يجوز أن تستغل في الأمور الشخصية فلا يجوز لشخص مثلاً أن يمد خطاً من كهرباء المسجد إلى بيته والأصل عند العلماء أن المال الموقوف يستعمل حسب شرط الواقف إن كان هنالك شرط له فإن لم يكن له شرط فيستعمل المال الموقوف حسب ما تعارف الناس عليه وينبغي التنبيه إلى أن وجود الوصلات الكهربائية التي توصل بها الهواتف لشحنها لا يدل على أن الأوقاف قد أذنت في شحن الجوالات فهذه الوصلات إنما وضعت لخدمة المسجد من استخدام المكنسة الكهربائية أو مكبر الصوت ونحو ذلك ولا يصح القول بأن وجودها إذن للناس باستعمالها. كما أن فتح هذا الباب للناس يعني تحميل المساجد مصاريف عالية ولا يقولن أحد إن شحن الجوال ليس مكلفاً وعليه أن ينظر إلى كثرة الجوالات مع الناس
.
راجع: فتاوى ورسائل محمد بن إبراهيم آل الشيخ - (ج 9 / ص 70)،

و لقاء الباب المفتوح رقم 168 للشيخ : محمد بن صالح العثيمين الخميس هو الثاني والعشرون من شهر جمادى الآخرة عام (1418هـ).

والله أعلى وأعلم

•┈┈┈••✵☁✵••┈┈┈•
✏ Alih Bahasa : Abu Umar Manshur _hafidzahullah_
✅ Muroja'ah : Al Ustadz Syafi'i Alaydrus _hafidzahullah_

📝 *Forum Ahlussunnah Ngawi* 📚

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💐🌷🌻🌹 BERATNYA KEIKHLASAN

✍🏻 Asy-Syaikh Musthafa Mabram hafizhahullah berkata:

‏الإخلاص عزيز، ووالله لا يعالج المرء شيئا من الأعمال الباطنة أشد من الإخلاص، وقد تظن الإخلاص في عملك فإذا فيه التفات.

"Ikhlash itu berat, demi Allah tidaklah seseorang mengobati atau memperbaiki amal bathin apapun yang lebih berat dibandingkan keikhlasan, dan bisa jadi engkau menyangka ikhlash dalam amalmu, padahal ternyata masih menoleh kepada selain Allah."

🌍 Sumber || https://twitter.com/FawaidMbrm/status/814266613411287041

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

✋🏻💥⚠🚫 BOLEHKAH TEPUK TANGAN DI ACARA ATAU PESTA

📑 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

📪 Penanya: Apakah hukum tepuk tangan di acara atau pesta?

🔓 Asy-Syaikh: Tepuk tangan di acara atau pesta bukan termasuk kebiasaan Salafus Shalih. Jika mereka kagum terhadap sesuatu mereka terkadang bertasbih atau terkadang bertakbir. Hanya saja mereka tidak bertakbir atau bertasbih secara berjamaah. Tetapi masing-masing bertakbir atau bertasbih sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suara dan cukup didengar orang yang di dekatnya saja.

👋🏻 Jadi yang utama adalah tidak melakukan hal ini yaitu tepuk tangan. Hanya saja kita tidak bisa mengatakan bahwa hal itu haram, karena perkaranya telah tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin di masa ini, dan manusia pun tidak menjadikannya sebagai ibadah. Oleh karena inilah maka tidak tepat berdalil untuk menyatakan pengaharaman bertepuk tangan ini dengan firman Allah Ta’ala tentang orang-orang musyrik:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً.

“Dan tidaklah shalat mereka (orang-orang musyrik) di Baitullah kecuali bersiul-siul dan bertepuk tangan.” (QS. Al-Anfal: 35)

🔥 Jadi orang-orang musyrik menjadikan tepuk tangan di Baitullah sebagai ibadah. Sedangkan orang-orang yang bertepuk tangan ketika mendengar atau melihat sesuatu yang menakjubkan, mereka tidak memaksudkan hal itu sebagai ibadah. Kesimpulannya bahwa meninggalkan tepuk tangan lebih utama dan lebih baik, hanya saja hal itu tidak sampai pada tingkat haram.

📪 Beliau rahimahullah juga pernah ditanya: Bagaimana pendapat Fadhilatus Syaikh tentang sebagian pengajar yang menolak tepuk tangan di dalam kelas yang dilakukan oleh murid-murid untuk memberi semangat teman-teman mereka, hal itu dengan alasan bahwa tepuk tangan bukan termasuk perbuatan kaum Muslimin dan tidak boleh dilakukan?”

🔓 Jawaban: Sesungguhnya pihak yang menganggap bahwa hal ini tidak boleh maka wajib atasnya untuk menunjukkan dalil sebelum yang lainnya, agar kita bisa mengetahui hukumnya berdasarkan syariat. Jika dia memiliki dalil yang memuaskan maka sesungguhnya tidak boleh membiarkan para murid untuk melakukannya. Adapun pihak yang menganggap bahwa hal itu tidak mengapa dan di sana ada maslahat dalam memberi semangat kepada anak-anak dan menggugah mereka, maka dia tidak boleh mengingkari mereka.

🚫💡 Sedangkan yang dilakukan oleh orang-orang kafir adalah menjadikan siulan dan tepuk sebagai pengganti shalat dan doa, dan mereka tidak melakukannya ketika kagum atau menganggap bagus sesuatu. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa seorang muslim jika dia bertepuk tangan ketika kagum atau menganggap bagus sesuatu dia dengan perbuatan tersebut telah tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

📄 Allah Azza wa Jalla hanya berfirman:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً.

“Dan tidaklah shalat mereka (orang-orang musyrik) di Baitullah kecuali bersiul-siul dan bertepuk tangan.” (QS. Al-Anfal: 35)

✅ Jadi muka’ maknanya adalah bersiul, sedangkan tashdiyah adalah tepuk tangan. Mereka menjadikan hal ini sebagai ibadah.

📚 Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=142781

🌎 Kunjungi || http://forumsalafy.net/bolehkah-tepuk-tangan-di-acara-atau-pesta/

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
_
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

📬 FAEDAH PERTANYAAN PADA ASAATIDZAH AHLUSSUNNAH

Oleh : Ustadz Abu Utsman Kharisman

❓Tanya:
Bismillah..

Mohon maaf ustad skiranya ana menyita waktu dan pikirannya...

Afuan ustad ..

Bagaimana bimbingan syariat terkait ruksoh / bolehnya tidak shalat ke masjid berjamaah karena hujan..

(Apakah khusus saat malam atau juga saat siang... Apakah deras atau cukup membuat kita basah , Walaupun ada payung / fasilitas lain dan rumah ga terlalu jauh dari masjid)..

Dan terkait tata cara adzan dgn lafadz

"sholi fi buyutikum"


Semoga alloh membalas jasa baik para asatidzah dengan kebaikan yang banyak...


👉🏼Jawab:
Hujan adalah salah satu udzur utk tidak hadir dalam sholat berjamaah di masjid. Baik hujannya terjadi malam atau siang. Kapan saja.

Untuk sholat berjamaah 5 waktu di Masjid, sekedar hujan gerimis sudah merupakan udzur. Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ قَالَ
خَرَجْتُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ فَلَمَّا رَجَعْتُ اسْتَفْتَحْتُ فَقَالَ أَبِي مَنْ هَذَا قَالَ أَبُو الْمَلِيحِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَصَابَتْنَا سَمَاءٌ لَمْ تَبُلَّ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

dari Abu Al Malih ia berkata; Aku keluar di malam yang hujan, ketika pulang aku langsung meminta untuk dibukakan pintu. Bapakku bertanya, "Siapa itu?" "Abu Al Malih, " jawabku. Bapakku berkata, "Pada hari Hudaibiah aku pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu kami kehujanan namun *tidak sampai membasahi bagian bawah sandal kami*, kemudian berserulah muadzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Sholluu fii rihaalikum ( "Shalatlah di tempat-tempat tinggal kalian. ")(H.R Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Namun, jika seseorang tetap ke masjid dgn memakai payung atau menerobos hujan itu, hal itu tidak mengapa. Bahkan, seperti sholat yg memiliki keutamaan khusus seperti Isya dan Subuh berjamaah, akan lebih baik jika diperjuangkan. Karena pahalanya seperti sholat malam selama setengah malam. Demikian juga sholat berjamaah di masjid di seluruh waktu, keutamaan mendatanginya adalah seperti ibadah haji. Hal ini tidak bisa didapatkan jika kita sholat sendirian.

Wallahu A'lam

=====================

📠 Dikutip dari channel @alistiqomah

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

⛔🎉🏳HUKUM TURUT SERTA DALAM PERAYAAN NATAL DAN TAHUN BARU

👎🏻 Sangat disesalkan, banyak kaum muslimin yang ternyata ikut-ikutan gembira dan ikut-ikutan merayakan hari raya/hari besar kaum kafir.

Diantaranya adalah
❌ perayaan Natal dan
❌Tahun Baru. Yang lebih parah adalah Tahun Baru, karena banyak dari kaum muslimin yang tidak mengerti bahwa itu termasuk perayaan/hari besar orang-orang kafir.

🌎 Mereka beralasan bahwa Tahun Baru bersifat universal. Di samping tidak sedikit dari kaum muslimin yang ikut meramaikan perayaan Natal, atau sekadar membantu tetangganya yang beragama kristen untuk merayakan Natal, berupa turut membantu memasak, hadir dalam undangan Natal, turut mengucapkan selamat, dan lain-lain. Ini semua termasuk turut andil dalam perayaan hari besar agama kafir.

📞🎞 Semestinya seorang muslim menimbang segala ucapan dan perbuatannya dengan timbangan syari’at Allah.

🖲Bagaimana Islam mengatur hubungan dengan orang-orang kafir. Apakah boleh turut andil atau turut kerja sama, atau sekadar ikut meramaikan acara perayaan orang-orang kafir? Termasuk bolehkah ikut meramaikan atau ikut-ikutan senang dengan perayaan Natal dan Tahun Baru?

🎓 Berikut penjelasan seorang ‘ulama besar international , Asy-Syaikh
Al-’Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia (kini telah wafat).

ﺳﻤﺎﺣﺔ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻭﻻ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﺔ ﻣﺸﺎﺭﻛﺔ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ، ﺃﻭ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ، ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺗﺮﻙ ﺫﻟﻚ ؛ ﻷﻥ ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻘﻮﻡ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ ، ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻝ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺣﺬﺭﻧﺎ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﺑﻬﺘﻬﻢ ﻭﺍﻟﺘﺨﻠﻖ ﺑﺄﺧﻼﻗﻬﻢ ، ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﺔ ﺍﻟﺤﺬﺭ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺴﺎﻋﺪ ﻓﻲ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ ﺑﺄﻱ ﺷﻲﺀ ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﺸﺮﻉ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﻳﻘﻴﻤﻬﺎ ﺃﻋﺪﺍﺀ ﺍﻟﻠﻪ ؛ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻻﺷﺘﺮﺍﻙ ﻓﻴﻬﺎ ، ﻭﻻ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻬﺎ ، ﻭﻻ ﻣﺴﺎﻋﺪﺗﻬﻢ ﺑﺄﻱ ﺷﻲﺀ ، ﻻ ﺑﺎﻟﺸﺎﻱ ، ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻘﻬﻮﺓ ، ﻭﻻ ﺑﺄﻱ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻛﺎﻷﻭﺍﻧﻲ ، ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ . ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ : ﴿ ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻻَ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻹِﺛْﻢِ

ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﴾ . ‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 2 ‏] .
ﻓﺎﻟﻤﺸﺎﺭﻛﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺛﻢ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥ ، ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻤﺔ ﺗﺮﻙ ﺫﻟﻚ .
ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻠﻌﺎﻗﻞ ﺃﻥ ﻳﻐﺘﺮ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺃﻓﻌﺎﻟﻬﻢ ، ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻪ ، ﻭﺃﻥ ﻳﻤﺘﺜﻞ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻥ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺈﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﺑﻤﺎ ﺷﺮﻉ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ – : ﴿ ﻭَﺇِﻥ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﴾ . ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 116 ‏] . ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ : ﴿ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺮَﺻْﺖَ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﴾ . ‏[ ﻳﻮﺳﻒ : 103 ‏] .

ﻓﺎﻟﻌﻮﺍﺋﺪ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻠﺸﺮﻉ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻷﺧﺬ ﺑﻬﺎ ﻭﺇﻥ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﺰﻥ ﺃﻓﻌﺎﻟﻪ ﻭﺃﻗﻮﺍﻟﻪ ، ﻭﻳﺰﻥ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻗﻮﺍﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ . ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻟﻪ – ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ – ﻓﻤﺎ ﻭﺍﻓﻘﻬﻤﺎ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﻘﺒﻮﻝ ، ﻭﺇﻥ ﺗﺮﻛﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﻣﺎ ﺧﺎﻟﻔﻬﻤﺎ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﺮﺩﻭﺩ ﻭﺇﻥ ﻓﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ .

📌 Samahatul Imam Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

❗Tidak boleh bagi muslim dan muslimah untuk ikut serta dengan kaum Nashara, Yahudi, atau kaum kafir lainnya dalam acara perayaan-perayaan mereka.
Bahkan wajib meninggalkannya . Karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut.

🔘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari sikap menyerupai mereka atau berakhlaq dengan akhlaq mereka. Maka wajib atas setiap mukmin dan mukminah untuk waspada dari hal tersebut, dan tidak boleh membantu untuk merayakan perayaan-perayaan orang-orang kafir tersebut dengan sesuatu apapun, karena itu merupakan perayaan yang menyelisihi syari’at Allah dan dirayakan oleh para musuh Allah. Maka tidak boleh turut serta dalam acara perayaan tersebut,
tidak boleh bekerja sama dengan orang-orang yang merayakannya, dan tidak boleh membantunya dengan sesuatu apapun, baik teh, kopi, atau perkara lainnya seperti alat-alat atau yang semisalnya.

✅ Allah juga berfirman :

﴿ ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻻَ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻹِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﴾

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”
[Al-Ma`idah : 2]

⏳Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.
Tidak selayaknya bagi seorang yang berakal jernih untuk tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang lain. Yang wajib atasnya adalah melihat kepada syari’at dan aturan yang dibawa oleh Islam, merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya tidak menimbangnya dengan aturan manusia, karena kebanyakan manusia tidak mempedulikan syari’at Allah. Sebagaimana firman Allah :

﴿ ﻭَﺇِﻥ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﴾

“Kalau engkau mentaati mayoritas orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
[Al-An’am : 116]

▫Allah juga berfirman :

﴿ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺮَﺻْﺖَ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﴾

“Kebanyakan manusia tidaklah beriman walaupun engkau sangat bersemangat (untuk menyampaikan penjelasan).”

[Yusuf : 103]

🛣 Maka segala perayaan yang bertentangan dengan syari’at Allah tidak boleh dirayakan meskipun banyak manusia yang merayakannya. Seorang mukmin menimbang segala ucapan dan perbuatannya, juga menimbang segala perbuatan dan ucapan manusia, dengan timbangan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Segala yang sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satu dari keduanya, maka diterima meskipun ditinggakan manusia. Sebaliknya, segala yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satunya, maka ditolak meskipun dilakukan oleh manusia.

[ Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah rahimahullah: I/405 ]

📬 Sumber: http://mahad-assalafy.com/2014/12/23/hukum-turut-serta-dalam-perayaan-natal-dan-tahun-

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💐📝Menghadap Allah dengan Hati yang Selamat

🌹 Allah Azza Wa Jalla berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

🍃 pada hari (kiamat) saat harta dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan *hati yang selamat* (Q.S asy-Syu'araa' ayat 88-89).

☀️ Penjelasan:

🌏 Pada hari itu, seseorang tidak bisa menghindar dari adzab Allah. Dia tidak bisa membayar dgn hartanya sebagai ganti agar ia terhindar dari adzab Allah.

⚡️ Seandainya ia memiliki harta berupa emas sepenuh bumi, hal itu tidak bisa dijadikan tebusan dirinya agar terhindar dari adzab Allah. Hartanya tidak bisa memberi manfaat sedikitpun. Demikian juga anaknya.

🌺 Apakah yang dimaksud dengan hati yang selamat?

▶️ Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan: itu adalah hati yang hidup yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.

⏩ Mujahid dan al-Hasan menyatakan: hati yang selamat dari kesyirikan.

➡️ Said bin Musayyib berkata: itu adalah hati yang sehat, hatinya orang beriman. Sedangkan hati orang kafir dan munafiq adalah hati yang sakit.

⏩ Abu Utsman anNaisabuuriy menyatakan: itu adalah hati yang kosong dari kebid'ahan, (penuh) ketenangan menuju Sunnah.

🚏 (Disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir).

💡 Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menyatakan: Hati yang selamat artinya adalah selamat dari kesyirikan, keraguan, kecintaan terhadap keburukan, terus menerus dalam kebid'ahan dan dosa. Justru sebaliknya hati itu berisi ikhlas, ilmu, keyakinan, cinta pada kebaikan, menghiasinya dalam hatinya. Kehendak dan cintanya mengikuti kecintaan Allah. Hawa nafsunya (ditundukkan) untuk mengikuti (ajaran) yang datang dari Allah.

🚏 (Taisiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiirri Kalaamil Mannaan (1/593)).

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al I'tishom

=====================
📠 Dikutip dari channel @alistiqomah

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

🌹📜HUKUMNYA DARAH YANG KELUAR DARI TUBUH



❓🌹pertanyaan:

Fadhilatusy syeikh, apakah darah yang keluar dari tubuh adalah najis dan apakah wajib melepaskan pakaian ketika menunaikan shalat ?


✅🌷 jawab:

Darah yang keluar dari tubuh jika ia keluar dari dua jalan yaitu qubul atau dubur maka ia adalah najis; sebab Nabi shallallahu alahi wasallam memerintahkan wanita di dalam haid untuk mencuci darah haid.

Dan jika ia keluar dari bagian yang lain dari tubuh seperti mimisan dan luka dan yang semisalnya, maka kebanyakan para ahli ilmu berpendapat bahwa ia adalah najis akan tetapi dimaafkan dari yang ringannya; yaitu sesuatu yang sedikit darinya hingga walaupun ia mengenai badan dan pakaian,

Dan sebagian ulama berpendapat: bahwa ia tidaklah najis; sebab Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis".

Dan dahulu para sahabat di dalam jihad mereka tertimpa luka dan badan dan pakaian mereka tercemari/terkotori dengan darah tersebut, dan tidak ternukilkan bahwa mereka diperintah mencucinya;

Sebab apa yang terpisah dari manusia maka ia adalah suci, lalu seandainya jarinya terputus (sekedar contoh) maka jari tersebut adalah suci, maka jika bagian-bagian tersebut terpisah maka ia adalah suci, maka kesucian darah ialah lebih pantas, padahal bagian-bagian tersebut yang terpisah mesti padanya terdapat darah, akan tetapi lebih hati-hatinya adalah ia mencucinya kecuali sesuatu yang ringan yang dianggap biasa maka tidaklah mengapa ia mencucinya.

Akan tetapi mengapa engkau tidak bertanya apakah ia membatalkan wudhu ataukah tidak?

Maka kita jawab: sesungguhnya ia tidaklah membatalkan wudhu kecuali apa yang keluar dari dua jalan.

Adapun yang keluar dari bagian yang lain dari tubuh maka sungguh ia tidaklah membatalkan wudhu sama saja sedikit ataukah banyak.


✍🏻🔊 Asy-syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah:


📚sumber: [silsilah liqaatil babil maftuh (81)]

📶 http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_081_14.mp3



. 📼🌷📼

🔲 حكم الدم الخارج
من الجسم

السؤال:
فضيلة الشيخ ، هل الدم الخارج من الجسم نجس وهل يجب خلع الثياب عند أداء الصلاة

الجواب:
الدم الخارج من الجسم إن خرج من السبيلين؛ أي: من القبل أو الدبر فهو نجس؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يأمر النساء في الحيض أن يغسلن دم الحيض.

وإن خرج من بقية البدن كالرعاف والجرح وما أشبه ذلك، فأكثر أهل العلم يرون أنه نجس لكن يعفى عن يسيره؛ يعني: عن الشيء القليل منه، حتى ولو أصاب البدن منه أو الثوب،

وبعض العلماء: يرى أنه ليس بنجس ؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: «إن المؤمن لا ينجس»

وكان الصحابة رضي الله عنهم في الجهاد تصيبهم الجراحة وتتلوث أبدانهم وتتلوث ثيابهم بذلك الدم، ولم ينقل أنهم أمروا بغسله؛

ولأن ما فصل من الآدمي فهو طاهر فلو قطعت إصبعه مثلاً فالإصبع طاهرة، فإذا كانت الأجزاء إذا انفصلت فهي طاهرة فطهارة الدم من باب أولى، على أن الأجزاء التي تنفصل لابد أن يكون بها دم، لكن الاحتياط: أن يغسله. إلا أن يكون شيئاً يسيراً جرت به العادة فلا بأس ألا يغسله.

• لكن لماذا لم تسأل هل ينقض الوضوء أو لا؟

فنقول: إنه لا ينقض الوضوء إلا ما خرج من السبيلين.
أما ما خرج من بقية البدن فإنه لا ينقض الوضوء سواءً كان قليلاً أو كثيراً.




📠 Dikutip dari channel @manhaj_salafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
💬 GROUP WHATSAPP :
🌴 PENCARI AL-HAQ 🌴
~~~~~~~•¤•~~~~~~~

🔐 *KAIDAH DALAM MEMAKNAI BID'AH* 🔐


💺 Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله تعالى


❓Pertanyaan :

Ahsanallahu ilaikum,
Apa pengertian bid'ah?
Dan apakah yang menyelisihi kitab dan sunnah dinamakan dengan *bid'ah hasanah*?
Karena (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالى) berkata, "Apa yang menyelisihi kitab maka itu bid'ah, dan apa yang tidak diketahui bahwa hal tersebut menyelisihi maka terkadang tidak dinamakan dengan bid'ah".
Karena kita dapati sebagian jama'ah berlebih-lebihan misalnya dalam masalah dzikir, ya'ni dzikir-dzikir tertentu misalnya di pagi atau sore hari, mereka menambah-nambahi dalam dzikir ini. Dan apakah ini disebut bid'ah?


✔Jawaban :

🔐 "Kaidah bid'ah -mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan kepadamu- :

¤ Seorang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Allah syari'atkan. ¤

Itulah kaidahnya.

Bukan melakukan perbuatan yang tidak Allah syari'atkan, akan tetapi melakukan peribadatan. Maka *bid'ah itu terkait dengan perkara ibadah*. Yang bukan perkara ibadah maka tidak ada kaitan dengannya.

Jika seseorang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syari'atkan berupa keyakinan, atau ucapan, atau perbuatan, maka kita katakan, "Ini merupakan bid'ah". Adapun perkara yang bukan merupakan ibadah (ta'abudiyyah), maka silahkan ciptakan sesuai keinginanmu, dan tidak seorangpun mengatakan, "Hal tersebut merupakan perkara bid'ah". Oleh karena itu, di zaman kita ini kita dapati perkara-perkara baru yang amat banyak dalam hal adat atau kebiasaan, bukankah begitu? Sekarang kita menulis dengan komputer dan dengan alat tulis, merekam dengan alat perekam, dan perkara ini merupakan perkara yang tidak dikenal di zaman para sahabat, namun hal ini bukan merupakan perkara ibadah, akan tetapi merupakan perkara adat atau kebiasaan dan wasilah-wasilah.

Adapun peribadatan kepada Allah, misalnya orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan mencoba mensucikan sifat Allah yang sebenarnya telah Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri, maka mereka adalah mubtadi'. Dan juga yang beribadah kepada-Nya dengan menetapkan penyerupaan untuk-Nya kemudian berkata, "Kami beriman dengan sifat-sifat-Nya yang itu merupakan sifat-sifat yang serupa dengan sifat-sifat kita", maka mereka ini juga mubtadi'.

Maka apa kaidah dalam memaknai bid'ah?

¤ Beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak Dia syari'atkan baik berupa keyakinan, atau ucapan, atau amalan, baik dalam asal ibadah maupun caranya. ¤

Kalau misalnya sekelompok orang melakukan sholat jama'ah, kemudian mereka berkata, "Kita akan berdzikir kepada Allah dengan dzikir-dzikir setelah sholat secara berjama'ah, kita ucapkan secara berjama'ah. ((سبحان الله)) secara berjama'ah, ((الحمد لله)) secara berjama'ah, ((الله أكبر)) secara berjama'ah, maka ini adalah bid'ah. Bid'ah apa? Bid'ah asal ibadah atau bid'ah caranya? Yaitu caranya.
Na'am." 🔓


📚 Liqa Al-Bab Al-Maftuh 65


⬆🇮🇩🔁🇸🇦⬇


🔐 *الضابط في تعريف البدعة* 🔐


💺 فضيلة الشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله تعالى


❓السؤال :

ما هو تعريف البدعة؟ وهل ما خالف الكتاب، والسنة يسمى بدعة حسنة؛ لأن شيخ الإسلام يقول: ما خالف الكتاب فهو بدعة، وما لم يعلم أنه خالف فقد لا يسمى بدعة؛ لأننا نجد بعض الجماعات يغلون مثلاً في الأذكار، يعني: في أذكار معينة -مثلاً- في الصباح،أو في السماء فيزيدون في هذه الأذكار، فهل هذه تسمى بدعة؟

✔ الجواب:

🔸"ضابط البدعة -بارك الله فيك-: أن يتعبد الإنسان لله بما لم يشرعه الله، هذا الضابط، لا أن يفعل ما لم يشرعه الله، أن يتعبد، فالبدعة تتعلق بالعبادة، وإنما غير العبادة فما لها تعلق بها، فإذا تعبد الإنسان لله بما لم يشرعه من عقيدة ،أو قول، أو فعل قلنا: هذه بدعة، أما إذا كان من الأمور غير التعبدية ،فابتدع ما شئت، ولا أحد يقول: هذه بدعة؛ولهذا الآن عندنا ابتداعات كثيرة في الأمور العادية أليس كذلك؟ نكتب بالكمبيوتر الآن، وبالآلات الكاتبة، ونسجل في المسجل، وهذا ليس معروفاً في عهد الصحابة، لكن هذا ليس تعبداً، ولكن من الأمور العادية ،والوسائل. أما التعبد لله ،مثل الذين يتعبدون لله ـ تعالى ـ بتنزيهه عن صفاته التي وصف الله بها نفسه، هؤلاء مبتدعة، يتعبدون لله تعالى بإثبات المثيل له فيقو
لون: نحن نؤمن بالصفات على أنها مماثلة لصفاتنا هؤلاء مبتدعة ـ أيضاً ـ . فالضابط في البدعة إذاً ما هو؟ (التعبد لله بما لم يشرعه الله من عقيدة ،أو قول، أو عمل، سواء كان في أصل العبادة، أو في كيفيتها) .فلو صلى أناس جماعة، ثم قالوا: سنذكر الله ـ  عز وجل ـ بأذكار الصلوات جميعاً، نقول جميعاً: سبحان الله، والحمد لله، والله أكبر، قلنا: هذه بدعة، بدعة بماذا ... بأصل العبادة،أو بكيفيتها؟ بكيفيتها."🔸


📚 المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [65]


العقيدة > البدع والمحدثات


📥💽🔈▶ Dengarkan audionya dibawah ini 🔽

=====================
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


📠 Dikutip dari channel @pencarialhaq1

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
Dengar audionya di https://is.gd/definisibidah
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

🌙 Bila Hendak Tidur 🌟⭐️

☄ Sebelum tidur disunnahkan membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah (ayat 285-286). Bagi siapa yang membaca dua ayat tersebut maka dia akan dilindungi dari kejelekan dan bahaya syaithan.

🌴 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Barangsiapa yang membacanya pada suatu malam, maka kedua ayat tersebut akan muncukupinya (orang yang membacanya, pen).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, dari Shahabat Abu Mas’ud Al-Badri Radhiallahu ‘anhu)

📔📒 Membacanya tidak butuh waktu lama, tapi keutamaannya luar biasa agungnya. Mari mulai saat ini kita biasakan membacanya setiap malam.

Dua ayat tersebut adalah:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّن رُّسُلِهِۦ‌ۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَا‌ۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ (٢٨٥)
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. [Mereka mengatakan]: "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun [dengan yang lain] dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta’at". [Mereka berdo’a]: "Ampunilah kami wahai Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (285)

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡہَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡ‌ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرً۬ا كَمَا حَمَلۡتَهُ ۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَا‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ‌ۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآ‌ۚ أَنتَ مَوۡلَٮٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ (٢٨٦)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala [dari kebaikan] yang diusahakannya dan ia mendapat siksa [dari kejahatan] yang dikerjakannya. [Mereka berdo’a]: "Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (286)

••••••••••••••••••
📠 Dikutip dari channel @buletinalilmu

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

❌🎆🎇 *HUKUM ORANG YANG MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI TANPA NIAT BERTASYABBUH DENGAN NASHARA*

🚆 ```Berkata Al 'Allamah Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :```

🚦 ˝Sebagian orang bila engkau katakan kepada mereka : _˝Ini tasyabbuh dengan orang-orang kafir˝_, maka dia akan mengatakan : _˝Saya tidak bermaksud untuk bertasyabbuh˝_.
⚠👉 Maka kita katakan : *˝Tasyabbuh itu tetap terjadi (baik engkau bermaksud ataupun tidak), selama keserupaan itu ada maka tidak ada bedanya antara berniat untuk menyerupai ataupun tidak meniatkannya˝*.

__________
📚 ```At Ta'liq 'alal Iqtidha`, hal.308```

*****
🗃 Arsip WALIS » http://walis-net.blogspot.com/2016/12/hukum-orang-yang-merayakan-tahun-baru.html
🗳 Kritik dan saran » http://goo.gl/d0M01P
🕰 Faedah Lain » http://walis.salafymedia.com/

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•

🚫من يحتفل برأس السنة الميلادية ولم ينو التشبه بالنصارى 🚫


✅ قال العلامة ابن عثيمين رحمـه الله:" بعض الناس إذا قلت: هذا تشبه بالكفار، يقول: أنا لم أقصد التشبه! فنقول: التشبه حاصل ((( سواء قصدت أو لم تقصد ))) ما دام المشابهة حصلت فلا فرق بين أن ينوي المشابهة أو لا ينويها "اهـ.


📋【التعليق على الاقتضاء【صـ ٣٠٨】 ☆★☆★☆★☆★☆★☆★
🔸قناة🔹🌿 ردود منهجــ☟ـة 🌿
https://goo.gl/u89Fhj

•••••••
📲 *Majmu'ah AL ISTIFADAH*
🌍 http://bit.ly/tentangwalis
🔵 Telegram http://bit.ly/alistifadah JOIN
📲 مجموعة الاستفادة
🗓 Sabtu, 02 Rabi'utsani 1438H / 31 Desember 2016M

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•
▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆▆


👆🏾 ↪ TURUT BERBAGI ↩ 🛰
http://tlgrm.me/tholibulilmicikarang
Salafycikarang.salafymedia.com

📚 Tholibul Ilmi Cikarang
___________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💐🍛☕🌹 BOLEHKAH MAKAN ATAU MINUM DALAM KEADAAN BERDIRI?

✍🏻 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

📬 Pertanyaan: Ada beberapa hadits Nabi yang melarang makan dan minum dalam keadaan berdiri, dan juga ada beberapa hadits yang membolehkan untuk makan dan minum dalam keadaan berdiri, maka apakah maknanya kita tidak boleh makan dan minum dalam keadaan berdiri, atau kita makan dan minum dalam keadaan duduk, dan manakah hadits-hadits yang lebih layak untuk diikuti?

🔓 Jawaban: Hadits-hadits dalam masalah ini shahih dari Nabi shallallahu alaihi was sallam, yaitu tentang larangan minum dalam keadaan berdiri, dan makan sama hukumnya. Namun juga terdapat riwayat dari beliau bahwa beliau pernah minum dalam keadaan berdiri, sehingga perkaranya dalam hal ini longgar dan semua riwayatnya shahih, jadi larangan tersebut sifatnya makruh. Maka jika seseorang butuh untuk makan atau minum dalam keadaan berdiri, hal itu tidak masalah.

✋🏻 Telah dipastikan bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam minum dalam keadaan duduk dan berdiri, jadi jika seseorang perlu maka tidak masalah untuk makan atau minum dalam keadaan berdiri, walaupun jika duduk maka itu afdhal atau lebih utama dan lebih baik.

📑 Dan juga terdapat riwayat yang shahih yang menyebutkan bahwa beliau shallallahu alaihi was sallam minum air zam-zam dalam keadaan berdiri.

☝🏻 Dan terdapat riwayat yang shahih dari beliau shallallahu alaihi was sallam dari hadits Ali radhiyallahu anhu yang menyebutkan bahwa beliau minum dalam keadaan berdiri dan duduk. Perkaranya dalam masalah ini longgar, walaupun minum dan makan dalam keadaan duduk lebih afdhal dan nyaman. Namun jika seseorang minum berdiri maka tidak masalah, demikian juga jika dia makan berdiri maka tidak masalah.

📚 Sumber || https://www.binbaz.org.sa/fatawa/3407

🌏 Kunjungi || http://forumsalafy.net/bolehkah-makan-atau-minum-dalam-keadaan-berdiri/

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💥❌⛔🔥 JANGAN MEYAKINI SESUATUPUN SEBELUM MENDAPATKAN DALILNYA!

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

‏سبب التأويلات الخاطئة ما يتصف به كثير من الناس من أنه يعتقد ثم يستدل، وإذا اعتقد الإنسان ثم استدل حمله اعتقاده على تحريف الكلم.

"Sebab berbagai penafsiran yang keliru adalah apa yang biasa dilakukan oleh banyak orang berupa meyakini sesuatu baru kemudian mencari dalil, dan jika seseorang meyakini sesuatu baru kemudian mencari dalil, maka keyakinannya tersebut akan mendorongnya untuk mengubah-ubah redaksi sebuah perkataan."

📚 As-Siyasah asy-Syar’iyyah, hlm. 223

🌍 Sumber || https://twitter.com/imamothaimeen/status/815240440597413888

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💐🌻🌷🌹 ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MENELANTARKAN HAMBA-NYA YANG JUJUR DAN IKHLASH

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

«فو الله ما من أحد يقبل على الله بصدق وإخلاص، ويعمل بعمل أهل الجنة إلا لم يخذله الله أبداً»

"Demi Allah, tidaklah seorangpun yang menghadap Allah dengan jujur dan ikhlash serta beramal dengan amal penduduk surga, kecuali Allah tidak akan menelantarkannya selama-lamanya."

📚 Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, hlm. 104

🌍 Sumber || https://twitter.com/imamothaimeen/status/815239210282217472

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

🌖⭕🌺💥 KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH BERJAMA’AH

Suatu hari Umar bin al-Khaththab merasa kehilangan (tidak menjumpai) Sulaiman bin Abi Hatsmah pada shalat Shubuh, lalu Umar pergi ke pasar pagi-pagi, sementara tempat tinggal Sulaiman terletak antara masjid dan pasar, lalu beliau berjumpa dengan ibu Sulaiman yang bernama asy-Syifa’, maka beliau berkata kepadanya, “Saya tidak melihat Sulaiman pada shalat Shubuh.” Ibunya menjawab, “Dia menghabiskan malam dengan mengerjakan shalat, lalu diapun dikalahkan oleh kedua matanya (ketiduran pada waktu Shubuh).” Maka Umar berkata:

لأَنْ أَشْهَدَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فِي الْجَمَاعَةِ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُومَ لَيْلَةً.

“Sungguh, aku menghadiri shalat Shubuh berjama’ah lebih aku sukai dibandingkan aku mengerjakan shalat semalam suntuk.”

📑 Muwaththa’ al-Imam Malik, no. 432, dan Syu’abul Iman, karya al-Baihaqy, no. 2617, riwayat ini shahih.

📚 Sumber : Saluran telegram asy-Syaikh Arafat bin Hasan al-Muhammady hafizhahullah

✍🏻 Lalu bagaimana dengan seseorang yang tidak mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah karena dunia, atau nonton pertandingan bola orang kafir, atau melakukan hal yang sia-sia lainnya, atau bahkan menghabiskannya untuk maksiat?!!

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

🕌💎 DI ANTARA KEINDAHAN ISLAM

🔑 asy-Syaikh al-'Allamah 'Ubaid al-Jabiri hafizhahullah,

⛱ "Bahwa di antara keindahan-keindahan Islam dan keelokan prilaku pemeluknya adalah :
▫tidak mengganggu,
▫tidak menzhalimi baik terhadap jiwa maupun harta, dan
▫ menjauhi kejelekan."

📚 Imdad al-Muslim 1/387

‏أنه من محاسن الإسلام وجميل خصال أهله: كف الأذى، وعدم الظلم في النفس والمال، وهجر السوء.

إمداد المسلم (١/ ٣٨٧)
#keindahan_islam #ubaid
•••••••••••••••••••••
📠 Dikutip dari channel @ManhajulAnbiya

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
📚 http://bit.ly/telegramTIC 📚
——————————————————

💥❌⛔🔥 SATU-SATUNYA PONDASI YANG TEPAT UNTUK MENANGANI RADIKALISME

✍🏻 Asy-Syaikh Ahmad bin Mubarak bin Qadzlan al-Mazru'iy hafizhahullah berkata:

‏علاج كثير من المشاكل والتطرفات الفكرية والأخلاقية أصله ترسيخ العقيدة الصحيحة ونشرها وبيان ضدها، فكل علاج دونه فضعيف أو غير ناجح.

"Penanganan sekian banyak permasalahan dan radikalisme ideologi dan moral, dasarnya adalah penanaman aqidah yang benar dan menyebarkannya serta menjelaskan kesesatan hal-hal yang berseberangan dengannya. Jadi semua penanganan tanpa hal-hal ini maka sifatnya lemah atau tidak akan berhasil."

🌍 Sumber || https://twitter.com/aboalmubarak/status/771389132031524864

📠 Dikutip dari channel @ForumSalafy

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________