Majelis_MANIS
6.62K subscribers
5.72K photos
5 videos
54 files
8.03K links
Majelis Iman Islam. Chat & Pertanyaan Silahkan bergabung di Group Area Masing".
Download Telegram
JANGAN MENILAI ORANG DARI JAUH!

📆 Jum'at, 11 Jumadil Awal 1448 H/ 23 Oktober 2026

📚 *Motivasi*

📝 Pemateri : Ustadz Aunur Rafiq Shaleh
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Dahulu, nenekku—semoga Allah merahmatinya—biasa mengusap kepalaku hingga aku tertidur. Setiap malam, beliau selalu menceritakan sebuah kisah yang menarik.

Pada suatu malam, beliau bercerita tentang seorang lelaki yang mendatangi sahabatnya untuk meminjam uang.

Namun, sahabatnya meminta maaf karena dirinya juga sedang mengalami kesulitan keuangan. Meski demikian, ia menunjukkan kepada lelaki itu seorang lain seraya berkata, “Pergilah kepadanya. Engkau akan menemukan apa yang engkau butuhkan di sana!”

Lelaki itu pun pergi ke rumah orang yang dimaksud untuk meminjam uang. Ketika sampai di sana, ia mendapati orang tersebut sedang mengobati seekor domba yang sakit.

Dalam hatinya, ia berkata, “Betapa pelitnya orang ini! Padahal dombanya begitu banyak, tetapi ia tidak rela membiarkan seekor domba yang sakit begitu saja. Bagaimana mungkin ia akan memberiku uang?”

Akhirnya, ia kembali kepada sahabatnya dan menceritakan apa yang dilihatnya.

Sahabatnya berkata, “Kembalilah kepadanya. Ia tidak akan menolakmu!”

Lelaki itu pun kembali lagi. Kali ini, ia mendengar orang tersebut berpesan kepada anak-anaknya agar memungut setiap butir gandum yang jatuh di jalan ketika mereka pergi ke penggilingan.

Ia kembali berkata dalam hati, “Orang yang tidak rela kehilangan beberapa butir gandum saja pasti sangat pelit. Ia memiliki begitu banyak gandum, tetapi masih saja menyuruh anak-anaknya memungut butiran yang jatuh. Jelas, ia tidak akan memberiku apa-apa!”

Sekali lagi, ia kembali kepada sahabatnya dan menceritakan apa yang didengarnya.

Namun, sahabatnya tetap memintanya untuk kembali dan mengajukan permintaan kepada orang itu, sebab ia tidak pernah menolak orang yang datang meminta bantuan.

Maka, untuk ketiga kalinya, lelaki itu mendatangi rumah orang tersebut.

Kali ini, ia mendengar orang itu meminta anak-anak perempuannya untuk meredupkan cahaya lampu agar minyak di dalamnya dapat bertahan lebih lama.

Sambil berbicara kepada dirinya sendiri, ia berkata, “Demi Allah, semakin aku melihat orang ini, semakin bertambah pula keyakinanku bahwa ia benar-benar pelit!”

Tiba-tiba, lelaki pemilik rumah itu membuka pintunya dan mendapati tamunya berdiri di hadapannya.

Ia pun bertanya, “Apa yang membawamu kemari?”

Lelaki itu menjawab, “Aku akan berkata jujur kepadamu, karena aku tidak terbiasa berdusta. Aku sedang ditimpa kesulitan. Aku mendatangi sahabatku, tetapi ternyata ia juga mengalami kesulitan yang sama denganku. Lalu, ia menyarankan agar aku datang kepadamu untuk meminta bantuan.

Ini adalah kali ketiga aku datang ke rumahmu.

Pada kedatanganku yang pertama, aku melihatmu sedang mengobati seekor domba yang sakit. Aku berpikir, engkau melakukan itu meskipun memiliki banyak domba. Bagiku, itu pertanda bahwa engkau orang yang pelit!

Pada kedatanganku yang kedua, aku mendengarmu berpesan kepada anak-anakmu agar memungut butiran gandum yang jatuh di jalan menuju penggilingan. Aku berpikir, engkau memiliki begitu banyak gandum, tetapi masih saja menyuruh anak-anakmu memungut butiran yang jatuh. Sungguh, engkau pasti orang yang pelit!

Dan sekarang, aku mendengarmu berpesan kepada anak-anak perempuanmu agar meredupkan cahaya lampu demi menghemat minyaknya. Hal itu semakin menguatkan keyakinanku bahwa engkau memang pelit!”

Lelaki pemilik rumah itu tersenyum, lalu berkata kepada tamunya,

“Adapun domba itu, dahulu ia sehat dan kuat. Kami telah menikmati susunya selama bertahun-tahun. Lalu, di manakah kesetiaan kita jika kita justru menelantarkannya ketika ia jatuh sakit?

Adapun gandum, aku menyuruh anak-anakku mengumpulkan butiran yang jatuh agar mereka belajar menghargai nikmat. Sebab, manusia tidak pernah tahu pada makanan yang mana Allah meletakkan keberkahan.

Sedangkan mengenai pesanku kepada anak-anak perempuanku agar meredupkan cahaya lampu demi menghemat minyak, aku ingin mengajari mereka hidup hemat dan pandai mengatur pengeluaran.
Aku adalah orang yang berkecukupan. Namun, tidak lama lagi anak-anak perempuanku akan meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah suami mereka. Bisa jadi, salah seorang dari mereka kelak bersuamikan orang yang miskin. Karena itulah, aku ingin mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.”

Lelaki itu pun meminta maaf kepada pemilik rumah atas buruk sangkanya.

Pemilik rumah berkata, “Tidak apa-apa. Sekarang, sampaikanlah apa yang engkau butuhkan!”

Lelaki itu pun menyampaikan kebutuhannya. Pemilik rumah memberinya bantuan, lalu ia berpamitan dan melanjutkan perjalanannya.

Sahabatku!

Sejak kecil, aku belajar dari kisah ini bahwa ada kemuliaan akhlak yang tidak mudah dipahami oleh setiap orang.

Aku belajar untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari kejauhan. Aku juga belajar bahwa ada orang-orang yang mampu melihat jauh melampaui apa yang dilihat oleh kebanyakan manusia.

Bayangkanlah kesetiaan ini, sahabatku!

Lelaki itu tidak menelantarkan seekor domba yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dan memberinya begitu banyak kebaikan.

Menurutmu, mungkinkah orang seperti ini akan tega menelantarkan sesama manusia?

Sahabatku!

Hal-hal kecil sering kali menceritakan sesuatu yang besar.

Ada perkara-perkara sederhana, ada detail-detail yang mungkin engkau anggap tidak penting. Namun, jika engkau merenungkannya dengan saksama dan melihatnya dengan mata hati yang tajam, niscaya engkau dapat menghemat banyak waktu dan tenaga yang seharusnya engkau habiskan untuk mengenal seseorang dari dekat.

Jangan terburu-buru menilai manusia hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Sebab, di balik tindakan-tindakan kecil yang terlihat sederhana, terkadang tersimpan nilai-nilai besar yang tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Salam hangat untuk hatimu, sahabatku!

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
Menghafal Lewat Pendengaran (Audio): Cocok untuk Tipe Auditorik

📆 Sabtu, 12 Jumadil Awal 1447 H | 24 Oktober 2026

📚 *Interaksi Al-Quran*

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I, M.Pd

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tips Menghafal
Keletihan Visual di Tengah Hiruk Pikuk Pekerjaan

Mata Anda mungkin sudah terlalu lelah menatap layar komputer, deretan surel, dan tabel laporan sejak pagi hingga sore hari. Saat menempuh perjalanan pulang membelah kemacetan kota, Anda menyandarkan punggung di kursi kendaraan sambil memutar siniar atau musik favorit untuk sekadar mengurai kepenatan. Di tengah rutinitas yang sangat menguras ketajaman visual ini, pernahkah Anda merasa bahwa memaksa mata untuk kembali menatap lembaran mushaf setelah seharian bekerja terasa begitu berat. Kita sering kali membiarkan diri kita terjebak dalam ilusi waktu luang, berpikir bahwa proses bimbingan menghafal mutlak menuntut kita untuk duduk diam dan membaca teks secara terus menerus dalam kondisi fisik yang prima.

​Meruntuhkan Kekakuan Cara Belajar

Ada sebuah pemahaman keliru yang kerap menghentikan langkah dan mengikis rasa percaya diri kita di tengah jalan. Kita merasa bahwa ketidaksanggupan kita untuk membaca secara visual berarti kita telah gagal menjalankan komitmen batin yang telah dibuat. Padahal, logika dunia kerja yang kaku dan selalu menuntut satu cara operasional baku sama sekali tidak berlaku dalam hamparan luas dimensi spiritual. Panggilan langit tidak pernah memaksa Anda untuk menyiksa fisik yang sudah mencapai batas toleransi kelelahannya. Merasa letih untuk membaca bukanlah tanda bahwa Anda kehilangan tekad, melainkan sebuah sinyal bahwa Anda hanya perlu mengubah strategi. Jika mata Anda telah lelah bekerja, maka indera pendengaran Anda sesungguhnya masih memiliki ruang yang sangat luas untuk menyerap ketenangan.

​Sistem Otomatisasi dalam Mengumpulkan Aset Batin

Mari kita pandang metode audio ini layaknya membangun sistem otomatisasi pasif dalam sebuah strategi bisnis perusahaan. Ketika Anda mendengarkan lantunan ayat Al Qur’an melalui penyuara telinga di tengah perjalanan dinas atau saat mengetik laporan ringan, Anda sebenarnya sedang menerapkan manajemen waktu yang sangat efisien. Anda sedang menyerap mata uang ketekunan secara pasif tanpa harus menghentikan mobilitas Anda sebagai seorang profesional. Bagi Anda yang memiliki kecenderungan gaya belajar auditorik, suara yang diputar berulang ulang akan membentuk pola harmoni yang jauh lebih cepat menempel di ingatan dibandingkan teks visual. Kalkulasi untung rugi dari metode ini sangat luar biasa, sebab Anda tidak perlu memangkas jam istirahat yang berharga, namun secara konsisten terus merawat aset abadi yang akan melindungi kewarasan mental Anda dari kebisingan urusan dunia.

​Satu Langkah Mendengarkan Hari Ini

Anda tidak perlu lagi merasa bersalah atau memaksakan mata kembali bekerja keras jika tubuh Anda memang menuntut haknya untuk diistirahatkan. Jangan biarkan kelelahan fisik memadamkan niat baik Anda yang sudah tertata rapi. Langkah paling realistis yang bisa Anda eksekusi hari ini adalah memanfaatkan gawai yang sudah berada di dalam genggaman Anda. Saat berada di dalam kendaraan, menaiki kereta komuter, atau ketika sedang bersantai sejenak nanti malam, putarlah satu rekaman audio ayat pendek dari qari favorit Anda secara perlahan. Biarkan alunan suara yang tenang tersebut membasuh kepenatan pikiran Anda. Sebuah keputusan kecil untuk mau mendengarkan dengan hati yang lapang adalah cara paling bersahabat untuk menyambung rantai tradisi kebaikan pada hari ini juga.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812
Nasihat Kematian (8)
Kematian Adalah Kehidupan

📆 Ahad, 13 Jumadil Awal 1448 H / 25 Oktober 2026
📚 *Tazkiyatun Nafs*
📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا.

“Manusia itu sedang tidur; ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.” ( Ali bin Abi Thalib )

RENUNGAN

1. Maksud tidur di sini adalah bukan tidur secara fisik, tetapi ini adalah kiasan bahwa manusia sering lalai saat hidup, sehingga ketika mereka wafat baru sadar ternyata begitu sebentar hidup di dunia.

2. Satu hari menurut Allah sama dengan 1000 tahun di dunia. Maka, andai manusia diberikan umur 63 tahun, maka menurut hitungan akhirat hidupnya hanya 1 menit 45 detik.

3. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang yang lalai itu) hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Syaikh Wahbah Zuhaili mengomentari ayat di atas dalam tafsirnya:

“Sehingga apabila kematian itu mendatangi salah seorang musyrik itu, dan ia menyaksikan apa yang akan menimpanya, maka ia berkata sebagai ungkapan penyesalan atas keterlambatannya dalam beramal dan kelalaiannya dari taat kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku! Kembalikan aku ke kehidupan dunia.’”

4. Semua manusia ingin diberikan kesempatan saat ajal menjemput, bukan untuk mengumpulkan harta, bukan untuk meraih jabatan, tetapi hanya untuk beramal shalih. Maka, manfaatkanlah kesempatan selagi hidup.

5. Orang yang cerdas adalah orang yang menghadirkan kesadaran tentang kematian sebelum kematian benar-benar datang.
(Ibnul Jauzi)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : *www.manis.id*

Subscribe *Youtube MANIS*: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
*Instagram* : http://instagram.com/majelis_manis_
*Facebook*: http://fb.com/majelismanis
*TikTok*
https://www.tiktok.com/@majelis_mani_
*Channel WA :* https://whatsapp.com/channel/0029Vb2gvsvCRs1nMp7XA51f
*Channel Telegram*:
https://t.me/MajelisMANIS

📱*Info & Pendaftaran member WA* : https://bit.ly/gabungmanis

💰*Donasi Dakwah Manis, Multi Media & Pemberdayaan Ummat*.
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6287891088812
Pintu-Pintu Rezeki

📆 Senin, 14 Jumadil Awal 1448H / 26 Oktober 2026
📚 Fiqih dan Hadits
📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.
🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃

Rezeki adalah segala hal yang bermanfaat yang Allah Ta'ala berikan kepada manusia. Dia tidak terbatas pada uang dan harta. Rezeki bisa juga istri yang shalihah bagi seorang suami, suami yang shalih bagi seorang istri, anak yang shalih, kesehatan, sahabat yang baik, tetangga yang baik, dan apa pun yang bermanfaat buat kehidupan kita.

Bisa jadi, seseorang dilebihkan harta, tapi rezeki lainnya dia tidak memilikinya seperti kesehatan, atau anak yang shalih. Atau dia sehat, tetapi secara harta biasa saja, dan bisa jadi ada yg punya semuanya. Memandang rezeki seperti ini lebih memunculkan sikap bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

Berikut ini adalah beberapa pintu rezeki yang mesti kita ketahui:

1⃣ Taqwa kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya

(QS. AthThalaq, Ayat 2-3)

Secara bahasa taqwa kepada Allah Ta'ala adalah takut (khauf) kepada Allah. (Tafsir Al Muyassar, 1/292, 1/401)

Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata tentang taqwa:

أن يُطاع فلا يُعْصَى، وأن يُذْكَر فلا يُنْسَى، وأن يُشْكَر فلا يُكْفَر

Yaitu taat dan tidak ingkar, ingat dan tidak lupa, bersyukur dan tidak kufur. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/86-87)

Imam Al Baidhawi Rahimahullah menjelaskan:

وهو استفراغ الوسع في القيام بالواجب والاجتناب عن المحارم

Taqwa adalah mengerahkan potensi dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. (Anwarut Tanzil, 1/373)

Rezeki yang Allah Ta'ala berikan bagi orang yang bertaqwa bukan hanya dunia, tapi juga akhirat. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma:

مَخْرَجًا مِنْ شُبُهَاتِ الدُّنْيَا وَمِنْ غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَمِنْ شَدَائِدِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Jalan keluar dari syubhatnya dunia, dari kematian yang menyedihkan, dan dari kerasnya hari kiamat.

(Tafsir Al Qurthubi, 18/160)

Bersambung ..

Wallahu A'lam
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : *www.manis.id*

Subscribe *Youtube MANIS*: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
*Instagram* : http://instagram.com/majelis_manis_
*Facebook*: http://fb.com/majelismanis
*TikTok*
https://www.tiktok.com/@majelis_mani_
*Channel WA :* https://whatsapp.com/channel/0029Vb2gvsvCRs1nMp7XA51f
*Channel Telegram*:
https://t.me/MajelisMANIS

📱*Info & Pendaftaran member WA* : https://bit.ly/gabungmanis

💰*Donasi Dakwah Manis, Multi Media & Pemberdayaan Ummat*.
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6287891088812
Pintu-Pintu Rezeki (Bag. 2)

📆 Selasa, 15 Jumadil Awal 1448H / 27 Oktober 2026
📚 Fiqih dan Hadits
📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.
🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃
2⃣ Bekerja dan Berusaha

Bekerjasa dan berusaha jelas adalah upaya yg syar'iy, masuk akal, dan sunnatullah kehidupan. Bukan hanya manusia, hewan pun bekerja, walau seluruh makhluk sudah dijamin rezekinya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

(QS. Ar-Ra'd, Ayat 11)

Ayat yang lain:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah, Ayat 105)

Dari Rafi' bin Khadij, "Dikatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

"Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?" beliau bersabda: "Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur."

(HR. Ahmad No. 17265, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2158. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih)

Para nabi pun bekerja .., Nabi Daud 'Alaihissalam makan dari usahanya sendiri, Nabi Zakariya 'Alaihissalam sbagai tukang kayu. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari

Mari kita bekerja yang halal menuju pribadi yang qaadirun 'alal kasbi - mampu mencari nafkah sendiri, tidak meminta-minta atau mengemis.

Nabi Shalallahu 'Alaihi
Sallam berkata kepada Qabishah:

قَالَ يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ فَمَا سِوَاهُنَّ مِنْ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh (tidak halal) kecuali untuk tiga golongan. (Satu) orang yang menanggung hutang (gharim, untuk mendamaikan dua orang yang saling bersengketa atau seumpanya). Maka orang itu boleh meminta-minta, sehingga hutangnya lunas. Bila hutangnya telah lunas, maka tidak boleh lagi ia meminta-meminta. (Dua) orang yang terkena bencana, sehingga harta bendanya musnah. Orang itu boleh meminta-minta sampai dia memperoleh sumber kehidupan yang layak baginya. (Tiga) orang yang ditimpa kemiskinan, (disaksikan atau diketahui oleh tiga orang yang dipercayai bahwa dia memang miskin). Orang itu boleh meminta-minta, sampai dia memperoleh sumber penghidupan yang layak. Selain tiga golongan itu, haram baginya untuk meminta-minta, dan haram pula baginya memakan hasil meminta-minta itu."

(HR. Muslim no. 1044)

Wallahu A'lam

(Bersambung ..)
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh : *www.manis.id*

Subscribe *Youtube MANIS*: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
*Instagram* : http://instagram.com/majelis_manis_
*Facebook*: http://fb.com/majelismanis
*TikTok*
https://www.tiktok.com/@majelis_mani_
*Channel WA :* https://whatsapp.com/channel/0029Vb2gvsvCRs1nMp7XA51f
*Channel Telegram*:
https://t.me/MajelisMANIS

📱*Info & Pendaftaran member WA* : https://bit.ly/gabungmanis

💰*Donasi Dakwah Manis, Multi Media & Pemberdayaan Ummat*.
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6287891088812
KETIKA ALLAH MENITIPKAN CAHAYA Di HATI KITA


📅 Rabu, 16 Jumada al-awwal 1447 H / 28 Oktober 2026


📚 KELUARGA MUSLIM


📝 Pemateri : Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj


🌹☘️🪷☘️🌹☘️🪷🌹

يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ

_“Allah memberi petunjuk dengan cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nur: 35)_

Betapa indahnya ketika Allah menghadirkan cahaya-Nya ke dalam hati kita. Cahaya yang tidak selalu membuat hidup menjadi mudah, tetapi menjadikan hati lebih teduh dalam menghadapi kehidupan.

Kita mungkin masih berjumpa dengan kesulitan, kekecewaan, bahkan perlakuan orang lain yang melukai perasaan. Namun, hati yang diterangi petunjuk Allah perlahan belajar untuk tidak kehilangan ketenangannya. Sebab ia memahami, tidak semua yang terjadi harus sesuai dengan keinginan kita, dan tidak semua sikap manusia harus menentukan kebahagiaan kita.

Hati yang bercahaya adalah hati yang lapang menerima dirinya sendiri. Ia mampu mensyukuri kelebihan tanpa merasa lebih mulia, dan mengakui kekurangan tanpa kehilangan harga diri. Ia tidak terus-menerus menghukum dirinya atas masa lalu, tidak pula menghabiskan hidup untuk membandingkan perjalanan dirinya dengan orang lain. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang sedang bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri. Ada yang patut disyukuri, ada yang perlu dibenahi, dan ada yang harus diterima dengan penuh kerelaan.

Hati yang bercahaya juga belajar berlapang dada terhadap berbagai sikap manusia. Tidak semua orang akan memahami ketulusan kita. Tidak semua kebaikan akan mendapat balasan yang menyenangkan. Bahkan, orang-orang yang kita sayangi terkadang menghadirkan luka yang tidak kita sangka.

Namun, kelapangan hati mengajarkan kita untuk tidak membiarkan sikap orang lain merampas cahaya yang Allah titipkan. Kita boleh bersedih, boleh menjaga jarak dari sesuatu yang menyakitkan, tetapi tidak harus memelihara kebencian. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan hati agar tetap memiliki ruang untuk mencintai, bersyukur, dan berbahagia.

Maka, di hari Jum'at yang mulia ini, marilah kita terus mengetuk pintu rahmat Allah, memohon agar Dia membimbing hati kita menuju cahaya-Nya. Kita merawat cahaya itu dengan memperbanyak dzikir, mendekat kepada Al-Qur'an, memperbaiki prasangka, memaafkan, dan menghadirkan kebaikan meski dalam hal-hal sederhana. Sebab cahaya petunjuk adalah karunia Allah yang patut kita syukuri sekaligus kita perjuangkan. Jangan sampai hati kita begitu sibuk menilai sikap orang lain hingga lupa merawat kejernihan dirinya sendiri.

Dan jika hari ini kita mulai mampu berdamai dengan diri sendiri, lebih sabar menghadapi manusia, lebih mudah bersyukur, dan lebih tenang menerima ketetapan-Nya, rayakanlah pertumbuhan jiwa itu dengan penuh syukur. Bukan untuk merasa lebih baik daripada siapa pun, melainkan untuk menyadari betapa lembutnya Allah menuntun perjalanan hati kita. Berbahagialah menjadi pribadi yang terus berusaha mendekat kepada cahaya-Nya. Karena salah satu anugerah terindah dalam hidup bukanlah ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik, melainkan ketika Allah membimbing hati kita untuk tetap menjadi baik, apa pun yang kita hadapi.

_Ya Allah, anugerahkanlah cahaya-Mu ke dalam hati kami. Lapangkan jiwa kami, jernihkan pikiran kami, dan tuntunlah kami menjadi hamba yang senantiasa menemukan jalan menuju ridha-Mu._


Allahu'alam Bishowab


🌹☘️🪷☘️🌹☘️🪷🌹

Dipersembahkan oleh : *www.manis.id*

Subscribe *Youtube MANIS*: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
*Instagram* : http://instagram.com/majelis_manis
*Facebook*: http://fb.com/majelismanis
*TikTok*
https://www.tiktok.com/@majelis_mani_
*Channel WA :* https://whatsapp.com/channel/0029Vb2gvsvCRs1nMp7XA51f
*Channel Telegram*:
https://t.me/MajelisMANIS

📱*Info & Pendaftaran member WA* : https://bit.ly/gabungmanis

💰*Donasi Dakwah Manis, Multi Media & Pemberdayaan Ummat*.
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6287891088812