Phillip Sekuritas Indonesia Research
βœ”
12.4K subscribers
16.3K photos
1 video
37 files
8.17K links
PSI Research Official Account - Disclaimer On
http://bit.ly/DisclaimerPSI
Download Telegram
Phillip Sekuritas Indonesia

JCI Indication (October 16, 2026)
Bearish
Support: 5,740; Resistance: 6,030

Indeks saham di Asia Jumat pagi (16/10) dibuka menguat setelah indeks saham utama di Wall Street semalam ditutup naik seiring dengan anjloknya imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury serta meredanya ketakutan mengenai pembiayaan utang yang berkaitan dengan pengembangan infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI).

Aksi jual saham di sektor teknologi selama dua hari terakhir telah memicu peralihan dana investasi ke US Treasury, yang menyebabkan yield US Treasury note bertenor 10 tahun jatuh 12.6 bps menjadi 5.09%.

Para investor merasa resah dengan valuasi perusahaan-perusahaan dalam ekosistem AI, seiring dengan munculnya semakin banyak pihak yang mempertanyakan keberlanjutan permintaan terhadap pusat data atau data center.

Rilis data inflasi (PPI) AS semalam kembali mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve).

Data Producer Price Index (PPI) memperlihatkan inflasi di level produsen naik 1.3% M/M (+6.3% Y/Y) di bulan September, jauh lebih cepat dari laju kenaikan 0.5% M/M (+5.6% Y/Y) di bulan sebelumnya dan di atas ekspektasi pasar yang naik 0.5% M/M (+5.3% Y/Y).

Kenaikan PPI secara Y/Y adalah yang terbesar dalam 4.5 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya biaya barang dan jasa, yang mengindikasikan bahwa tekanan inflasi mulai meluas ke luar dari harga bahan energi.

Inflasi Inti (Core PPI) naik 0.7% M/M (+5.0% Y/Y), akselerasi dari 0.2% M/M (+4.8% Y/Y) di bulan Agustus dan melampaui ekspektasi pasar yang naik 0.3% M/M (+4.4% Y/Y).

Data penjualan ritel AS terkini menunjukkan bahwa penjualan ritel bulan lalu meningkat lebih tinggi dari perkiraan, didorong oleh kenaikan harga bensin. Namun, data juga mengindikasikan bahwa penjualan di sektor lain tetap moderat.

Penjualan Eceran di AS naik 0.8% M/M (+6.3% Y/Y) di bulan September, melambat dari laju kenaikan 1.3% M/M (+5.6% Y/Y) di bulan sebelumnya serta jauh melampaui perkiraan kenaikan 0.3% M/M. Penjualan bensin di SPBU melonjak 6.4% M/M akibat kenaikan harga.



News

PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) berencana menggelar stock split saham dengan rasio 1:5.

Pt Adhi Properti Tbk (ADCP) per 30 September 2026 membukukan kerugian IDR 68.33 miliar

PT Petrosea Tbk. (PTRO) berencana rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 170 juta saham baru



Technical Recommendations (Swing Trading)

INTP (Sharia)
Short Term Trend : Bullish
Medium Term Trend : Bullish
Trading Buy : 5275
Target Price 1 : 5575 (+5.69%)
Target Price 2 : 5725 (+8.53%)
Stop Loss : 5000 (-5.21%)

UNTR (Sharia)
Short Term Trend : Sideways
Medium Term Trend : Sideways
Trading Buy : 25075
Target Price 1 : 26100 (+4.09%)
Target Price 2 : 26775 (+6.78%)
Stop Loss : 24050 (-4.09%)


Ikuti Phillip Morning Webinar setiap hari bursa pukul 08.30 WIB melalui Zoom https://bit.ly/PhillipWebinar
Pembukaan rekening: https://www.poems.co.id/Home/OpenAccount
Disclaimer on | Customer Care: 021-57900900.
www.poems.co.id
πŸ“Mekanisme Trading Halt IHSGπŸ“

Penurunan > 8%: Dilakukan trading halt selama 30 menit

Penurunan lanjutan hingga > 15%: Dilakukan trading halt tambahan selama 30 menit.

Penurunan > 20%: Dilakukan trading suspend (penghentian perdagangan sampai akhir sesi atau lebih dari satu sesi bursa dengan persetujuan atau perintah dari OJK).
πŸ‘2πŸ€”1
Tiga Sektor yang menjadi penekan IHSG:
a. Basic Material: -87.310
b. Energy: -74.520
c. Financial: -59.973
❀1
πŸ“©Phillip Sekuritas IndonesiaπŸ“©
Market Review Oktober 16, 2026

Indeks saham di Asia Jumat sore (16/10) ditutup naik dengan MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1.1% karena investor memburu saham-saham di sektor teknologi yang harganya sudah turun tajam.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta terjun bebas lebih dari 11%, terparah sejak tahun 1998 setelah perusahaan penyedia jasa indeks, MSCI secara mengejutkan mengusulkan untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia dari status pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar mandiri (Standalone).

Penurunan (downgrade) status akan membuat saham-saham Indonesia dikeluarkan dari indeks yang dilacak oleh dana-dana global, yang berpotensi memicu keluarnya modal investasi asing senilai miliaran dolar.

Awal tahun ini, MSCI mengungkapkan bahwa para investor telah menyampaikan kekhawatiran mengenai kurangnya transparansi yang berkelanjutan dalam struktur kepemilikan saham serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mempengaruhi informasi harga.

IHSG sudah terpangkas 40% tahun ini dan menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia.

Berdasarkan data LSEG, investor asing telah menarik dana sebesar USD4,6 miliar dari pasar saham di Indonesia sepanjang tahun ini. UBS memperkirakan bahwa penghapusan dari indeks global dapat memicu arus keluar dana tambahan sebesar USD4 miliar dari investasi pasif, serta sekitar USD15 miliar dari investor aktif.

Jika peringkatnya diturunkan, Indonesia akan bergabung dengan Argentina, Libanon, Palestina, dan Ukraina dalam kategori Standalone (berdiri sendiri), sekaligus menjadi satu-satunya pasar saham di kawasan Asia-Pasifik dalam kelompok tersebut.

Investor mencerna pernyataan ketua bank sentral AS (Federal Reserve) Kevin Warsh dalam acara pertemuan tahunan IMF – Bank Dunia di Bangkok.

Kevin Warsh mengatakan bahwa inflasi yang terus berlanjut tetap menjadi tantangan bersama bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia, dan ekonomi global telah menunjukkan ketahanan yang lebih besar daripada yang ia perkirakan di tengah ketegangan geopolitik.

Warsh juga mengatakan bahwa Kecerdasan Buatan (AI) merupakan perubahan paling berdampak bagi ekonomi global sepanjang hidupnya. Ia memprediksi dampaknya akan positif, namun perjalanan ke depan akan penuh rintangan.

πŸ“Œ Statistik
IHSG: 5,185.105 | -678.675 poin | (-11.57%)
Volume (Shares) : 68.613 Billion
Total Value (IDR) :32.014 Trillion
Market Cap (IDR) : 9,176.780 Trillion
Saham naik : 10
Saham turun : 77

Tiga Sektor yang menjadi penekan IHSG:
a. Basic Material: -90.017
b. Energy: -69.521
c. Financial: -65.561

Top Gainers:
BSWD :5,625 | +1,125 | +25.00%
ABDA :4,710 | +940 | +24.93%
TRUK :3,220 | +640 | +24.81%
DNET :9,850 | +175 | +1.81%
CBPE :630 | +125 | +24.75%

Top Losers:
DCII :188,175 | -4,825 | -2.50%
UNTR :22,625 | -2,625 | -10.40%
ITMG :23,000 | -2,300 | -9.09%
GGRM :15,300 | -2,100 | -12.07%
SINI :11,975 | -2,100 | -14.92%

Ikuti Phillip Morning Webinar setiap hari bursa pukul 08.30 WIB.
Melalui Zoom Webinar: https://bit.ly/PhillipWebinar
*Disclaimer on | Customer Care: 021-57900900.
www.poems.co.id
❀1
Selamat pagi😁,

Phillip Morning Webinar akan live pukul 08.30 WIB. Simak pembahasan pasar dan ikuti sesi tanya jawab teknikal bersama analis kami.

Zoom : bit.ly/PhillipWebinar
Phillip Sekuritas Indonesia

JCI Indication (October 19, 2026)
Bearish
Support: 4,840; Resistance: 5,600


Indeks saham di Asia Senin pagi (19/10) mayoritas dibuka melemah mengikuti pergerekan indeks sahamutama di Wall Street akhir pekan lalu dimana saham-saham yang berkaitan dengan Kecerdasan Buatan (AI) kembali berada di bawah tekanan jual.

Sepanjang minggu lalu, DJIA berhasil naik 0.67% sementara S&P 500 dan NASDAQ masing-masing jatuh 1.95% dan 4.48%.

Minggu lalu, pasar saham di AS diguncang oleh kekhawatiran mengenai suku bunga yang lebih tinggi serta pendanaan berbasis utang di balik lonjakan AI, yang memicu aksi jual pada saham-saham di sektor teknologi.

Investor khawatir bahwa perusahaan infrastruktur AI yang sarat utang mungkin tidak mampu mencetak laba tepat waktu untuk melunasi utang mereka, terutama di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve).

Yang menjadi pusat kekhawatiran adalah sekelompok perusahaan yang disebut neocloud, yang memanfaatkan utang dalam jumlah besar untuk membangun pusat data yang kemudian disewakan kepada perusahaan-perusahaan teknologi.

CoreWeave, perusahaan neocloud yang melantai di bursa pada tahun 2025 dan didukung oleh Nvidia, telah menjadi sumber kecemasan khusus di pasar.

CoreWeave memiliki utang bernilai puluhan miliar dolar dalam neraca keuangannya, yang berasal dari pinjaman untuk mendanai ekspansi usaha. Baru-baru ini, imbal hasil (yield) obligasi CoreWeave melonjak ke tingkat yang mengindikasikan adanya tekanan finansial (financial distress), atau risiko gagal bayar yang lebih tinggi.

Menambah kekhawatiran seputar pendanaan AI, Reuters melaporkan bahwa sejumlah investor Anthropic saat ini maupun calon investor tengah mempertimbangkan valuasi yang lebih rendah bagi perusahaan tersebut dalam penawaran umum perdana (IPO) mendatang.

Di pasar obligasi, yield surat utang Pemerintah AS (US Treasury note) bertenor 10 tahun stabil di 5.08% meskipun data terkini memperlihatkan inflasi baik di level produsen maupun di level konsumen memberi indikasi tekanan kenaikan harga-harga telah meluas hingga ke luar sektor komoditas energi

Di pasar komoditas, harga minyak mentah lompat lebih dari 3% akhir pekan lalu setelah Ukrania kembali membombardir fasilitas minyak di Rusia, sementara sejumlah kapal tanker diserang di Teluk Persia.



News

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) membukukan peningkatan laba bersih sebesar 43.2% menjadi IDR 221.5 miliar di semester I 2026.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menaikkan target pra-penjualan sebesar 42% menjadi IDR 2.95 triliun untuk tahun 2026.

PT Chitose Internasional Tbk (CINT) mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 384% menjadi IDR 11.4 miliar di semester I 2026.


Technical Recommendations (Swing Trading)

ICBP (Sharia): Speculative on the support area
Short Term Trend : Bearish
Medium Term Trend : Bearish
Trading Buy : 6225
Target Price 1 : 6650 (+6.83%)
Target Price 2 : 6950 (+11.65%)
Stop Loss : 5900 (-5.22%)


Ikuti Phillip Morning Webinar setiap hari bursa pukul 08.30 WIB melalui Zoom https://bit.ly/PhillipWebinar
Pembukaan rekening: https://www.poems.co.id/Home/OpenAccount
Disclaimer on | Customer Care: 021-57900900.
www.poems.co.id
❀2
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk – EXCL.IJ
Growth Beyond Integration
Rating: BUY
Target Price: IDR 3,100 (+45.54%)

Key Highlights
EXCL recorded 1H26 revenue growth of 25.7% YoY to IDR 24.0tn, with EBITDA rising 24.6% to IDR 10.97tn. ARPU increased 32% YoY to IDR 46.9k, while merger synergies reached US$153mn, representing 51–61% of its FY26 target.

Growth prospects are supported by 5G expansion and merger synergies, with 92% network integration completed and 5G coverage targeted to reach approximately 101 cities and regencies by end-2026.

We maintain our BUY rating with a target price of IDR 3,100, implying 45.54% upside, supported by synergy realisation and 5G monetisation. Key risks include elevated capex and floating-rate debt exposure.

Full Report: https://www.poems.co.id/research/CF/101626.pdf

Equity Analyst
Edo Ardiansyah | edo@phillip.co.id

Talk to Us. Talk to Phillip.
*Disclaimer on | Customer Care: 021-57900900 www.poems.co.id