[ Bekal Apa Yang Dibawa Mati ?]
Perlu kita sadari bahwasanya hidup di dunia ini sementara tidak selamanya, Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut Ayat 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
Bekal untuk hari akhir harus kita persiapkan sedini mungkin terutama perihal tauhid sebagai pondasi agama ini, dalilnya adalah hadits riwayat al Hakim dan selainnya, bahwasannya Rasullullah ﷺ bersabda :
مَنْ كَانَ آخِرُ كـلاَمـِهِ : لاَ إِ لَهَ إِ لاَ اللهُ دَخـَلَ الجـَــنَّةَ.
“Barangsiapa yang akhir ucapannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , maka ia masuk surga”.
Sehingga kalimat tauhid tidak cukup hanya dihafalkan namun juga dipahami maknanya kemudian diamalkan, berikut ini maknanya :
1. Makna yang benar dari kalimat tauhid adalah la ma'buda bi haqqin illallah" (لا معبود بحق إلا الله), tidak ada ilah yang berhak diibadahi [dengan benar] kecuali Allah. Konsekuensinya kita wajib mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah.
2. Kemudian makna kalimat
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
Konsekuensinya adalah kita beribadah dengan tata cara & tuntunan yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sebab Nabi ﷺ pernah berpesan
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى».
[صحيح] - [رواه البخاري] - [صحيح البخاري: 7280]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,"Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang enggan itu?" Beliau menjawab, "Orang yang menaatiku akan masuk surga. Adapun orang yang mendurhakaiku, maka ia telah enggan."[Ṣaḥīḥ Bukhari - 7280]
Perkara tauhid ini merupakan keimanan yang ada di dalam hati, dimana tauhid ini merupakan ciri hati yang selamat [qalbun salim], sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 88,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,”
kemudian firman-Nya dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 89,
إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”
Seseorang tidak akan meraih keselamatan hati secara mutlak, hingga dia selamat dari lima hal :
1. Syirik, yang membatalkan Tauhid.
2. Bid’ah, yang bertentangan dengan Sunnah.
3. Syahwat, yang bertentangan dengan perintah.
4. Kelalaian, yang bertentangan dengan Dzikir.
5. Hawa nafsu, yang bertentangan dengan kemurnian dan keikhlasan.
Kelima hal tersebut merupakan tirai penghalang dari Allah. Di bawah masing-masing hal tersebut ada banyak macam, masing-masing mengandung contoh-contoh yang tak terbatas. (ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hlm. 138)
Hendaknya kita berusaha istiqomah di atas islam & sunnah hingga akhir hayat, sebagaimana ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah:
قال الإمام أحمد :
« مَنْ مَاتَ عَلَى الإِسْلاَمِ وَالسُّنَّةِ مَاتَ عَلَى الخَيْرِ كُلِّهِ ».
سير أعلام النبلاء (11/296).
“Barangsiapa yang meninggal di atas Islam dan Sunnah, dia meninggal di atas kebaikan seluruhnya.”(Siyar A’lamin Nubalaa 11/296)
Wallahu'alam
Khutbah Jumat, 21 Agustus 2026, Masjid Al Jihad Karangasem, Santren, Depok, Sleman
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Perlu kita sadari bahwasanya hidup di dunia ini sementara tidak selamanya, Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut Ayat 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
Bekal untuk hari akhir harus kita persiapkan sedini mungkin terutama perihal tauhid sebagai pondasi agama ini, dalilnya adalah hadits riwayat al Hakim dan selainnya, bahwasannya Rasullullah ﷺ bersabda :
مَنْ كَانَ آخِرُ كـلاَمـِهِ : لاَ إِ لَهَ إِ لاَ اللهُ دَخـَلَ الجـَــنَّةَ.
“Barangsiapa yang akhir ucapannya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , maka ia masuk surga”.
Sehingga kalimat tauhid tidak cukup hanya dihafalkan namun juga dipahami maknanya kemudian diamalkan, berikut ini maknanya :
1. Makna yang benar dari kalimat tauhid adalah la ma'buda bi haqqin illallah" (لا معبود بحق إلا الله), tidak ada ilah yang berhak diibadahi [dengan benar] kecuali Allah. Konsekuensinya kita wajib mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah.
2. Kemudian makna kalimat
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
Konsekuensinya adalah kita beribadah dengan tata cara & tuntunan yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sebab Nabi ﷺ pernah berpesan
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى».
[صحيح] - [رواه البخاري] - [صحيح البخاري: 7280]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,"Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang enggan itu?" Beliau menjawab, "Orang yang menaatiku akan masuk surga. Adapun orang yang mendurhakaiku, maka ia telah enggan."[Ṣaḥīḥ Bukhari - 7280]
Perkara tauhid ini merupakan keimanan yang ada di dalam hati, dimana tauhid ini merupakan ciri hati yang selamat [qalbun salim], sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 88,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,”
kemudian firman-Nya dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 89,
إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”
Seseorang tidak akan meraih keselamatan hati secara mutlak, hingga dia selamat dari lima hal :
1. Syirik, yang membatalkan Tauhid.
2. Bid’ah, yang bertentangan dengan Sunnah.
3. Syahwat, yang bertentangan dengan perintah.
4. Kelalaian, yang bertentangan dengan Dzikir.
5. Hawa nafsu, yang bertentangan dengan kemurnian dan keikhlasan.
Kelima hal tersebut merupakan tirai penghalang dari Allah. Di bawah masing-masing hal tersebut ada banyak macam, masing-masing mengandung contoh-contoh yang tak terbatas. (ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hlm. 138)
Hendaknya kita berusaha istiqomah di atas islam & sunnah hingga akhir hayat, sebagaimana ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah:
قال الإمام أحمد :
« مَنْ مَاتَ عَلَى الإِسْلاَمِ وَالسُّنَّةِ مَاتَ عَلَى الخَيْرِ كُلِّهِ ».
سير أعلام النبلاء (11/296).
“Barangsiapa yang meninggal di atas Islam dan Sunnah, dia meninggal di atas kebaikan seluruhnya.”(Siyar A’lamin Nubalaa 11/296)
Wallahu'alam
Khutbah Jumat, 21 Agustus 2026, Masjid Al Jihad Karangasem, Santren, Depok, Sleman
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[Sebab Tidak Berhukum dengan Hukum Allah Bukan Alasan Bolehnya Demonstrasi]
Hubungan rakyat dengan penguasanya telah diatur dalam islam, sehingga panduan wahyu dari Al Quran & As Sunnah telah memberikan jalan keluar tanpa harus mendahulukan hawa nafsu, akal logika, bahkan emosi semata. Hal ini termasuk salah satu dari prinsip aqidah ahlus sunnah yang telah banyak dilupakan, Allah سبحانه و تعالى berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]
Imam Muzani rahimahullah berkata,
وَالطَّاعَةُ لِأُولِي الْأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِياًّ وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًا. وَتَرْكُ الْخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةِ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ
" Dan bersikap taat kepada Ulil Amri (pemerintah) dalam hal-hal yang diridlai Allah Azza wa Jalla, dan meninggalkan (ketaatan kepada mereka) pada hal-hal yang dimurkai Allah. Meninggalkan sikap khuruj (menentang kekuasaannya) ketika pemerintah bersikap sewenang-wenang dan tidak adil. Bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla agar pemerintah bersikap kasih sayang terhadap rakyatnya."
Sebagian manusia berani secara terang-terangan mencaci maki penguasa di depan khalayak, padahal siapa yang menghinakan penguasa, Allah akan menghinakannya.
Dari Abu Bakrah Nafi bin Al Harits Ats Tsaqafi, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَكرم سُلطانَ اللهِ أَكرمَه اللهُ ، ومَنْ أهانَ سُلطانَ اللهِ أهانه اللهُ
“Barangsiapa yang memuliakan penguasa, maka Allah akan memuliakan dia. Barangsiapa yang menghinakan penguasa, maka Allah akan menghinakan dia” (HR. Tirmidzi no. 2224, Ahmad no. 20433, dihasankan Al Albani dalam Zhilalul Jannah Takhrij Kitabus Sunnah li Abi Ashim no. 1017).
Lantas muncul pertanyaan bagaimana dengan penguasa yang zhalim & tidak berhukum dengan hukum Allah?
Allah menjadikan penguasa zalim sebagai balasan atas kezaliman rakyatnya. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. al-An’am: 129)
Kemudian ditegaskan dalam sebuah perkataan yang masyhur tentang hubungan pemimpin dengan rakyatnya
كما تكونوا يول عليكم
“Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”
Maka jika rakyat zhalim tentunya penguasannya juga zhalim, atau jika rakyatnya alim maka penguasanya juga alim.
Untuk penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
«يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ» ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Akan datang sepeninggalku, para pemimpin yang tidak berjalan di atas petunjukku, tidak mengamalkan sunnahku, dan di tengah-tengah mereka akan berdiri orang-orang yang berhati setan dengan jasad manusia.” Hudzaifah bertanya lagi, “Lalu apa yang harus diperbuat wahai Rasulullah, jika aku mendapati masa itu?” Beliau berkata, “Engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walau punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat.” (HR Muslim no.1847)
Ini semua menunjukkan bahwa pemimpin yang berbuat kekeliruan dan kezaliman tidak boleh didukung kekeliruan dan kezalimannya serta tidak boleh diridhai. Namun, mereka dinasihati dan diingkari dengan cara-cara yang benar sesuai dengan kemampuan yang tidak menimbulkan pemberontakan dan kekacauan.
Hubungan rakyat dengan penguasanya telah diatur dalam islam, sehingga panduan wahyu dari Al Quran & As Sunnah telah memberikan jalan keluar tanpa harus mendahulukan hawa nafsu, akal logika, bahkan emosi semata. Hal ini termasuk salah satu dari prinsip aqidah ahlus sunnah yang telah banyak dilupakan, Allah سبحانه و تعالى berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]
Imam Muzani rahimahullah berkata,
وَالطَّاعَةُ لِأُولِي الْأَمْرِ فِيْمَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَرْضِياًّ وَاجْتِنَابِ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ مُسْخِطًا. وَتَرْكُ الْخُرُوْجِ عِنْدَ تَعَدِّيْهِمْ وَجَوْرِهِمْ وَالتَّوْبَةِ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْمَا يَعْطِفُ بِهِمْ عَلَى رَعِيَّتِهِمْ
" Dan bersikap taat kepada Ulil Amri (pemerintah) dalam hal-hal yang diridlai Allah Azza wa Jalla, dan meninggalkan (ketaatan kepada mereka) pada hal-hal yang dimurkai Allah. Meninggalkan sikap khuruj (menentang kekuasaannya) ketika pemerintah bersikap sewenang-wenang dan tidak adil. Bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla agar pemerintah bersikap kasih sayang terhadap rakyatnya."
Sebagian manusia berani secara terang-terangan mencaci maki penguasa di depan khalayak, padahal siapa yang menghinakan penguasa, Allah akan menghinakannya.
Dari Abu Bakrah Nafi bin Al Harits Ats Tsaqafi, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَكرم سُلطانَ اللهِ أَكرمَه اللهُ ، ومَنْ أهانَ سُلطانَ اللهِ أهانه اللهُ
“Barangsiapa yang memuliakan penguasa, maka Allah akan memuliakan dia. Barangsiapa yang menghinakan penguasa, maka Allah akan menghinakan dia” (HR. Tirmidzi no. 2224, Ahmad no. 20433, dihasankan Al Albani dalam Zhilalul Jannah Takhrij Kitabus Sunnah li Abi Ashim no. 1017).
Lantas muncul pertanyaan bagaimana dengan penguasa yang zhalim & tidak berhukum dengan hukum Allah?
Allah menjadikan penguasa zalim sebagai balasan atas kezaliman rakyatnya. Allah سبحانه و تعالى berfirman,
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. al-An’am: 129)
Kemudian ditegaskan dalam sebuah perkataan yang masyhur tentang hubungan pemimpin dengan rakyatnya
كما تكونوا يول عليكم
“Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”
Maka jika rakyat zhalim tentunya penguasannya juga zhalim, atau jika rakyatnya alim maka penguasanya juga alim.
Untuk penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
«يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ» ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Akan datang sepeninggalku, para pemimpin yang tidak berjalan di atas petunjukku, tidak mengamalkan sunnahku, dan di tengah-tengah mereka akan berdiri orang-orang yang berhati setan dengan jasad manusia.” Hudzaifah bertanya lagi, “Lalu apa yang harus diperbuat wahai Rasulullah, jika aku mendapati masa itu?” Beliau berkata, “Engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walau punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat.” (HR Muslim no.1847)
Ini semua menunjukkan bahwa pemimpin yang berbuat kekeliruan dan kezaliman tidak boleh didukung kekeliruan dan kezalimannya serta tidak boleh diridhai. Namun, mereka dinasihati dan diingkari dengan cara-cara yang benar sesuai dengan kemampuan yang tidak menimbulkan pemberontakan dan kekacauan.
Rasulullah ﷺ bersabda,“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3: 403, Ath-Thabrani dlm Musnad Asy-Syamiyyiin 2: 94, Ibnu Abi ‘Ashim dlm As-Sunnah no. 1096 & yg lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dlm Dzilaal As-Sunnah, 2: 507)
Jika dilihat dari aspek penerapan hukum islam, apakah pemerintah benar-benar tidak menerapkannya?maka bisa ditinjau dalam 4 aspek :
1. Ibadah --> pemerintah mengizinkan shalat berjamaah 5 waktu di masjid, menetapkan 2 hari raya Ied, menyelenggarakan Haji di Tanah Suci, majlis taklim tumbuh subur di masjid2, dsb
2. Muamalah --> pemerintah hadir untuk mengatur transaksi syariah, Zakat, Wakaf, dsb
3. Keluarga --> pemerintah hadir melalui KUA untuk pernikahan, bagi waris diizinkan sesuai syariat
4. Peradilan --> ??
Jika 3 aspek dari 4 aspek telah ada apakah kemudian dianggap tidak ada? Terdapat kaidah fiqih
(ما لا يدرك كله لا يترك كله)
"apa yang tidak dapat dicapai atau dilakukan sepenuhnya, tidak boleh ditinggalkan semuanya."
Wallahu'alam
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Jika dilihat dari aspek penerapan hukum islam, apakah pemerintah benar-benar tidak menerapkannya?maka bisa ditinjau dalam 4 aspek :
1. Ibadah --> pemerintah mengizinkan shalat berjamaah 5 waktu di masjid, menetapkan 2 hari raya Ied, menyelenggarakan Haji di Tanah Suci, majlis taklim tumbuh subur di masjid2, dsb
2. Muamalah --> pemerintah hadir untuk mengatur transaksi syariah, Zakat, Wakaf, dsb
3. Keluarga --> pemerintah hadir melalui KUA untuk pernikahan, bagi waris diizinkan sesuai syariat
4. Peradilan --> ??
Jika 3 aspek dari 4 aspek telah ada apakah kemudian dianggap tidak ada? Terdapat kaidah fiqih
(ما لا يدرك كله لا يترك كله)
"apa yang tidak dapat dicapai atau dilakukan sepenuhnya, tidak boleh ditinggalkan semuanya."
Wallahu'alam
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ Ahli Bid'ah Selalu Membenci Ahlul Hadits ]
Ahmad bin Sinan Al-Qaththaan rahimahullah berkata :
: ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث .
"Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bidah kecuali dia membenci ahlul hadits (Ahlussunnah)."
📋 Aqidah as-Salaf wa Ash-haabil Hadits 300
🌍 Broadcasted by
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Ahmad bin Sinan Al-Qaththaan rahimahullah berkata :
: ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث .
"Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bidah kecuali dia membenci ahlul hadits (Ahlussunnah)."
📋 Aqidah as-Salaf wa Ash-haabil Hadits 300
🌍 Broadcasted by
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Telegram
Nusantara Mengaji
Channel ini adalah kumpulan artikel-artikel islami yang menunjukkan betapa mudah, indah dan damainya Islam yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits 'ala fahmi Salaf. Insya Allah.
[ Perkataan Imam Syafi'i rahimahullah tentang Ulama Ahli Hadits ]
Al-Imam Asy-Syafii berkata,
إذا رأيت رجلا من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلا من أصحاب النبي ﷺ
“Apabila aku melihat seorang ahli hadits maka seolah-olah aku sedang melihat ada salah seorang shohabat Nabi yang masih hidup.
جزاهم الله خيرا هم حفظوا لنا الأصل؛ فلهم علينا الفضل
Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, mereka orang-orang yang menjaga pokok agama ini bagi kaum muslimin dan sudah seharusnya kita menyebut mereka dengan keutamaan."
(Siyar A’lamin Nubala’ 10/60)
Broadcasted by
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Al-Imam Asy-Syafii berkata,
إذا رأيت رجلا من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلا من أصحاب النبي ﷺ
“Apabila aku melihat seorang ahli hadits maka seolah-olah aku sedang melihat ada salah seorang shohabat Nabi yang masih hidup.
جزاهم الله خيرا هم حفظوا لنا الأصل؛ فلهم علينا الفضل
Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, mereka orang-orang yang menjaga pokok agama ini bagi kaum muslimin dan sudah seharusnya kita menyebut mereka dengan keutamaan."
(Siyar A’lamin Nubala’ 10/60)
Broadcasted by
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Telegram
Nusantara Mengaji
Channel ini adalah kumpulan artikel-artikel islami yang menunjukkan betapa mudah, indah dan damainya Islam yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits 'ala fahmi Salaf. Insya Allah.
[ Keutamaan Ahlul Hadits ]
Abu Dawud Rahimahullahu berkata:
” لَوْلاَ هَذِهِ العِصَابَةُ لاَنْدَرَسَ الإسْلاَمُ – يَعْنِي أَصْحَابَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ اْلآثَارَ ”
“Kalaulah bukan karena golongan ini, niscaya Islam akan hilang, yaitu Ahlul Hadits yang menulis atsar.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 106, karya: al-Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu).
Broadcast ini bisa juga dinikmati di :
📲 WhatsApp Grup
https://bit.ly/nusantaramengaji1
https://bit.ly/nusantaramengaji2
https://bit.ly/nusantaramengaji3
https://bit.ly/nusantaramengaji4
https://bit.ly/nusantaramengaji5
https://bit.ly/nusantaramengaji6
📲 WhatsApp Grup Akhwat
https://bit.ly/nusantaramengajiakhwat1
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Wallahu 'alam
Abu Dawud Rahimahullahu berkata:
” لَوْلاَ هَذِهِ العِصَابَةُ لاَنْدَرَسَ الإسْلاَمُ – يَعْنِي أَصْحَابَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ اْلآثَارَ ”
“Kalaulah bukan karena golongan ini, niscaya Islam akan hilang, yaitu Ahlul Hadits yang menulis atsar.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 106, karya: al-Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu).
Broadcast ini bisa juga dinikmati di :
📲 WhatsApp Grup
https://bit.ly/nusantaramengaji1
https://bit.ly/nusantaramengaji2
https://bit.ly/nusantaramengaji3
https://bit.ly/nusantaramengaji4
https://bit.ly/nusantaramengaji5
https://bit.ly/nusantaramengaji6
📲 WhatsApp Grup Akhwat
https://bit.ly/nusantaramengajiakhwat1
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
Wallahu 'alam
[Siapakah Ahlul Hadits wal Atsar?]
Para ulama telah menjelaskan diantara definisinya adalah sebagai berikut :
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ مَنِيعٍ: أَرَدْتُ الْخُرُوجَ إِلَى سُوَيْدِ بْنِ سَعِيدٍ، فَقُلْتُ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ يَكْتُبُ لِي إِلَيْهِ فكَتَبَ: «وَهَذَا رَجُلٌ يَكْتُبُ الْحَدِيثَ». فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، خِدْمَتِي لَكَ وَلُزُومِي، لَوْ كَتَبْتَ «هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ»؟ فَقَالَ: «صَاحِبُ الْحَدِيثِ عِنْدَنَا مَنْ يَسْتَعْمِلُ الْحَدِيثَ».
Artinya:Abu Al-Qasim bin Mani' berkata: "Aku hendak pergi menemui Suwaid bin Said, lalu aku meminta Ahmad bin Hanbal untuk menulis surat rekomendasi untukku. Beliau menulis: 'Orang ini adalah orang yang menulis hadis.' Aku lalu memprotes: 'Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), demi pengabdian dan kedekatanku bersamamu, mengapa engkau tidak menulis saja: "Orang ini adalah bagian dari ahli hadis (ashabul hadits)?"' Imam Ahmad menjawab: 'Ahli hadis menurut kami adalah orang yang mengamalkan hadis.'[Kutipan ini tercatat dalam kitab Al-Manaqib karya Ibnu al-Jauzi (halaman 268) dan juga dinukil dalam kitab Ma'rifat Ulum al-Hadits karya Imam Al-Hakim]
https://shamela.ws/book/20859/1
wallahu'alam
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Para ulama telah menjelaskan diantara definisinya adalah sebagai berikut :
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ مَنِيعٍ: أَرَدْتُ الْخُرُوجَ إِلَى سُوَيْدِ بْنِ سَعِيدٍ، فَقُلْتُ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ يَكْتُبُ لِي إِلَيْهِ فكَتَبَ: «وَهَذَا رَجُلٌ يَكْتُبُ الْحَدِيثَ». فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، خِدْمَتِي لَكَ وَلُزُومِي، لَوْ كَتَبْتَ «هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ»؟ فَقَالَ: «صَاحِبُ الْحَدِيثِ عِنْدَنَا مَنْ يَسْتَعْمِلُ الْحَدِيثَ».
Artinya:Abu Al-Qasim bin Mani' berkata: "Aku hendak pergi menemui Suwaid bin Said, lalu aku meminta Ahmad bin Hanbal untuk menulis surat rekomendasi untukku. Beliau menulis: 'Orang ini adalah orang yang menulis hadis.' Aku lalu memprotes: 'Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), demi pengabdian dan kedekatanku bersamamu, mengapa engkau tidak menulis saja: "Orang ini adalah bagian dari ahli hadis (ashabul hadits)?"' Imam Ahmad menjawab: 'Ahli hadis menurut kami adalah orang yang mengamalkan hadis.'[Kutipan ini tercatat dalam kitab Al-Manaqib karya Ibnu al-Jauzi (halaman 268) dan juga dinukil dalam kitab Ma'rifat Ulum al-Hadits karya Imam Al-Hakim]
https://shamela.ws/book/20859/1
wallahu'alam
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ Peradaban & Teknologinya Maju Namun Rusak Tatanan Sosialnya, Apa Manfaatnya?]
Keberkahan dan kemakmuran suatu negeri sebab paling utamanya adalah karena rakyatnya menempuh sebab-sebab syar'i [ketakwaan] dengan tetap menempuh sebab-sebab kauni yang mubah [ikhtiar]. Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS Al-A’raf Ayat 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang hakikat takwa:
الخوف من الجليل
Takut kepada Allah Ta’ala
والعمل بالتنزيل
Mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah
والرضا بالقليل
Ridha dengan pembagian yang sedikit.
والاستعداد ليوم الرحيل
Selalu bersiap-siap menghadapi pengadilan akhirat.
Akan terjadi sebaliknya berupa kerusakan moral, kemerosotan akhlak, gejolak sosial, maupun krisis ekonomi, termasuk di negeri-negeri yang terlihat maju peradaban, ekonomi & teknologinya, namun secara umum rusak tatanan sosial masyarakatnya dengan kekafiran, kebid'ahan & kemaksiatan.
Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS An-Nahl Ayat 112
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ
Artinya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
Walaupun bergelimang nikmat kemajuan peradaban & teknologi namun di atas maksiat diperingatkan dalam hadits dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).
Tak pelak lagi bahwasanya kehidupan yang berkah di atas ketakwaan adalah jalan hidup mukmin yang harus diperjuangkan hingga akhir hayat, bukan tertipu dengan kemegahan & kemilaunya dunia di atas maksiat yang menjadi sebab kesempitan hidup di dunia & akhirat, karena Allah سبحانه و تعالى berfirman
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".[QS Thaha Ayat 124]
124-125. Dan barangsiapa yang berpaling dari petunjuk Allah, maka di dunia dia akan mendapat kehidupan yang menderita dan penuh kesulitan meski secara zahir dia mendapat kenikmatan; dan pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta, sehingga dia akan bertanya: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal ketika di dunia aku dapat melihat?”(Tafsir Al-Madinah
Keberkahan dan kemakmuran suatu negeri sebab paling utamanya adalah karena rakyatnya menempuh sebab-sebab syar'i [ketakwaan] dengan tetap menempuh sebab-sebab kauni yang mubah [ikhtiar]. Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS Al-A’raf Ayat 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang hakikat takwa:
الخوف من الجليل
Takut kepada Allah Ta’ala
والعمل بالتنزيل
Mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah
والرضا بالقليل
Ridha dengan pembagian yang sedikit.
والاستعداد ليوم الرحيل
Selalu bersiap-siap menghadapi pengadilan akhirat.
Akan terjadi sebaliknya berupa kerusakan moral, kemerosotan akhlak, gejolak sosial, maupun krisis ekonomi, termasuk di negeri-negeri yang terlihat maju peradaban, ekonomi & teknologinya, namun secara umum rusak tatanan sosial masyarakatnya dengan kekafiran, kebid'ahan & kemaksiatan.
Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS An-Nahl Ayat 112
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ
Artinya: Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
Walaupun bergelimang nikmat kemajuan peradaban & teknologi namun di atas maksiat diperingatkan dalam hadits dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).
Tak pelak lagi bahwasanya kehidupan yang berkah di atas ketakwaan adalah jalan hidup mukmin yang harus diperjuangkan hingga akhir hayat, bukan tertipu dengan kemegahan & kemilaunya dunia di atas maksiat yang menjadi sebab kesempitan hidup di dunia & akhirat, karena Allah سبحانه و تعالى berfirman
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".[QS Thaha Ayat 124]
124-125. Dan barangsiapa yang berpaling dari petunjuk Allah, maka di dunia dia akan mendapat kehidupan yang menderita dan penuh kesulitan meski secara zahir dia mendapat kenikmatan; dan pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan buta, sehingga dia akan bertanya: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal ketika di dunia aku dapat melihat?”(Tafsir Al-Madinah
Al-Munawwarah)
Wallahu'alam
Yogyakarta, 27 Rabiul Awal 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Wallahu'alam
Yogyakarta, 27 Rabiul Awal 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[Jika Bukan Untuk Mengabdi Kepada Allah, Untuk Apa Kita Hidup?]
Jika seseorang membuat suatu produk/alat/sistem maka pihak yang paling paham seluk beluk kelebihan maupun kekurangannya adalah pihak yang membuatnya..
Maka seperti itu pula yang berlaku dengan manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah, maka Allahlah yang paling memahami tujuan hidup, kebutuhan hidup, kelebihan maupun kekurangan pada manusia, hal ini dijelaskan dalam firmanNya QS Al-Mulk Ayat 14
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
Artinya: Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
14.” Yang detil ilmu dan pengetahuanNya hingga mengetahui rahasia, segala yang samar, dan yang ghaib. Dan di antara makna Maha Halus adalah Allah memperlakukan hamba-hamba dan orang-orang yang dikasihiNya dengan lemah lembut. Allah mendorong mereka menuju kebaikan padahal mereka tidak merasakan hal itu. Allah menjaga mereka dari keburukan padahal mereka tidak mengira, dan mengangkat mereka ke tingkatan tinggi dengan berbagai sebab yang sama sekali tidak dikira oleh manusia. Bahkan Allah membuat mereka merasakan berbagai hal yang tidak disukai untuk menyampaikan mereka pada harapan tertinggi dan keinginan-keinginan mulia.[Tafsir as-Sa'di]
Lantas jika demikian, apakah yang menghalangi kita untuk tunduk & patuh kepada Allah?padahal syariat islam ini diturunkan agar manusia hidup bahagia selamat dunia & akhirat,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[[Surat Al-Jatsiyah Ayat 23]
Maka ditegaskan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ رُوِّيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, kami meriwayatkannya dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).
Standar kebahagiaan bagi seorang mukmin adalah iman dan amal saleh, bukan kemewahan materi, popularitas, jabatan mentereng8 ataupun status sosial. Dalil utama mengenai prinsip ini terdapat dalam Al-Qur'an, Surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan tayyibah) dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak mewujudkan firman Allah سبحانه و تعالى dalam Surat Al-An’am Ayat 162
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam
Wallahu'alam
Yogyakarta, 30 Rabiul Awal 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Jika seseorang membuat suatu produk/alat/sistem maka pihak yang paling paham seluk beluk kelebihan maupun kekurangannya adalah pihak yang membuatnya..
Maka seperti itu pula yang berlaku dengan manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah, maka Allahlah yang paling memahami tujuan hidup, kebutuhan hidup, kelebihan maupun kekurangan pada manusia, hal ini dijelaskan dalam firmanNya QS Al-Mulk Ayat 14
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
Artinya: Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
14.” Yang detil ilmu dan pengetahuanNya hingga mengetahui rahasia, segala yang samar, dan yang ghaib. Dan di antara makna Maha Halus adalah Allah memperlakukan hamba-hamba dan orang-orang yang dikasihiNya dengan lemah lembut. Allah mendorong mereka menuju kebaikan padahal mereka tidak merasakan hal itu. Allah menjaga mereka dari keburukan padahal mereka tidak mengira, dan mengangkat mereka ke tingkatan tinggi dengan berbagai sebab yang sama sekali tidak dikira oleh manusia. Bahkan Allah membuat mereka merasakan berbagai hal yang tidak disukai untuk menyampaikan mereka pada harapan tertinggi dan keinginan-keinginan mulia.[Tafsir as-Sa'di]
Lantas jika demikian, apakah yang menghalangi kita untuk tunduk & patuh kepada Allah?padahal syariat islam ini diturunkan agar manusia hidup bahagia selamat dunia & akhirat,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[[Surat Al-Jatsiyah Ayat 23]
Maka ditegaskan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ رُوِّيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, kami meriwayatkannya dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).
Standar kebahagiaan bagi seorang mukmin adalah iman dan amal saleh, bukan kemewahan materi, popularitas, jabatan mentereng8 ataupun status sosial. Dalil utama mengenai prinsip ini terdapat dalam Al-Qur'an, Surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan tayyibah) dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak mewujudkan firman Allah سبحانه و تعالى dalam Surat Al-An’am Ayat 162
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam
Wallahu'alam
Yogyakarta, 30 Rabiul Awal 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[Jika Orientasi Hidupnya Adalah Dunia, Apa Bedanya dengan Orang Kafir?]
Dalam sebuah kutipan wawancara dengan Musisi Reggae dunia :
Pewawancara : "Apa kamu punya banyak aset Atau tabungan di bank?"
Bob Marley : "Apakah aset atau kepemilikan itu bisa menjadikanmu kaya?Aku bukan orang yang punya tipe kekayaan seperti itu. Kekayaanku sebenarnya adalah bisa hidup selamanya."
Demikianlah contoh orang yang hidupnya untuk dunia, perhatian terbesar hanyalah kehidupan dunia, dijelaskan dalam firman Allah سبحانه و تعالى
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
Artinya: Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.[QS Al-A’la Ayat 16]
Maka orang-orang kafir menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuannya, ditegaskan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
Jika bisa mereka ingin hidup selamanya, ditegaskan dalam firmanNya QS Al-Baqarah Ayat 96
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٍ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِۦ مِنَ ٱلْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Mujahid rahimahullah : bahwa "telah dicintakan kepada mereka untuk berbuat kesalahan sepanjang umur".[Li Yaddabbaru Ayatih]
Lantas bagaimana sikap yang benar seorang mukmin? Maka Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS Al-A’la Ayat 17
وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ
Artinya: Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Orientasi akhirat bukan berarti meninggalkan perkara dunia, akan tetapi jadikan dunia ini sebagai wasilah jalan kebahagiaan akhirat dengan ketaatan kepada perintahNya & menjauhi laranganNya, Rasûlullâh ﷺ bersabda,“Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’”[11][11] Shahih: HR. Ahmad (II/358), at-Tirmidzi (no. 2466), Ibnu Mâjah (no. 4107), dan al-Hâkim (II/443) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (III/346, no. 1359) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3166).
Wallahu'alam
Yogyakarta, Yogyakarta - 1 Rabiul Akhir, 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Dalam sebuah kutipan wawancara dengan Musisi Reggae dunia :
Pewawancara : "Apa kamu punya banyak aset Atau tabungan di bank?"
Bob Marley : "Apakah aset atau kepemilikan itu bisa menjadikanmu kaya?Aku bukan orang yang punya tipe kekayaan seperti itu. Kekayaanku sebenarnya adalah bisa hidup selamanya."
Demikianlah contoh orang yang hidupnya untuk dunia, perhatian terbesar hanyalah kehidupan dunia, dijelaskan dalam firman Allah سبحانه و تعالى
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
Artinya: Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.[QS Al-A’la Ayat 16]
Maka orang-orang kafir menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuannya, ditegaskan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
Jika bisa mereka ingin hidup selamanya, ditegaskan dalam firmanNya QS Al-Baqarah Ayat 96
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٍ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِۦ مِنَ ٱلْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Mujahid rahimahullah : bahwa "telah dicintakan kepada mereka untuk berbuat kesalahan sepanjang umur".[Li Yaddabbaru Ayatih]
Lantas bagaimana sikap yang benar seorang mukmin? Maka Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam QS Al-A’la Ayat 17
وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ
Artinya: Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Orientasi akhirat bukan berarti meninggalkan perkara dunia, akan tetapi jadikan dunia ini sebagai wasilah jalan kebahagiaan akhirat dengan ketaatan kepada perintahNya & menjauhi laranganNya, Rasûlullâh ﷺ bersabda,“Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’”[11][11] Shahih: HR. Ahmad (II/358), at-Tirmidzi (no. 2466), Ibnu Mâjah (no. 4107), dan al-Hâkim (II/443) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (III/346, no. 1359) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3166).
Wallahu'alam
Yogyakarta, Yogyakarta - 1 Rabiul Akhir, 1448
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ Harta Halal Dihisab, Harta Haram Diadzab ]
Perlu disadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka persiapkanlah bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal, diantara bekalnya antara lain :
1. Keimanan yang benar kepada Allah, yakni dengan mentauhidkanNya & tidak menyekutukanNya dalam ibadah. Dalam hadits Nabi ﷺ bersabda:
وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
2] Beramal shalih sebagai wujud keimanan, yakni beramal ikhlas karena Allah & ittiba' kepada Sunnah Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda kepada Ibnu ‘Abbas yang masih kecil:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu"
(HR. Tirmidzi)
Al-Hafidz Ibnu Rajab didalam Kitab beliau Jami’ul Ulum wal Hikam, ketika menafsirkan hadits tersebut beliau berkata bahwa maksud “Jagalah Allah” adalah jaga perintah-perintah Allah, jaga larangan-larangan Allah, jaga batasan-batasan Allah, niscaya Allah akan jaga kamu, Allah akan jaga jasadmu, Allah akan jaga hartamu, Allah akan jaga anak dan istrimu, Allah akan jaga keturunanmu, bahkan Allah akan jaga agamamu, Allah akan jaga akhiratmu, bahkan dijaga disaat dia sakaratul maut. Subhanallah..
3] Menjaga diri dari harta yang haram & syubhat, sebagaimana telah diperingatkan oleh Muhammad bin al-Yaman yang mengatakan tentang dunia,
حَلَالُهَا حِسَابٌ وَحَرَامِهَا عَذَابٌ
“Harta dunia yang halal itu berbuah hisab. Sedangkan harta dunia yang haram itu berdampak adzab.” (Hilyah al-Auliya’ 8/157)
Maka hendaknya kita menjadi hamba yang shalih sebagaimana Nabi ﷺ sabdakan
فَقَالَ « يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ »
Maka beliau bersabda: “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Hendaknya kita berusaha menjadi hamba yang shalih dengan beriman, bertakwa, & beramal shalih ikhlas karena Allah & sesuai dengan Sunnah Nabi ﷺ, karena inilah jalan kebahagiaan & keselamatan dunia akhirat.
Wallahu'alam
Khutbah Jumat, 2 Oktober 2026
Masjid Al Jihad Karangasem, Santren, Depok, Sleman
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Perlu disadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka persiapkanlah bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal, diantara bekalnya antara lain :
1. Keimanan yang benar kepada Allah, yakni dengan mentauhidkanNya & tidak menyekutukanNya dalam ibadah. Dalam hadits Nabi ﷺ bersabda:
وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
2] Beramal shalih sebagai wujud keimanan, yakni beramal ikhlas karena Allah & ittiba' kepada Sunnah Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda kepada Ibnu ‘Abbas yang masih kecil:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu"
(HR. Tirmidzi)
Al-Hafidz Ibnu Rajab didalam Kitab beliau Jami’ul Ulum wal Hikam, ketika menafsirkan hadits tersebut beliau berkata bahwa maksud “Jagalah Allah” adalah jaga perintah-perintah Allah, jaga larangan-larangan Allah, jaga batasan-batasan Allah, niscaya Allah akan jaga kamu, Allah akan jaga jasadmu, Allah akan jaga hartamu, Allah akan jaga anak dan istrimu, Allah akan jaga keturunanmu, bahkan Allah akan jaga agamamu, Allah akan jaga akhiratmu, bahkan dijaga disaat dia sakaratul maut. Subhanallah..
3] Menjaga diri dari harta yang haram & syubhat, sebagaimana telah diperingatkan oleh Muhammad bin al-Yaman yang mengatakan tentang dunia,
حَلَالُهَا حِسَابٌ وَحَرَامِهَا عَذَابٌ
“Harta dunia yang halal itu berbuah hisab. Sedangkan harta dunia yang haram itu berdampak adzab.” (Hilyah al-Auliya’ 8/157)
Maka hendaknya kita menjadi hamba yang shalih sebagaimana Nabi ﷺ sabdakan
فَقَالَ « يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ »
Maka beliau bersabda: “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Hendaknya kita berusaha menjadi hamba yang shalih dengan beriman, bertakwa, & beramal shalih ikhlas karena Allah & sesuai dengan Sunnah Nabi ﷺ, karena inilah jalan kebahagiaan & keselamatan dunia akhirat.
Wallahu'alam
Khutbah Jumat, 2 Oktober 2026
Masjid Al Jihad Karangasem, Santren, Depok, Sleman
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ ILMU MEMANGGIL UNTUK DIAMALKAN ]
Disebutkan dalam Kitab Iqtidha'ul 'Ilmi Al-'Amal karya Al-Khathib Al-Baghdadi (wafat 463 H).
أَخْبَرَنَا أَبُوعَبْدِ اللَّهِ الْبُوشَنِجِيُّ... عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: هَتَفَ الْعِلْمُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ
""Ilmu itu memanggil amal. Jika amal memenuhinya (maka ilmu itu akan tetap ada), namun jika tidak, ilmu itu akan pergi (hilang)."
[Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkannya melalui sanadnya sampai kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu].
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Disebutkan dalam Kitab Iqtidha'ul 'Ilmi Al-'Amal karya Al-Khathib Al-Baghdadi (wafat 463 H).
أَخْبَرَنَا أَبُوعَبْدِ اللَّهِ الْبُوشَنِجِيُّ... عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: هَتَفَ الْعِلْمُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ
""Ilmu itu memanggil amal. Jika amal memenuhinya (maka ilmu itu akan tetap ada), namun jika tidak, ilmu itu akan pergi (hilang)."
[Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkannya melalui sanadnya sampai kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu].
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ Ba'iat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin ]
Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah menjelaskan tentang makna imam,
سُئِلَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ حَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ: «مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ لَهُ إِمَامٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»، مَا مَعْنَاهُ؟
فَقَالَ:
أَتَدْرِي مَا الْإِمَامُ؟ الْإِمَامُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ، كُلُّهُمْ يَقُولُ: هَذَا إِمَامٌ، فَهَذَا مَعْنَاهُ.
Artinya:"Imam Ahmad ditanya tentang hadis Nabi ﷺ, “Barang siapa meninggal tanpa memiliki imam, ia meninggal dengan kematian jahiliah.” Apa maksudnya?Beliau menjawab:“Apakah engkau tahu siapa imam itu? Imam adalah orang yang kaum Muslimin bersatu atasnya; mereka semua mengatakan, ‘Inilah imam.’ Itulah maksudnya.”[Kitāb as-Sunnah, karya Al-Khallāl ]
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah menjelaskan tentang makna imam,
سُئِلَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ حَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ: «مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ لَهُ إِمَامٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»، مَا مَعْنَاهُ؟
فَقَالَ:
أَتَدْرِي مَا الْإِمَامُ؟ الْإِمَامُ الَّذِي يَجْمَعُ الْمُسْلِمُونَ عَلَيْهِ، كُلُّهُمْ يَقُولُ: هَذَا إِمَامٌ، فَهَذَا مَعْنَاهُ.
Artinya:"Imam Ahmad ditanya tentang hadis Nabi ﷺ, “Barang siapa meninggal tanpa memiliki imam, ia meninggal dengan kematian jahiliah.” Apa maksudnya?Beliau menjawab:“Apakah engkau tahu siapa imam itu? Imam adalah orang yang kaum Muslimin bersatu atasnya; mereka semua mengatakan, ‘Inilah imam.’ Itulah maksudnya.”[Kitāb as-Sunnah, karya Al-Khallāl ]
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
[ Sebab Kesesatan Aqidah karena Belajar Ilmu Kalam-Filsafat yang Berdampak Pada Amalan ]
Para ulama Ahlussunnah sepakat melarang mempelajari ilmu kalam dan mereka sepakat mencela ahlul kalam. Al-Baghawi rahimahullah mengatakan:
واتفق علماء السلف من أهل السنة على النهي عن الجدال والخصومات في الصفات، وعلى الزجر عن الخوض في علم الكلام، وتعلمه
“Para ulama salaf dari kalangan Ahlussunnah bersepakat melarang perdebatan dalam bab sifat Allah, dan bersepakat melarang menceburkan diri dalam ilmu kalam dan mempelajarinya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 1/216).
Bahkan Imam Asy-Syafi’i tegas mencela ilmu kalam. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:
لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل
“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).
Manhaj salaf tegak diatas dalil yang dipahami ulama ahlu sunnah yang tidak sibuk dengan ilmu Kalam, Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan:
أجمع أهل الفقه والآثار من جميع الأمصار أن أهل الكلام أهل بدع وزيغ ولا يعدون عند الجميع في طبقات الفقهاء
“Seluruh ulama fiqih dan hadits dari berbagai penjuru dunia sepakat bahwa ahlul kalam adalah ahlul bid’ah dan sesat, mereka tidak dianggap dalam semua tingkatan ahli fiqih” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2/942).
Diantara tokoh ahlul kalam yang menyesali pemahamannya yang keliru karena tenggelam dalam logika filsafat, yakni Abul Ma’ali Al-Juwaini rahimahullah yang berkata:
يَا أَصْحَابَنَا لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ فَلَوْ عَرَفْت أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي إلَى مَا بَلَغَ مَا اشْتَغَلْت بِهِ.
“Wahai para shababat kami, janganlah kalian sibuk dengan ilmu kalam. Kalau aku dulu tahu bahwa ilmu kalam itu akan menyampaikan kepada batas yang telah aku sampai sekarang, tentu aku tidak akan menyibukkan dengannya.”
Maka kebenaran itu ada pada Ahlul Hadits Wal Atsar, sebagaimana Ibnul Mubarak rahimahullah pernah berkata:
وجدتُ الدِّين لأهل الحديث، والكلام للمعتزلة، والكذب للرافضة، والحِيَل لأهل الرأي
Aku telah mendapati agama yang benar ada pada ahli hadits, sedangkan filsafat (ilmu kalam) ada pada Mu'tazilah, kedustaan ada pada Syi'ah Rafidhah, dan berkilah ada pada ahlul ra'yi (pemuja akal).[Mukhtashar ash-Shawaa'iq 4/1464 ]
Islam generasi awal [murni] tidak mengenal ilmu filsafat/kalam. Perhatikanlah bahwa aqidah yang tertanam dalam hati akan membuahkan amalan sesuai keyakinannya, jika aqidah lurus maka amalan lurus, jika aqidah menyimpang maka amalan juga menyimpang, sebagaimana nasehat Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله :
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا بِالتَّمَنِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
Artinya:"Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan. Akan tetapi, iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan."— [ Rujukan: Aqwal At-Tabi'in fi Masa'il At-Tauhid wa Al-Iman, hlm. 1124.]
Wallahu'alam
Yogyakarta, 21 Jumadil Awal 1448 Hijriah.
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t
Para ulama Ahlussunnah sepakat melarang mempelajari ilmu kalam dan mereka sepakat mencela ahlul kalam. Al-Baghawi rahimahullah mengatakan:
واتفق علماء السلف من أهل السنة على النهي عن الجدال والخصومات في الصفات، وعلى الزجر عن الخوض في علم الكلام، وتعلمه
“Para ulama salaf dari kalangan Ahlussunnah bersepakat melarang perdebatan dalam bab sifat Allah, dan bersepakat melarang menceburkan diri dalam ilmu kalam dan mempelajarinya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, 1/216).
Bahkan Imam Asy-Syafi’i tegas mencela ilmu kalam. Beliau berkata kepada ar Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah:
لا تشتغل بالكلام فإني اطلعتُ من أهل الكلام على التعطيل
“Janganlah engkau menyibukkan diri dengan ilmu kalam, karena aku telah mengamati ahlul kalam, dan mereka cenderung melakukan ta’thil (menolak sifat-sifat Allah)” (Siyar A’lamin Nubala, 10/28).
Manhaj salaf tegak diatas dalil yang dipahami ulama ahlu sunnah yang tidak sibuk dengan ilmu Kalam, Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan:
أجمع أهل الفقه والآثار من جميع الأمصار أن أهل الكلام أهل بدع وزيغ ولا يعدون عند الجميع في طبقات الفقهاء
“Seluruh ulama fiqih dan hadits dari berbagai penjuru dunia sepakat bahwa ahlul kalam adalah ahlul bid’ah dan sesat, mereka tidak dianggap dalam semua tingkatan ahli fiqih” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2/942).
Diantara tokoh ahlul kalam yang menyesali pemahamannya yang keliru karena tenggelam dalam logika filsafat, yakni Abul Ma’ali Al-Juwaini rahimahullah yang berkata:
يَا أَصْحَابَنَا لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ فَلَوْ عَرَفْت أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي إلَى مَا بَلَغَ مَا اشْتَغَلْت بِهِ.
“Wahai para shababat kami, janganlah kalian sibuk dengan ilmu kalam. Kalau aku dulu tahu bahwa ilmu kalam itu akan menyampaikan kepada batas yang telah aku sampai sekarang, tentu aku tidak akan menyibukkan dengannya.”
Maka kebenaran itu ada pada Ahlul Hadits Wal Atsar, sebagaimana Ibnul Mubarak rahimahullah pernah berkata:
وجدتُ الدِّين لأهل الحديث، والكلام للمعتزلة، والكذب للرافضة، والحِيَل لأهل الرأي
Aku telah mendapati agama yang benar ada pada ahli hadits, sedangkan filsafat (ilmu kalam) ada pada Mu'tazilah, kedustaan ada pada Syi'ah Rafidhah, dan berkilah ada pada ahlul ra'yi (pemuja akal).[Mukhtashar ash-Shawaa'iq 4/1464 ]
Islam generasi awal [murni] tidak mengenal ilmu filsafat/kalam. Perhatikanlah bahwa aqidah yang tertanam dalam hati akan membuahkan amalan sesuai keyakinannya, jika aqidah lurus maka amalan lurus, jika aqidah menyimpang maka amalan juga menyimpang, sebagaimana nasehat Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله :
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا بِالتَّمَنِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
Artinya:"Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan. Akan tetapi, iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan."— [ Rujukan: Aqwal At-Tabi'in fi Masa'il At-Tauhid wa Al-Iman, hlm. 1124.]
Wallahu'alam
Yogyakarta, 21 Jumadil Awal 1448 Hijriah.
🗃Channel WA
https://whatsapp.com/channel/0029VbB2J0yLtOjHPryRKF0k
🌐channel telegram @nusantaramengaji ( https://goo.gl/1DQbq0 )
🖼 Instagram ( http://instagram.com/nusantaramengajiofficial )
📲 https://m.facebook.com/nusantaramengajisunnah/
https://chat.whatsapp.com/Eo6djYu3LkhLAxBGEU1UKH?mode=ac_t