Malam ini terakhir pendaftaran kelas 100 orderan. 😱
Diajarin jualan tembus 100 orderan.
Dimbimbing selama 3 minggu, dapat bonus KEREN, bisa konsultasi dengan mentor sepuasnya.
Bayangin investasinya cuma 55 ribu. 😍
http://bit.ly/100_Orderan_
Jadi jangan sampai ketinggalan ya.. 😊
Diajarin jualan tembus 100 orderan.
Dimbimbing selama 3 minggu, dapat bonus KEREN, bisa konsultasi dengan mentor sepuasnya.
Bayangin investasinya cuma 55 ribu. 😍
http://bit.ly/100_Orderan_
Jadi jangan sampai ketinggalan ya.. 😊
Pernah punya mindset kek gini..
Jadi gini..
Saya kalau lihat status teman2 di fb yang mengatakan "posting-posting aja nanti juga closing.." keinget waktu mulai jualan online.
Belum ngerti yang namanya ilmu traffic, copywriting dll.
Kalau inget-inget lagi pen ketawa sendiri. 😁
Setelah dijalani fakta dilapangan gak semudah itu ternyata.
Dari situ saya mengambil pelajaran. Mungkin ini yang dinamakan ASAL ACTION.
Action tanpa ilmu tanpa strategi.
Ingin hasil lebih, ilmu serta strateginya masih ASAL-ASALAN.
Cape iya, hasil belum maksimal cenderung sedikit. 😔
Maka semenjak menyadari itu mulai banyak belajar dari buku-buku kang dewa, ikut kelas online, ikut seminar, dan workshop.
Semakin banyak belajar semakin saya menyadari semakin komplek masalah bisnisnya makin banyak ilmu yang dibutuhkan.
Itu kenapa investasi otak penting.
Agar kita punya kapasitas besar, mindset yang KUAT menghadapi tantangan.
Jadi buat yang baru mulai jualan online kalau masih belum dapat pembeli coba pelajari ilmu gimana cara mendatangkan pembeli.
Pelajari media tempat Anda jualan agar hasil yang didaptkan maksimal.
Jangan nyerah, jalani prosesnya.
Semua ada waktunya.
Jadi gini..
Saya kalau lihat status teman2 di fb yang mengatakan "posting-posting aja nanti juga closing.." keinget waktu mulai jualan online.
Belum ngerti yang namanya ilmu traffic, copywriting dll.
Kalau inget-inget lagi pen ketawa sendiri. 😁
Setelah dijalani fakta dilapangan gak semudah itu ternyata.
Dari situ saya mengambil pelajaran. Mungkin ini yang dinamakan ASAL ACTION.
Action tanpa ilmu tanpa strategi.
Ingin hasil lebih, ilmu serta strateginya masih ASAL-ASALAN.
Cape iya, hasil belum maksimal cenderung sedikit. 😔
Maka semenjak menyadari itu mulai banyak belajar dari buku-buku kang dewa, ikut kelas online, ikut seminar, dan workshop.
Semakin banyak belajar semakin saya menyadari semakin komplek masalah bisnisnya makin banyak ilmu yang dibutuhkan.
Itu kenapa investasi otak penting.
Agar kita punya kapasitas besar, mindset yang KUAT menghadapi tantangan.
Jadi buat yang baru mulai jualan online kalau masih belum dapat pembeli coba pelajari ilmu gimana cara mendatangkan pembeli.
Pelajari media tempat Anda jualan agar hasil yang didaptkan maksimal.
Jangan nyerah, jalani prosesnya.
Semua ada waktunya.
TIDAK MUDAH, Tapi bukan berarti TIDAK BISA
Anda tentu kenal yang namanya Joe Girard.
Ia adalah The Best Salesman in the World dan satu-satunya salesman yang namanya tercatat dalam rekor dunia.
Tapi tahukah Anda Rahasia terbesar Joe Girard sampai ia mampu mencapai Puncak Prestasi tersebut?
...
Begini ceritanya...
Dulu, Joe Girard cukup Sukses di bisnis properti. Tapi karena gampang percaya sama orang, ia pun Tertipu. Bisnis propertinya hancur dan ia pun harus berhutang 60.000 US$.
Wuiiiih gilaak!!
Jika di kurs-kan dalam Rupiah...
Ga tahu tuh seberapa banyak jika dihitung, pokok-nya mah banyak deh. hehe
Saat bangkrut, istrinya berkata kepadanya:
"Joe, kita tidak punya makanan apapun lagi di rumah. Anak-anak minta makanan"
Itulah titik terendah dalam hidupnya.
Akhirnya ia harus "mengemis-mengemis" kepada pemilik dealer mobil untuk bisa
bekerja disana. Pada akhirnya ia pun diterima.
...
Singkat cerita,
Ia pun kini tercatat sebagai the Best Salesman in the World dengan menjual mobil di tempat ia bekerja tersebut.
Bayangkan, ia berhasil menjual 13.001 mobil selama 15 tahun karirnya.
Lalu apa Rahasia Kesuksesannya?
Simak perkataan Joe Girard berikut ini:
"Semuanya dimulai dari titik terendah yang saya alami dalam hidup. Kalau seandainya tidak ada titik terendah itu, mungkin saya tidak akan melesat ke atas. Ketika sampai di titik terendah, kemana lagi Anda bisa bergerak selain memantul ke atas"
Coba Anda baca sekali lagi,
Jika perlu berulang-ulang kali..
"Semuanya dimulai dari titik terendah yang saya alami dalam hidup. Kalau seandainya tidak ada titik terendah itu, mungkin saya tidak akan melesat ke atas. Ketika sampai di titik terendah, kemana lagi Anda bisa bergerak selain memantul ke atas"
Apa Hikmahnya?
Titik terendah dalam hidup adalah Momentum paling tepat untuk mencapai puncak karir. Jika saat ini Anda sedang berada dalam titik ini, Ayo Bangkit! Tirulah Joe Girard..
Jika ia saja bisa, Anda juga PASTI BISA!
Apakah mudah ?TIDAK!
Tetapi bukan berarti saya dan Anda tidak bisa.
Kadang putus Asa,
Kadang mau berhenti,
Kadang tidak mau melanjutkan perjalanan.
Itu biasa!
Semua orang pun pernah mengalaminya.
...
Tapi...
Yang perlu kita ingat adalah "Jangan pernah NYERAH! Jalan terus sampai bisa ke tujuan yang sudah Anda cita-citakan"
Sekali lagi,
Memang tidaklah MUDAH tapi bukan berarti TIDAK BISA.
Anda tentu kenal yang namanya Joe Girard.
Ia adalah The Best Salesman in the World dan satu-satunya salesman yang namanya tercatat dalam rekor dunia.
Tapi tahukah Anda Rahasia terbesar Joe Girard sampai ia mampu mencapai Puncak Prestasi tersebut?
...
Begini ceritanya...
Dulu, Joe Girard cukup Sukses di bisnis properti. Tapi karena gampang percaya sama orang, ia pun Tertipu. Bisnis propertinya hancur dan ia pun harus berhutang 60.000 US$.
Wuiiiih gilaak!!
Jika di kurs-kan dalam Rupiah...
Ga tahu tuh seberapa banyak jika dihitung, pokok-nya mah banyak deh. hehe
Saat bangkrut, istrinya berkata kepadanya:
"Joe, kita tidak punya makanan apapun lagi di rumah. Anak-anak minta makanan"
Itulah titik terendah dalam hidupnya.
Akhirnya ia harus "mengemis-mengemis" kepada pemilik dealer mobil untuk bisa
bekerja disana. Pada akhirnya ia pun diterima.
...
Singkat cerita,
Ia pun kini tercatat sebagai the Best Salesman in the World dengan menjual mobil di tempat ia bekerja tersebut.
Bayangkan, ia berhasil menjual 13.001 mobil selama 15 tahun karirnya.
Lalu apa Rahasia Kesuksesannya?
Simak perkataan Joe Girard berikut ini:
"Semuanya dimulai dari titik terendah yang saya alami dalam hidup. Kalau seandainya tidak ada titik terendah itu, mungkin saya tidak akan melesat ke atas. Ketika sampai di titik terendah, kemana lagi Anda bisa bergerak selain memantul ke atas"
Coba Anda baca sekali lagi,
Jika perlu berulang-ulang kali..
"Semuanya dimulai dari titik terendah yang saya alami dalam hidup. Kalau seandainya tidak ada titik terendah itu, mungkin saya tidak akan melesat ke atas. Ketika sampai di titik terendah, kemana lagi Anda bisa bergerak selain memantul ke atas"
Apa Hikmahnya?
Titik terendah dalam hidup adalah Momentum paling tepat untuk mencapai puncak karir. Jika saat ini Anda sedang berada dalam titik ini, Ayo Bangkit! Tirulah Joe Girard..
Jika ia saja bisa, Anda juga PASTI BISA!
Apakah mudah ?TIDAK!
Tetapi bukan berarti saya dan Anda tidak bisa.
Kadang putus Asa,
Kadang mau berhenti,
Kadang tidak mau melanjutkan perjalanan.
Itu biasa!
Semua orang pun pernah mengalaminya.
...
Tapi...
Yang perlu kita ingat adalah "Jangan pernah NYERAH! Jalan terus sampai bisa ke tujuan yang sudah Anda cita-citakan"
Sekali lagi,
Memang tidaklah MUDAH tapi bukan berarti TIDAK BISA.
ADAB VS ILMU: MANA DULU?
Tentunya adab. Begitu kata banyak orang. Masalahnya, saya baru diskusi penuh adab dengan sosok yang penuh ilmu. Keterangan dari beliau cukup mengejutkan: Ilmu dulu. Baru adab.
Penjelasannya sederhana. Adab memang penting. Tapi, untuk tahu mana adab, perlu ilmu.
“Sederhananya begini. Bukankah untuk tahu mana adab dalam mencari ilmu, kamu juga perlu membaca kitab Ta’limul Muta’allim?” Benar juga. Batin saya.
Teman saya menimpali. “Adab juga dinamis. Coba saja cari di kitab Ulama klasik. Gimana adab nonton kajian lewat Youtube? Apa etikanya denger murottal lewat hape?”
Dia melanjutkan,”Bagaimana adab Louis XIV dalam meminjam mobil? Tak ada panduan adab menelepon dan mengantre ATM di kitab klasik para agamawan dan bangsawan itu. Tahu kan kenapa? Karena belum ada barangnya. Anda kan profesor..Gitu aja perlu dijelaskan…” Teman saya menyerocos.
Saya menanggapi singkat. ”Itulah kenapa dulu sempat viral infografis yang menjelaskan etika pinjam mobil, chat dosen, dan problem adab orang modern lainnya.”
1) Adab Itu Serba Tergantung
Adab memang subjektif. Tergantung budaya, cara pandang, persepsi, dan kepentingan pelaku-pelakunya. Karena itu, butuh ilmu untuk menilai adab. Perlu ilmu untuk memisahkan mana adab, etika, etiket, moral.
Tak cukup itu. Di era pilpres ini, kita perlu ilmu untuk melihat: mana kebenaran mana framing. Mana konten mana konteks.
Apa yang disebut nir-adab bagi sebagian orang, bisa jadi masih tergolong wajar bagi yang lain. Sebaliknya. Apa yang dianggap sopan santun di suatu budaya, bisa jadi dianggap kemunafikan atau tindakan berlebihan di budaya yang lain.
Ramah tamahnya warga desa bisa jadi dianggap kepo dan pelanggaran privasi bagi warga kota. Adab yang mulia seperti nunduk saat lewat depan orang tua, sungkem ke guru, boleh jadi dianggap ghuluw bagi saudara seiman lainnya.
Di telinga orang yang egaliter, panggilan “Pak” atau “Sir” bisa terasa sangat feodal. Mereka lebih senang panggilan "Bung".
Tak cuma itu. Waktu masih bocil dulu, saya pernah dijewer ibu di depan publik. Pasalnya sederhana: bersendawa seusai makan. Cukup keras. Sampai satu meja makan nengok. Di rumah bude yang sangat dihormati ibu pula.
Andai saja waktu itu kami makan di Pak Lik Akihito yang asli Jepang, barangkali dia justru tertawa karena saya bersendawa. Bagi orang Jepang, sendawa adalah tanda puas. Makin keras, makin puas.
2) Pentingnya Kesamaan Referensi
Karena adab itu licin bagai belut, untuk menentukan apakah sikap seseorang itu beradab atau tidak, perlu referensi yang disepakati bersama.
Tanpa referensi yang sama, akan muncul debat-setelah-debat. Seperti usai debat cawapres kemarin, para buzzer masih saja disibukkan dengan adab. Gibran dianggap tak beradab. Tak beretika.
Sebaliknya. Pendengung 02 mempertanyakan: Kalo begitu, kenapa serangan Anies dan Ganjar saat memberi skor Prabowo juga tak disebut melanggar etika?
Bila dasarnya adalah selera, like or dislike, maka tidak jelas siapa yang beradab, siapa yang biadab. Keributan itulah yang terjadi saat mereka tak punya kesepakatan atas apa itu yang disebut etis dan tak etis. Adab dan tak beradab.
Di kalangan santri, mereka cukup beruntung karena memiliki referensi yang relatif diterima beragam kalangan: Ta’limul Muta’allim.
Di kalangan sosialita, mereka punya sekolah kepribadian macam John Robert Power yang gunanya mengajarkan etika mengambil sendok, duduk, membuka pintu, tatap mata, berpakaian, izin ke belakang, hingga memotong pisang.
Di kalangan pengiklan, ada aturan pariwara untuk membatasi mana iklan etis dan tak etis.
3) Yang Lebih Kuat dari Adab
Yang repot tentu moderator debat. Tak ada “Ta’limul Muta’allim” versi debat pilpres. Tak ada sertifikasi sekolah kepribadian capres cawapres yang menjadi acuan.
Saat tak punya referensi keilmuan, moderator tinggal satu punya pegangan: aturan.
Aturan debat meminta kandidat untuk menjelaskan singkatan. Aturan debat melarang peserta meninggalkan podium.
Tentunya adab. Begitu kata banyak orang. Masalahnya, saya baru diskusi penuh adab dengan sosok yang penuh ilmu. Keterangan dari beliau cukup mengejutkan: Ilmu dulu. Baru adab.
Penjelasannya sederhana. Adab memang penting. Tapi, untuk tahu mana adab, perlu ilmu.
“Sederhananya begini. Bukankah untuk tahu mana adab dalam mencari ilmu, kamu juga perlu membaca kitab Ta’limul Muta’allim?” Benar juga. Batin saya.
Teman saya menimpali. “Adab juga dinamis. Coba saja cari di kitab Ulama klasik. Gimana adab nonton kajian lewat Youtube? Apa etikanya denger murottal lewat hape?”
Dia melanjutkan,”Bagaimana adab Louis XIV dalam meminjam mobil? Tak ada panduan adab menelepon dan mengantre ATM di kitab klasik para agamawan dan bangsawan itu. Tahu kan kenapa? Karena belum ada barangnya. Anda kan profesor..Gitu aja perlu dijelaskan…” Teman saya menyerocos.
Saya menanggapi singkat. ”Itulah kenapa dulu sempat viral infografis yang menjelaskan etika pinjam mobil, chat dosen, dan problem adab orang modern lainnya.”
1) Adab Itu Serba Tergantung
Adab memang subjektif. Tergantung budaya, cara pandang, persepsi, dan kepentingan pelaku-pelakunya. Karena itu, butuh ilmu untuk menilai adab. Perlu ilmu untuk memisahkan mana adab, etika, etiket, moral.
Tak cukup itu. Di era pilpres ini, kita perlu ilmu untuk melihat: mana kebenaran mana framing. Mana konten mana konteks.
Apa yang disebut nir-adab bagi sebagian orang, bisa jadi masih tergolong wajar bagi yang lain. Sebaliknya. Apa yang dianggap sopan santun di suatu budaya, bisa jadi dianggap kemunafikan atau tindakan berlebihan di budaya yang lain.
Ramah tamahnya warga desa bisa jadi dianggap kepo dan pelanggaran privasi bagi warga kota. Adab yang mulia seperti nunduk saat lewat depan orang tua, sungkem ke guru, boleh jadi dianggap ghuluw bagi saudara seiman lainnya.
Di telinga orang yang egaliter, panggilan “Pak” atau “Sir” bisa terasa sangat feodal. Mereka lebih senang panggilan "Bung".
Tak cuma itu. Waktu masih bocil dulu, saya pernah dijewer ibu di depan publik. Pasalnya sederhana: bersendawa seusai makan. Cukup keras. Sampai satu meja makan nengok. Di rumah bude yang sangat dihormati ibu pula.
Andai saja waktu itu kami makan di Pak Lik Akihito yang asli Jepang, barangkali dia justru tertawa karena saya bersendawa. Bagi orang Jepang, sendawa adalah tanda puas. Makin keras, makin puas.
2) Pentingnya Kesamaan Referensi
Karena adab itu licin bagai belut, untuk menentukan apakah sikap seseorang itu beradab atau tidak, perlu referensi yang disepakati bersama.
Tanpa referensi yang sama, akan muncul debat-setelah-debat. Seperti usai debat cawapres kemarin, para buzzer masih saja disibukkan dengan adab. Gibran dianggap tak beradab. Tak beretika.
Sebaliknya. Pendengung 02 mempertanyakan: Kalo begitu, kenapa serangan Anies dan Ganjar saat memberi skor Prabowo juga tak disebut melanggar etika?
Bila dasarnya adalah selera, like or dislike, maka tidak jelas siapa yang beradab, siapa yang biadab. Keributan itulah yang terjadi saat mereka tak punya kesepakatan atas apa itu yang disebut etis dan tak etis. Adab dan tak beradab.
Di kalangan santri, mereka cukup beruntung karena memiliki referensi yang relatif diterima beragam kalangan: Ta’limul Muta’allim.
Di kalangan sosialita, mereka punya sekolah kepribadian macam John Robert Power yang gunanya mengajarkan etika mengambil sendok, duduk, membuka pintu, tatap mata, berpakaian, izin ke belakang, hingga memotong pisang.
Di kalangan pengiklan, ada aturan pariwara untuk membatasi mana iklan etis dan tak etis.
3) Yang Lebih Kuat dari Adab
Yang repot tentu moderator debat. Tak ada “Ta’limul Muta’allim” versi debat pilpres. Tak ada sertifikasi sekolah kepribadian capres cawapres yang menjadi acuan.
Saat tak punya referensi keilmuan, moderator tinggal satu punya pegangan: aturan.
Aturan debat meminta kandidat untuk menjelaskan singkatan. Aturan debat melarang peserta meninggalkan podium.
Modal aturan debat itulah yang menjadi jimat moderator untuk menegur Gibran. Tanpa aturan, sedongkol-dongkolnya mereka, moderator hanya bisa meminta penonton tenang atau sekedar mengingatkan waktu habis. Tanpa aturan, moderator tak ubahnya time keeper dan floor director saja.
Meskipun di sisi lain, aturan juga membatasi moderator. Moderator menegur Gibran bukan karena gesture meneropongnya. Tapi karena meninggalkan podium. Setengil-tengilnya Gibran mencari jawaban, andai dia tak melangkah meninggalkan podium, maka moderator tak bisa menegur.
Jadi, mana yang lebih penting?
Adab atau ilmu?
Untuk tahu adab, perlu ilmu. Untuk dapat keberkahan ilmu, perlu adab. Saat ilmu dan adab diremehkan, aturanlah yang mengembalikan marwahnya. Tapi, aturan yang baik pastilah untuk menegakkan adab yang berlandaskan ilmu.
4) Pentingnya Konteks
Ilmu terpenting di era banjir konten ini adalah ilmu memahami dan membentuk konteks. Pertanyaan di atas mudah saja dijawab asal diberi konteks yang tepat.
Mempertentangkan adab dengan ilmu sama halnya diminta memilih sopan tapi keliru/ bodoh. Atau pintar dan benar tapi melukai hati.
Di konteks debat, maka kebenaran lebih utama ketimbang kesopanan. Meskipun, faktanya, kita ini orang Indonesia yang getol dengan sopan santun. Dalam lomba debat yang saya ikuti jaman SMA dulu pun, juri menegur tim kami. “Kenapa tidak sopan? Percuma gagasanmu tepat bila caramu tidak etis.”
Dan mungkin karena itu, tim kami hanya mendapat juara 3.
Dalam konteks bermasyarakat, kita perlu lebih banyak berkompromi kecuali dalam hal-hal yang amat sangat prinsipil alias: Sopan lebih penting daripada benar. Karena dengan kesopanan, orang awam akan terpikat pada kebenaran.
Dalam konteks beragama pun, selalu ada pertentangan antara orang yang ingin “Mengislamkan tradisi” maupun “Mentradisikan Islam”. Dalam kedua golongan ini saja, mereka sepakat bahwa adat dan ‘urf bisa menjadi pertimbangan utama dalam beragama.
5) Mencoba Memilih Berdasar Substansi
“Kalo gitu, lupakan gimmick. Lupakan etik. Coba kita fokus pada substansi. Kita analisa kebenaran-kebenaran argumen calon-calon pemimpin kita itu.” Seorang kawan mengusulkan.
Dalam sekejap, kami mempelajari isu-isu yang dilemparkan. Mengecek fakta-faktanya. Membedah logika dan feasibilitynya.
Tak lama kemudian, kami sepakat: Semua ini memusingkan. Terlalu menyita waktu. Pekerjaan tak bisa menunggu. Ternyata, untuk memilih pemimpin pun perlu ilmu.
Dan karena tak semua sanggup membedah isi kepala, banyak orang memilih jalan pintas untuk menilai para capres cawapres. Melihat siapa pendukungnya. Melihat track recordnya. Melihat, lagi-lagi, adabnya. Adab menjadi jalan pintas menilai kualitas. Meskipun, tentu saja, tak akurat-akurat amat.
Jadi, gimana? Penting adab atau ilmu? Ya maaf kalo pertanyaan saya terlalu sulit… Meskipun tak sesulit lupakan Reyhan.
Meskipun di sisi lain, aturan juga membatasi moderator. Moderator menegur Gibran bukan karena gesture meneropongnya. Tapi karena meninggalkan podium. Setengil-tengilnya Gibran mencari jawaban, andai dia tak melangkah meninggalkan podium, maka moderator tak bisa menegur.
Jadi, mana yang lebih penting?
Adab atau ilmu?
Untuk tahu adab, perlu ilmu. Untuk dapat keberkahan ilmu, perlu adab. Saat ilmu dan adab diremehkan, aturanlah yang mengembalikan marwahnya. Tapi, aturan yang baik pastilah untuk menegakkan adab yang berlandaskan ilmu.
4) Pentingnya Konteks
Ilmu terpenting di era banjir konten ini adalah ilmu memahami dan membentuk konteks. Pertanyaan di atas mudah saja dijawab asal diberi konteks yang tepat.
Mempertentangkan adab dengan ilmu sama halnya diminta memilih sopan tapi keliru/ bodoh. Atau pintar dan benar tapi melukai hati.
Di konteks debat, maka kebenaran lebih utama ketimbang kesopanan. Meskipun, faktanya, kita ini orang Indonesia yang getol dengan sopan santun. Dalam lomba debat yang saya ikuti jaman SMA dulu pun, juri menegur tim kami. “Kenapa tidak sopan? Percuma gagasanmu tepat bila caramu tidak etis.”
Dan mungkin karena itu, tim kami hanya mendapat juara 3.
Dalam konteks bermasyarakat, kita perlu lebih banyak berkompromi kecuali dalam hal-hal yang amat sangat prinsipil alias: Sopan lebih penting daripada benar. Karena dengan kesopanan, orang awam akan terpikat pada kebenaran.
Dalam konteks beragama pun, selalu ada pertentangan antara orang yang ingin “Mengislamkan tradisi” maupun “Mentradisikan Islam”. Dalam kedua golongan ini saja, mereka sepakat bahwa adat dan ‘urf bisa menjadi pertimbangan utama dalam beragama.
5) Mencoba Memilih Berdasar Substansi
“Kalo gitu, lupakan gimmick. Lupakan etik. Coba kita fokus pada substansi. Kita analisa kebenaran-kebenaran argumen calon-calon pemimpin kita itu.” Seorang kawan mengusulkan.
Dalam sekejap, kami mempelajari isu-isu yang dilemparkan. Mengecek fakta-faktanya. Membedah logika dan feasibilitynya.
Tak lama kemudian, kami sepakat: Semua ini memusingkan. Terlalu menyita waktu. Pekerjaan tak bisa menunggu. Ternyata, untuk memilih pemimpin pun perlu ilmu.
Dan karena tak semua sanggup membedah isi kepala, banyak orang memilih jalan pintas untuk menilai para capres cawapres. Melihat siapa pendukungnya. Melihat track recordnya. Melihat, lagi-lagi, adabnya. Adab menjadi jalan pintas menilai kualitas. Meskipun, tentu saja, tak akurat-akurat amat.
Jadi, gimana? Penting adab atau ilmu? Ya maaf kalo pertanyaan saya terlalu sulit… Meskipun tak sesulit lupakan Reyhan.
Bingung bikin IG Story apa?
ini ide yang bisa kamu pake⤵️
- Bikin 10 list teratas apapun favorit kamu
- Goals kamu di minggu ini
- Pengingat harian untuk orang-orang
- Cerita soal hal yang mengganggu kamu
- Bagiin kata-kata inspirasi
- Fun fact soal kelucuan kamu
- Bagiin karya terbaik kamu
- Bikin polling (bubur di aduk/gak diaduk)
- Bikin kuis seru
- Bagiin website/buku yang kamu suka
ini ide yang bisa kamu pake⤵️
- Bikin 10 list teratas apapun favorit kamu
- Goals kamu di minggu ini
- Pengingat harian untuk orang-orang
- Cerita soal hal yang mengganggu kamu
- Bagiin kata-kata inspirasi
- Fun fact soal kelucuan kamu
- Bagiin karya terbaik kamu
- Bikin polling (bubur di aduk/gak diaduk)
- Bikin kuis seru
- Bagiin website/buku yang kamu suka
"Mau ngonten tapi ngambil setup, style, ide konten-konten nya orang lain, emang boleh?
Gak ada yang 100% real konten itu hasil karya sendiri, pastinya dapetin inspirasi dari luar & faktor lainnya.
So, kalo pengen ngonten tapi masih bingung mulai darimana gimana ini dan itu dll, cari akun-akun sejenis & ATM kontennya!
Amati tiru modifikasi!
Gak ada yang 100% real konten itu hasil karya sendiri, pastinya dapetin inspirasi dari luar & faktor lainnya.
So, kalo pengen ngonten tapi masih bingung mulai darimana gimana ini dan itu dll, cari akun-akun sejenis & ATM kontennya!
Amati tiru modifikasi!
Hal-hal yang menguras energi tanpa kita sadari.
1. Screen Time Berlebihan
2. Kurang Tidur
3. Rutinitas Monoton
4. Multitasking Berlebihan
5. Kurang Me-Time
6. Kebiasaan Menunda-nunda
7. Membandingkan Diri
8. Menghindar Dari Masalah
Yang mana yang paling relate sama kamu, nih?
Komen ya 😊
Mumpung weekend dipakai untuk berbenah diri yuk ✨
1. Screen Time Berlebihan
2. Kurang Tidur
3. Rutinitas Monoton
4. Multitasking Berlebihan
5. Kurang Me-Time
6. Kebiasaan Menunda-nunda
7. Membandingkan Diri
8. Menghindar Dari Masalah
Yang mana yang paling relate sama kamu, nih?
Komen ya 😊
Mumpung weekend dipakai untuk berbenah diri yuk ✨
Selalu ingat,
kalo bagian terpenting dari copywritingmu itu adalah headline.
Kalo orang nggak penasaran, nggak tertarik, atau nggak tergugah sama headlinemu,
mereka juga nggak bakal liat bagian selanjutnya.
Kalo bisa di bagian headline kamu boleh ngasih
- Janji
- Mengutarakan masalah
- Kasih solusi
- dan hal lainnya yang bikin pembaca tertarik
Jadi, sebisa mungkin buatlah headline yang gak mungkin bikin orang skip copywritingmu
kalo bagian terpenting dari copywritingmu itu adalah headline.
Kalo orang nggak penasaran, nggak tertarik, atau nggak tergugah sama headlinemu,
mereka juga nggak bakal liat bagian selanjutnya.
Kalo bisa di bagian headline kamu boleh ngasih
- Janji
- Mengutarakan masalah
- Kasih solusi
- dan hal lainnya yang bikin pembaca tertarik
Jadi, sebisa mungkin buatlah headline yang gak mungkin bikin orang skip copywritingmu
The 7 C's of copywriting:
1. Clear - Keep it simple
2. Concise - Cut the fluff
3. Compelling - Tell stories
4. Credible - Show proof
5. Connecting - Be Relatable
6. Conversational - Be casual
7. Customer/reader focused
1. Clear - Keep it simple
2. Concise - Cut the fluff
3. Compelling - Tell stories
4. Credible - Show proof
5. Connecting - Be Relatable
6. Conversational - Be casual
7. Customer/reader focused
Ada satu quotes dari copywriter terbaik di dunia, begini katanya
"When I write an advertisement, I don't want you to tell me that you find it 'creative'. I want you to find it so interesting that you buy the product" - David Ogilvy
Jadi, intinya jangan sampe pembaca ini suka copywritingmu karena kreatif aja,
tapi kalo bisa copywriting yang kamu buat ini harus bikin pembaca tertarik buat beli produk yang di tawarkan.
"When I write an advertisement, I don't want you to tell me that you find it 'creative'. I want you to find it so interesting that you buy the product" - David Ogilvy
Jadi, intinya jangan sampe pembaca ini suka copywritingmu karena kreatif aja,
tapi kalo bisa copywriting yang kamu buat ini harus bikin pembaca tertarik buat beli produk yang di tawarkan.
Di dalam copywriting, kamu gak cuma jualan sebuah produk
Kamu juga jualan emosi, emosinya bisa:
- Kebanggan
- Kemewahan
- Kebahagiaan
- Keistimewaan
- bahkan Kecintaan
Emosi ini harus bisa masuk ke bagian jualan produknya
Karena emosi adalah alasan yang sebenarnya pembaca mau beli produk yang ditawarkan
Kamu juga jualan emosi, emosinya bisa:
- Kebanggan
- Kemewahan
- Kebahagiaan
- Keistimewaan
- bahkan Kecintaan
Emosi ini harus bisa masuk ke bagian jualan produknya
Karena emosi adalah alasan yang sebenarnya pembaca mau beli produk yang ditawarkan
Jualan kamu belum laku? Sering dikatain "ahh mahal banget" atau bilang "ntar yaa saya kabarin lagi" atau "saya tanya tim saya dulu yaa"
Sabar, mereka yang bilang seperti itu lalu menghilang mereka itu bukan target market kamu, terus berusaha menemukan mereka yang mau dan sanggup membayarmu.
Sabar, mereka yang bilang seperti itu lalu menghilang mereka itu bukan target market kamu, terus berusaha menemukan mereka yang mau dan sanggup membayarmu.
Dari banyak nya creator yang saya lihat, org yg akun nya bisa berkembang itu bukan sesuatu yg kebetulan
Mereka benar benar memiliki ilmu basic dan juga ilmu expert, ilmu nya benar benar sdh banyak dan paham untuk eksekusi
Jadi tidak perlu iri melihat ada org lain yg akun nya berkembang begitu cepat, sedangkan punya kita sendiri masih stuck
Solusi nya ?
Perbanyak belajar, mengamati, riset, dicoba sampai kita tau dan paham.
Mereka benar benar memiliki ilmu basic dan juga ilmu expert, ilmu nya benar benar sdh banyak dan paham untuk eksekusi
Jadi tidak perlu iri melihat ada org lain yg akun nya berkembang begitu cepat, sedangkan punya kita sendiri masih stuck
Solusi nya ?
Perbanyak belajar, mengamati, riset, dicoba sampai kita tau dan paham.
Pernah lihat kan orang kaya pekerja keras yang hidupnya sederhana? Kenapa dia begitu? Karena dia tahu susahnya dapat uang. Dia jalani prosesnya. Dia jatuh bangun.
Ketika dia dapat uang, sebanyak apapun, tidak akan mudah dihamburkan.
Ketika dia dapat uang, sebanyak apapun, tidak akan mudah dihamburkan.
Percaya ngga percaya:
- Uang makin dihemat malah makin seret, kalo dibelanjain atau dibagiin pasti ada aja yang dateng.
- Semakin berusaha untuk hemat, semakin kalian mencoba untuk nabung, apalagi sampe pelit sama diri sendiri, pasti ada aja sesuatu yang harus dibayar atau ada aja barang yang rusak.
- Jadi jangan terlalu perhitungan, jangan pelit sama diri sendiri. Jangan lupa juga bersedekah karena ga akan bikin kamu miskin, malah rezekimu semakin lancar.
- Uang makin dihemat malah makin seret, kalo dibelanjain atau dibagiin pasti ada aja yang dateng.
- Semakin berusaha untuk hemat, semakin kalian mencoba untuk nabung, apalagi sampe pelit sama diri sendiri, pasti ada aja sesuatu yang harus dibayar atau ada aja barang yang rusak.
- Jadi jangan terlalu perhitungan, jangan pelit sama diri sendiri. Jangan lupa juga bersedekah karena ga akan bikin kamu miskin, malah rezekimu semakin lancar.
Anatomi copywriting
Hook = buat menarik perhatian pembaca
Body copy = bikin pembaca betah baca sampe akhir
CTA = bikin pembaca bertindak sesuai tujuan copywriting
Simple.
Hook = buat menarik perhatian pembaca
Body copy = bikin pembaca betah baca sampe akhir
CTA = bikin pembaca bertindak sesuai tujuan copywriting
Simple.